Perangkap Politik di Selat Hormuz
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengungkapkan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi prioritas utama Washington dalam negosiasi dengan Iran. Dalam pernyataannya pada Senin (6/4/2026), ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan salah satu konsesi yang diharapkan dari Teheran sebagai bagian dari kesepakatan.
Trump menyampaikan pernyataan ini setelah sebelumnya memberi Iran waktu 48 jam untuk mencapai kesepakatan nuklir atau membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Ia mengingatkan bahwa waktu hampir habis dan “neraka akan menimpa mereka” jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.
Persyaratan Iran untuk Membuka Kembali Selat Hormuz
Sementara itu, Kantor Presiden Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali untuk pelayaran jika pendapatan transit digunakan untuk mengganti kerugian akibat perang. Wakil Bidang Komunikasi dan Informasi Kantor Presiden Iran, Mehdi Tabatabai, dalam pernyataannya di platform media sosial X, menyebutkan bahwa selat tersebut akan dibuka hanya jika sebagian pendapatan transit digunakan untuk mengompensasi seluruh kerusakan akibat perang yang dipaksakan.
Tabatabai juga mengkritik tajam Presiden AS Donald Trump, menuduhnya melontarkan hinaan dan pernyataan tidak masuk akal karena putus asa dan marah. Ia menuduh Trump “memulai perang skala penuh di kawasan dan tetap membanggakannya.”

Tensi Tinggi di Selat Hormuz
Kawasan Selat Hormuz berada dalam kondisi siaga sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari yang dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu Ali Khamenei. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS sebagai bentuk pertahanan diri. Iran kemudian juga membatasi pergerakan kapal melalui Selat Hormuz.
Kapal Tanker Turki Berhasil Melintasi Selat Hormuz
Terbaru, tiga kapal pengangkut minyak mentah milik perusahaan Turki berhasil melintasi Selat Hormuz dengan selamat sejak konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dimulai pada akhir Februari. Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turki, Abdulkadir Uraloglu, menyampaikan hal ini dalam pernyataannya. Ia menjelaskan bahwa kapal milik Turki bernama Ocean Thunder, yang sedang dalam perjalanan membawa minyak mentah dari Irak ke Malaysia, telah berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman sejak tadi malam dan menyelesaikan perjalanannya keluar dari Teluk.
Uraloglu menambahkan otoritas Turki terus memantau situasi di kawasan tersebut sepanjang waktu serta berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri dan lembaga terkait lainnya. Ia juga mengatakan bahwa kapal lain milik perusahaan Turki masih berada di sekitar wilayah selat. Upaya terus dilakukan untuk memastikan evakuasi mereka dapat berlangsung dengan aman.
Sejumlah kapal masih menunggu kesempatan untuk meninggalkan kawasan tersebut, sementara komunikasi dengan awak kapal dilakukan secara terus-menerus. Sebelumnya, otoritas Turki mengatakan sebanyak 15 kapal milik perusahaan Turki berada di kawasan Selat Hormuz, dengan berbagai langkah diambil untuk meminimalkan risiko terhadap pelayaran.

Insiden Kapal Kargo Thailand
Pada 11 Maret 2026, sebuah kapal kargo berbendera Thailand, Mayuree Naree, terbakar setelah terkena rudal Iran di Selat Hormuz. Kejadian ini menunjukkan tingkat risiko yang sangat tinggi bagi kapal-kapal yang melewati wilayah tersebut. Insiden ini memperkuat kekhawatiran tentang keamanan jalur pelayaran internasional di kawasan yang semakin rentan terhadap ancaman militer.











