"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Andrie Yunus Akhirnya Berbicara Usai Jadi Korban Penyiraman Air Keras, Sebut Pelaku Pengecut

Andrie Yunus akhirnya menyampaikan pernyataannya setelah menjadi korban penyiraman air keras. Meski dalam kondisi yang masih memprihatinkan, ia menunjukkan keberaniannya dan mengungkapkan bahwa pelaku aksi tersebut adalah orang-orang yang tidak berani.

Sebagai Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus akhirnya memberikan pernyataan resmi kepada publik setelah mengalami teror yang sangat mengerikan. Meskipun masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, ia menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh banyak pihak melalui rekaman suara.

Hingga saat ini, Andrie masih dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) akibat luka bakar serius yang dialaminya. Ia telah menjalani sejumlah prosedur operasi untuk mengatasi kerusakan pada kulit dan organ mata. Dalam situasi seperti ini, ia mencoba tetap tenang dan kuat.

Dalam pernyataannya, Andrie mengucapkan terima kasih atas semua dukungan yang diberikan selama ini. Ia juga menyebut bahwa pelaku aksi tersebut adalah orang-orang pengecut.


Halo kawan-kawan, terima kasih atas segala bentuk dukungan yang telah diberikan kepada saya untuk menghadapi teror dari orang-orang yang pengecut
,” ujarnya, dikutip dari akun Instagram @kontras_update.

Ia menegaskan bahwa meskipun sedang dalam kondisi sulit, ia akan tetap kuat dan tegar dalam menghadapi tantangan di depan. Ia juga merasa bersyukur karena mendapatkan dukungan besar dari masyarakat.


Saya akan tetap kuat, akan tetap tegar, tentu dengan segala dukungan penuh dari kawan-kawan sekalian
,” tambahnya.

Di akhir pernyataannya, Andrie menyampaikan kalimat dalam bahasa Portugis ‘Aluta continua’ yang berarti “perjuangan terus berlanjut”. Kalimat ini menunjukkan bahwa ia tidak akan berhenti berjuang meskipun menghadapi ancaman yang sangat berbahaya.


Aluta continua, panjang umur perjuangan
,” tutupnya.

Rekaman suara Andrie ini diambil pada Rabu (1/4/2025) dari ruang perawatan intensif HCU di RSCM. Di ruangan tersebut, Andrie tidak diperbolehkan menerima kunjungan dari siapa pun karena alasan keamanan. Baik pasien, keluarga, maupun pihak rumah sakit memastikan bahwa privasi dan ketenangan Andrie tetap terjaga selama masa pemulihan.

Sebelum kejadian penyiraman air keras, Andrie Yunus diketahui telah beberapa kali mendapat ancaman. Salah satunya terjadi pada tanggal 16 Maret 2025 dini hari, ketika tiga orang yang mengaku sebagai wartawan datang ke kantor KontraS. Namun, mereka tidak menyebutkan dari media mana dan tujuan kedatangan mereka.

Selain itu, Andrie juga menerima beberapa panggilan telepon dari nomor tak dikenal. Ia menduga bahwa rangkaian kejadian ini adalah bentuk intimidasi terhadap dirinya dan organisasi yang aktif mengkritik kebijakan pemerintah.

Andrie Yunus merupakan sosok aktivis yang aktif menyuarakan isu-isu seperti pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), reformasi sektor keamanan, serta advokasi bagi korban kekerasan negara. Ia juga sering mengkritik kebijakan pemerintah, termasuk wacana revisi Undang-Undang TNI yang dinilai bisa memperluas peran militer di ranah sipil.

Kejadian penyiraman air keras terjadi pada Kamis (12/3/2026) malam. Saat itu, Andrie sedang mengendarai sepeda motor di kawasan Salemba, Jakarta Pusat. Sebelumnya, ia baru saja selesai merekam siaran di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Menteng, Jakarta.

Dalam video yang beredar, tampak pelaku berboncengan naik sepeda motor dari arah berlawanan. Akibat aksi tersebut, Andrie mengalami luka bakar di bagian mata, wajah, dada, dan tangan. Kerusakan mencapai sekitar 24 persen dari tubuhnya.

Hingga saat ini, Andrie masih menjalani perawatan intensif di RSCM. Ia disebut membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk benar-benar pulih dari luka bakar yang dialaminya.

Hafsha Kamilatunnisa

Hafsha Kamilatunnisa adalah seorang Jurnalis yang mengangkat kisah masyarakat, kegiatan sosial, dan gerakan komunitas. Ia aktif dalam kegiatan sukarelawan, hobi memotret aksi sosial, dan membaca kisah inspiratif. Motto: “Empati adalah kekuatan terbesar penulis.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *