"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Peneliti UGM: AS Kalah dalam Perang Politik, Trump Cari Alasan Berhentikan Konflik dengan Iran

Aksi Protes Besar di Amerika Serikat terhadap Kebijakan Militer Donald Trump

Amerika Serikat kembali menjadi pusat perhatian setelah rakyatnya melakukan aksi protes besar-besaran yang menentang kebijakan militer Presiden Donald Trump. Salah satu isu utama yang disuarakan oleh para demonstran adalah tindakan AS dalam konflik dengan Iran. Protes ini menunjukkan ketidakpuasan masyarakat terhadap arah kebijakan pemerintahan Trump, terutama dalam hal penggunaan kekuatan militer.

Protes “No King” yang Semakin Meningkat

Protes yang dikenal sebagai “No King” telah digelar sebanyak tiga kali, dengan aksi terakhir yang melibatkan sekitar 8 juta orang. Aksi pertama dilakukan pada Juni 2025 dengan partisipasi sekitar 5 juta orang, sementara aksi kedua pada Oktober 2025 diikuti oleh 7 juta orang. Ketiga aksi ini menunjukkan peningkatan jumlah peserta dan semangat demonstran untuk menyuarakan aspirasi mereka.

Menurut Achmad Munjid, peneliti dari Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) UGM, protes ini mencerminkan ketidakpuasan terhadap pemerintahan Trump yang dinilai semaunya sendiri dan sering melanggar konstitusi. Ia menilai bahwa aksi protes ini merupakan bentuk tekanan publik yang sangat berpengaruh terhadap hasil Pemilu Sela November 2026.

Tekanan Publik yang Mengancam Kekuasaan Trump

Munjid mengungkapkan bahwa tekanan publik saat ini bisa memengaruhi hasil Pemilu Sela. Saat ini, ada indikasi kuat bahwa Partai Demokrat akan mengambil alih DPR, meskipun masih belum jelas apakah Senat juga akan diambil alih. Jika hal ini terjadi, kemungkinan besar pemakzulan Trump akan dilakukan, yang dapat membawanya ke pengadilan.

Selain itu, tekanan publik juga berdampak pada citra Trump secara global. Dengan harga minyak yang meningkat dan negara-negara sekutu AS di Teluk yang mulai menyuarakan untuk mengakhiri perang, situasi politik AS semakin sulit.

Kemenangan Militer Tapi Kekalahan Politik

Secara militer, AS dan Israel dianggap unggul karena teknologi dan kemampuan militer yang lebih tinggi dibandingkan Iran. Namun, secara politik, AS dianggap kalah. Hal ini ditunjukkan oleh kenaikan harga BBM di seluruh dunia dan sikap negara-negara sekutu yang ingin mengakhiri konflik.

Trump sendiri dikabarkan sedang mencari cara untuk menghentikan perang. Namun, ia kesulitan karena perang sudah berkobar dan tidak bisa dikendalikan. Menurut Munjid, Trump perlu memiliki alasan bahwa ia sudah menang dalam konflik ini.

Dilema Presiden AS

Presiden AS kini berada dalam dilema untuk menghentikan perang. Awalnya, tujuan serangan AS adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir. Namun, Iran membantah klaim tersebut. Target kemudian berubah menjadi mengubah rezim, tetapi setelah Ali Khamenei meninggal dalam serangan AS, rezim tetap bertahan.

Permintaan Trump agar Iran tidak membiayai kelompok proksi juga ditolak mentah-mentah oleh Iran. Situasi ini membuat Trump dalam posisi terdesak. Biaya perang yang sangat besar dan tekanan publik membuatnya harus mencari alasan untuk menghentikan serangan.

Pendukung Trump Mulai Berubah

Di sisi lain, pendukung Trump kini mulai berkonflik dan mendukung antiperang. Ini menunjukkan bahwa situasi Trump semakin sulit. Biaya yang dikeluarkan sangat besar, sementara Iran belum menunjukkan tanda-tanda bisa dikalahkan. Akhirnya, kemungkinan besar Trump akan mencari alasan untuk menghentikan serangan, meski hanya sebagai alasan politik.


Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *