JAKARTA — Dalam situasi yang semakin memanas akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, berbagai laporan mengungkap kondisi yang mengejutkan terkait personel militer Israel. Menurut informasi yang diperoleh dari sumber-sumber independen, ratusan prajurit Israel mengalami gangguan psikologis berat, termasuk gangguan stres pasca-trauma (PTSD), namun tetap dipanggil untuk bertugas meski masih menjalani proses rehabilitasi.
Banyak dari mereka belum sempat mendapatkan pemeriksaan medis resmi, sebuah proses yang bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun. Tekanan dan ancaman dari komandan membuat sebagian besar dari mereka memilih untuk kembali mengenakan seragam militer, meskipun masih dihantui trauma yang dalam. Bahkan, beberapa komandan mengancam akan menuntut mereka dengan tuduhan desersi jika menolak panggilan tugas tersebut.
Pendekatan ini juga diterapkan terhadap tentara cadangan yang baru saja keluar dari bangsal psikiatri. Laporan dari Haaretz dan al Mayadeen menunjukkan bahwa sejak perang dengan Iran meletus, ada lebih dari 20 kasus serupa yang dilaporkan. Hanya setelah intervensi militer pada beberapa kasus tertentu, perintah penugasan tersebut akhirnya dicabut. Kondisi ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan tenaga militer, hingga para pasien dengan gangguan mental pun tidak luput dari panggilan perang.
Di tengah situasi ini, Gerakan Ansar Allah Yaman (Houthi) kembali meluncurkan serangan rudal dan drone terhadap Israel untuk kedua kalinya dalam sehari. Juru bicara militer Houthi, Brigjen Yahya Saree, menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari “Perang Jihad Suci” dan ditujukan pada sasaran militer di wilayah Palestina selatan yang diduduki. Ia menegaskan bahwa Houthi akan terus melakukan operasi militer dalam beberapa hari mendatang hingga Israel menghentikan agresinya terhadap Iran dan Lebanon.
Sementara itu, pengungsi Palestina generasi ketiga dan profesor tamu ilmu politik di University of Alberta, Ghada Ageel, menyampaikan dukungan penuh kepada rakyat Iran. Dalam opini yang dimuat di Al Jazeera (28 Maret 2026), ia menilai tragedi yang menimpa Iran mencerminkan penderitaan panjang yang dialami rakyat Palestina sejak Nakba hingga kehancuran Gaza. Ageel menekankan bahwa rakyat Iran tidak ingin pergantian penindasan dari satu kekuasaan ke kekuasaan lain. Mereka menolak intervensi asing yang hanya menggantikan bentuk dominasi lama dengan yang baru.
“Kebebasan orang lain sama sekali bukan agenda Barat, terlepas dari retorika publiknya. Imperialisme semacam ini tidak menginginkan kebebasan; ia menginginkan kendali, dominasi, kekuasaan, dan keuntungan,” tulisnya. Ia juga mengingatkan bahwa perang tidak pernah selektif. Bom tidak pandang bulu, dan kehancuran selalu menimpa warga sipil. Ageel menyoroti pola serangan Israel yang serupa antara Gaza dan Iran, termasuk penargetan infrastruktur sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan ruang publik, serta taktik “serangan ganda” yang menyasar tim penyelamat. Menurutnya, strategi ini bukan sekadar menghancurkan fisik, melainkan juga menyebarkan teror psikologis untuk mematahkan semangat masyarakat.
Bagi Ageel, Gaza telah menjadi “laboratorium” bagi strategi militer Israel yang kini meluas ke wilayah lain, termasuk Iran dan Lebanon. Ia memperingatkan bahwa jika pola kekerasan ini terus berlanjut, kawasan Timur Tengah berisiko mengalami kehancuran berkepanjangan, tanpa ruang aman bagi warganya. Dengan mengutip puisi Mahmoud Darwish, Ageel mengingatkan akan harga mahal kehilangan tanah dan masa depan akibat siklus kekerasan yang tak kunjung usai.
Simbol Perlawanan
Sutradara film legendaris Iran, ‘Children of Heaven’, Majid Majidi, menilai Teheran saat ini berada pada posisi simbolis bagi masyarakat tertindas di berbagai belahan dunia, di tengah operasi gabungan yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel. “Hari ini, Republik Islam Iran mewakili semua orang tertindas dan teraniaya di dunia, berdiri menghadapi rezim Israel dan melawan kebijakan hegemonik pemerintah Amerika Serikat,” kata sutradara tersebut melalui pernyataan tertulisnya.
Majidi menggambarkan perang yang berlangsung bukan sekadar konflik militer, melainkan perang antara kebenaran dan kebatilan yang dampaknya dirasakan hingga ke masyarakat sipil. Dia mengatakan garis depan konflik kini tidak hanya berada di medan tempur, melainkan rumah-rumah penduduk, rumah sakit, hingga sekolah anak-anak ikut menjadi bagian dari realitas perang, tempat masyarakat tidak lagi memiliki tempat berlindung selain harapan.
Di tengah tekanan dan kekerasan, Majidi menilai rakyat Iran tetap menunjukkan keteguhan. Dia mengatakan perlawanan terlihat dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari para pemimpin hingga anak-anak sekolah dasar yang menurutnya ikut merasakan dampak situasi. “Terlepas dari semua kekerasan dan tekanan, rakyat Iran tetap berdiri tegak, mulai dari para pemimpinnya hingga anak-anak sekolah dasar yang tidak berdosa. Mereka semua adalah bagian dari narasi perlawanan suatu bangsa yang mau tidak tunduk pada tekanan,” ucap Majidi.
Majidi juga menyinggung keterlibatan kekuatan besar dunia di kawasan Timur Tengah. Ia menilai sejumlah negara berupaya mengubah peta geopolitik wilayah itu demi menguasai sumber daya serta memperluas pengaruh politik. Namun demikian, dia mengemukakan bahwa perlawanan masyarakat Iran menunjukkan bahwa kehendak suatu bangsa dapat menahan kekuatan besar sekalipun.
Majidi meyakini sejarah akan mencatat bahwa tekad, persatuan, dan solidaritas mampu menahan kekuatan besar. Dia juga menyerukan peran kalangan intelektual, penulis, dan seniman dunia. Menurutnya, mereka memiliki tanggung jawab moral untuk tidak diam terhadap penderitaan manusia dan harus membela kebenaran serta martabat manusia melalui seni dan pemikiran. “Hari ini, tanggung jawab moral dan kemanusiaan mereka terhadap penindasan dan ketidakadilan menjadi sangat jelas lebih dari sebelumnya,” ujarnya.
Dia menambahkan bahwa simpati terhadap rakyat Iran muncul dari berbagai negara dan meyakini banyak masyarakat dunia memahami bahwa keinginan bangsa Iran adalah kemerdekaan, martabat, serta perlawanan terhadap penindasan. “Hari ini adalah hari kebangkitan dan kesadaran hati nurani di seluruh dunia, hari ketika orang-orang merdeka berdiri melawan ketidakadilan dan membela martabat manusia,” kata Majidi menutup pesannya.











