Kehidupan di Bantaran Rel Kereta yang Tidak Pernah Terbayang
Chono (56) masih tak percaya bahwa rumah sederhananya di bantaran rel kereta Pasar Gaplok, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat, dikunjungi oleh Presiden Prabowo Subianto. Kedatangan Presiden Prabowo Subianto tiba-tiba ke kawasan pinggir rel tanpa pemberitahuan sebelumnya, didampingi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu membuat warga terkejut sekaligus haru, termasuk Chono.
Detik-Detik Bertemu Presiden
Chono masih mengingat jelas momen ketika ia pertama kali melihat Presiden Prabowo berjalan di atas rel kereta. Saat itu, ia sedang berdiri seperti biasa di sekitar sisa-sisa puing rumahnya yang belum lama ini dibongkar untuk penataan pinggir rel. Tiba-tiba, kerumunan kecil muncul dan seorang pria bertopi yang ia kenali langsung mendekat. Sosok pria bertopi itu tak lain adalah Prabowo. Tanpa berpikir panjang, Chono bergegas menghampiri sang presiden.
Tapi langkah cepat Chono bukan semata untuk menyapa Prabowo, melainkan untuk memastikan keselamatan rombongan dari bahaya kereta yang bisa datang sewaktu-waktu. Ia mengaku langsung berlari karena khawatir Prabowo tidak menyadari risiko jalur kereta yang memiliki tikungan tajam dan jarak pandang terbatas. Bahkan, Chono meminta anak bungsunya, Rendy, untuk berjaga di ujung rel guna mengawasi kemungkinan kereta datang.
Puluhan Tahun Hidup di Bantaran Rel Kereta
Bersama istrinya, Rias Tuti (54), serta dua anaknya, Rizky (25) dan Rendy (21), Chono menetap di bangunan semi permanen sederhana yang berjarak hanya sekitar 2 meter dari rel kereta. Sudah sekitar tiga dekade lamanya ia hidup di sana, menyambung hidup di tengah keterbatasan. Sejak pindah dari kampung halamannya di Comal, Jawa Tengah, Chono memilih menetap di Jakarta setelah menikah dengan perempuan asal Kwitang. Ia kemudian membangun kehidupan baru di kawasan pinggir rel Pasar Gaplok.
Di tempat itulah ia membesarkan anak-anaknya, menjalani hari-hari dengan pekerjaan serabutan. Menurutnya, sebagian besar warga di lokasi tersebut memiliki latar belakang ekonomi yang hampir sama. Mayoritas bekerja sebagai pemulung, sementara sebagian lainnya menjadi buruh bongkar muat atau pekerja bangunan. Penghasilan yang tidak menentu membuat mereka sulit mencari tempat tinggal yang lebih layak.

Chono menyebut, biaya kontrakan di Jakarta kini semakin mahal. Bahkan untuk rumah sederhana berbahan triplek, biaya sewa bisa mencapai ratusan ribu rupiah per bulan. Di kawasan tersebut, diperkirakan terdapat sekitar 30 hingga 40 kepala keluarga yang tinggal berdempetan di sepanjang rel. Mereka hidup dengan kondisi serba terbatas, namun tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan lain.
Janji Rumah Susun Jadi Harapan
Dalam pertemuan singkat itu, Presiden Prabowo sempat berdialog langsung dengan warga. Salah satu hal yang paling diingat Chono adalah pertanyaan mengenai kemungkinan relokasi ke rumah susun. Ia mengatakan, Prabowo menawarkan rencana pembangunan hunian yang lebih layak bagi warga di sepanjang rel. Tanpa ragu, Chono langsung menyatakan kesediaannya untuk pindah jika fasilitas tersebut benar-benar tersedia.

Bagi Chono, memiliki tempat tinggal yang aman dan layak adalah harapan sederhana yang selama ini belum tercapai. Ia tidak menuntut hal berlebihan, hanya ingin keluarganya hidup lebih nyaman tanpa rasa khawatir setiap kali kereta melintas. Ia juga menyebut, seluruh warga di kawasan tersebut pada dasarnya bersedia pindah jika disediakan hunian yang terjangkau.
Bantuan dan Rencana Masa Depan
Selain menyampaikan janji pembangunan hunian, Presiden Prabowo juga memberikan bantuan langsung kepada warga. Chono mengaku menerima uang sebesar Rp 2 juta untuk satu keluarga. Ia berencana memanfaatkan uang itu untuk membeli gerobak, sebagai alat kerja yang dapat membantu meningkatkan penghasilannya sebagai pemulung.
Kunjungan Presiden Prabowo menjadi pengalaman pertama bagi Chono dan warga lain di kawasan tersebut. Selama puluhan tahun tinggal di pinggir rel, ia mengaku belum pernah menerima kunjungan langsung dari pejabat tinggi negara. Kedatangan Presiden Prabowo membuat warga merasa diperhatikan, meski hanya dalam waktu singkat. Kini, setelah kunjungan itu berlalu, ia hanya menunggu kelanjutan dari janji yang telah disampaikan. “Ya harapannya, barangkali saya dibikinin rumah susun, saya mau pindah. Itu aja yang saya minta. Janji beliau aja saya pegang,” kata Chono.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











