"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Opini  

Jangan Biarkan ‘Allahu Akbar’ Hilang dalam Kebisingan Petasan

Perayaan Lebaran yang Lebih Tenang di Bondowoso

Malam takbiran biasanya menjadi momen penuh kegembiraan dengan lantunan Allahu Akbar yang mengalun dari corong masjid dan mushala, memenuhi langit dengan pengagungan yang tulus. Namun selama bertahun-tahun, suara itu sering harus berbagi ruang, bahkan kalah, dengan gelegar petasan yang memekakkan telinga, menyisakan kepulan asap dan serpihan kertas di sepanjang jalan.

Tahun ini, setidaknya di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, ceritanya sedikit berbeda. Lebaran dan petasan sudah lama menjadi dua hal yang seolah tak terpisahkan dalam ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Tradisi menyalakan petasan dan kembang api yang menyertai Idul Fitri diyakini banyak pihak sebagai hasil asimilasi dari budaya masyarakat Tionghoa yang kemudian mengakar dan beranak-pinak dalam ritus perayaan lokal.

Dari generasi ke generasi, kebiasaan itu diwariskan bukan karena kegunaan, melainkan karena keakraban, karena begitulah Lebaran selalu terasa. Namun keakraban itu menyimpan sisi gelap yang tak bisa terus-menerus diabaikan. Persaingan tak kasat mata kerap merasuki suasana perayaan. Masyarakat berlomba-lomba menyalakan petasan dengan daya ledak lebih besar, suara lebih keras, seolah kemeriahan diukur dari seberapa jauh bunyinya terdengar.

Di balik gemuruh yang dianggap meriah itu, tersembunyi duka yang berulang: telinga yang terganggu, jantung yang berdegup kencang karena kaget, hingga nyawa yang melayang, baik dari kalangan konsumen maupun para produsen rumahan yang meracik bahan peledak dengan tangan kosong di ruang-ruang sempit. Ledakan di rumah-rumah produksi petasan bukan berita baru. Dinding-dinding yang runtuh, tubuh-tubuh yang terluka, keluarga yang berduka, semuanya terulang hampir setiap tahun, seperti siklus yang tak kunjung diputus.

Negara telah bersuara. Aparat kepolisian mengeluarkan larangan tegas atas pembuatan dan penyalaan petasan serta kembang api, terutama menjelang dan saat Lebaran. Para ulama pun tidak tinggal diam; fatwa haram atas perbuatan itu telah dikeluarkan, menempatkan tradisi tersebut bukan sekadar berbahaya secara fisik, tetapi juga bermasalah secara moral dan keagamaan. Namun fatwa dan larangan, betapapun tegasnya, tidak serta-merta mampu memadamkan kebiasaan yang telah begitu lama menyatu dalam perasaan.

Malam takbiran tetap bergema dengan bunyi ledakan. Ruas-ruas jalan di sekitar masjid tetap tertutup serpihan kertas sisa petasan. Masyarakat menyikapi larangan itu dengan cara yang berbeda dari bagaimana mereka menyikapi larangan mencuri atau meminum minuman keras, ada jarak antara tahu dan mau berhenti. Perubahan, sebagaimana selalu, datang perlahan. Dan ia sering kali datang bukan dari atas, melainkan dari kesadaran yang tumbuh di dalam.

Bondowoso pada Lebaran 2026 menjadi semacam cermin kecil yang menarik untuk diperhatikan. Di wilayah perkotaan dan sekitarnya, suara petasan terdengar jauh lebih senyap dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ruas-ruas jalan yang biasanya berserakan sampah kertas bekas ledakan, kini tampak lebih bersih. Bukan karena petugas kebersihan yang lebih rajin, melainkan karena sumbernya yang berkurang.

Masyarakat mengaku merasakan perbedaan itu, dan mereka menyukainya. Kaum perempuan, yang selama ini paling sering menanggung beban kekhawatiran: suami yang gemar membuat petasan, anak lelaki yang bermain-main dengan bahan berbahaya, kini menghirup udara Lebaran dengan sedikit lebih lega. Mereka berharap, ini bukan sekadar kebetulan satu tahun, melainkan awal dari perubahan yang bertahan lama.

Bupati Bondowoso, KH Abdul Hamid Wahid atau yang akrab disapa Kiai Hamid, sudah lama menanamkan pesan ini. Dalam berbagai kesempatan, ia mengingatkan masyarakat, melalui tokoh agama dan tokoh masyarakat, bahwa mudarat petasan jauh melampaui manfaatnya. Bukan dengan nada menghakimi, melainkan dengan pendekatan yang mengajak berpikir.

Dalam menyambut Lebaran 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Jabar) menggelar Festival Bedug saat malam takbiran di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (20/3/2026). Para peserta merupakan perwakilan pemerintah kabupaten/kota serta UPTD seluruh Jabar. Tidak hanya kemahiran memukul bedug dan lantunan takbir, para peserta juga berlomba mempercantik boothnya dengan ornamen khas. – (Edi Yusuf)

Kiai Hamid pun menyambut perubahan ini dengan syukur yang tulus. Baginya, berkurangnya kebiasaan bermain petasan bukan hanya soal ketertiban, melainkan indikasi dari sesuatu yang lebih mendasar: meningkatnya kualitas nalar dan kesadaran masyarakat dalam menimbang baik dan buruk sebuah pilihan.

Ada ironi yang halus dalam tradisi ini. Idul Fitri adalah perayaan kemenangan, kemenangan atas hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, melatih kesabaran. Namun petasan, dalam banyak hal, adalah ekspresi yang berlawanan: impulsif, berisiko, sia-sia secara ekonomi, dan kerap merugikan orang lain. Membakar petasan, dalam arti harfiah maupun kiasan, tidak ubahnya membakar uang. Dan uang yang terbakar itu tidak meninggalkan apa-apa selain asap, sampah, dan kemungkinan luka.

Secara ekonomi pun, hukum pasar berlaku sederhana di sini: selama ada yang membeli, akan selalu ada yang memproduksi. Selama permintaan hidup, suplai akan terus mengalir, meski dengan risiko jiwa sekalipun. Maka pintu perubahannya ada di tangan konsumen. Ketika masyarakat berhenti menyalakan, produsen pada akhirnya akan berhenti meracik.

Lebaran yang damai bukan Lebaran yang sepi. Ia tetap penuh, penuh pelukan, penuh maaf yang tulus, penuh meja makan yang hangat dan percakapan yang mengalir sampai larut. Yang berbeda hanyalah: gemuruh yang mengisi udara itu bukan lagi ledakan yang mengejutkan, melainkan gema takbir yang mengagungkan.

Gema Allahu Akbar tidak lagi harus bersaing dengan suara yang bising dan berbahaya. Para orang tua tidak lagi harus menahan napas setiap kali anak-anaknya menghilang ke ujung gang. Dan kaum perempuan bisa menikmati malam perayaan tanpa bayang-bayang kekhawatiran yang selama ini tak kasat mata namun nyata. Bondowoso, dengan segala kesederhanaannya, sedang menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin. Bahwa Lebaran bisa lebih bermakna justru ketika ia lebih sunyi dari gelegar, dan lebih penuh dengan ketenangan yang sesungguhnya.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *