Kemampuan Militer Baru Iran dalam Konflik dengan AS dan Israel
Iran telah menunjukkan kemampuan militer baru dalam konflik yang sedang berlangsung melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Dalam beberapa minggu terakhir, negara ini mulai memperkenalkan teknologi dan senjata yang sebelumnya belum pernah digunakan dalam konflik tersebut. Strategi yang digunakan oleh Iran mencakup penggunaan rudal jarak jauh dan drone canggih untuk menghadapi musuh.
Strategi Perang Intensitas Rendah
Salah satu strategi utama yang diterapkan oleh Iran adalah “perang intensitas rendah yang dipertahankan” (low intensity preserving warfare). Tujuan dari strategi ini adalah untuk melelahkan kekuatan AS, Israel, dan sekutu Teluk secara perlahan sambil menunggu momen yang tepat untuk melakukan serangan besar. Dengan demikian, Iran berusaha menguras sumber daya lawannya sebelum melancarkan serangan yang lebih efektif.
Penggunaan Rudal Jarak Jauh dan Drone Canggih
Serangan rudal ke pangkalan militer gabungan AS-Inggris di Diego Garcia menjadi bukti nyata lonjakan kemampuan militer Iran. Rudal yang ditembakkan diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 2.400 mil (lebih dari 3.800 kilometer), jauh melampaui perkiraan sebelumnya terhadap kemampuan Iran. Selain itu, militer Iran juga menggunakan rudal balistik jarak menengah baru bernama Haj Qasem, yang membawa hulu ledak seberat setengah ton.
Rudal Khorramshahr-4, yang merupakan senjata paling kuat Iran, kini digunakan dalam jumlah lebih besar dalam serangan-serangan terbaru. Meskipun Iran mengalami kerugian besar dari serangan udara gabungan AS-Israel, para pejabat tetap menunjukkan sikap percaya diri dan bahkan mengancam akan meningkatkan eskalasi.
Ancaman di Selat Hormuz
Iran terus memperluas penggunaan rudal permukaan-ke-permukaan dalam konflik ini. Salah satu perkembangan paling mencolok adalah klaim keberhasilan serangan yang mengenai jet tempur siluman F-35 milik AS. Militer AS mengonfirmasi pesawat tersebut mengalami kerusakan namun berhasil melakukan pendaratan darurat, dengan pilot dalam kondisi stabil.
Di sisi lain, Iran juga telah menguji kendaraan peluncur luar angkasa seperti Simorgh dan Zuljanah. Para analis AS meyakini teknologi ini dapat dimodifikasi menjadi rudal balistik jarak jauh dengan jangkauan lebih dari 2.500 mil. Iran juga diketahui memiliki stok besar rudal jelajah, termasuk varian anti-kapal yang berpotensi sangat efektif dalam pertempuran laut jarak dekat, terutama jika kapal perang mencoba menembus blokade di Selat Hormuz.
Drone Generasi Baru
Iran juga disebut belum sepenuhnya mengerahkan sejumlah drone canggih yang dimilikinya. Selain drone “pekerja keras” Shahed-136, Iran telah mengembangkan penerusnya, Shahed-238, yang menggunakan mesin jet sehingga lebih cepat dan lebih sulit dicegat. Menurut Sabet, ada pula tiga model drone lain yang terungkap dalam peretasan data tahun 2024, yang berpotensi dikerahkan dalam konflik ini.
Milisi Sekutu dan Jaringan Agen Global
Para analis Timur Tengah mempertanyakan mengapa kelompok Houthi di Yaman, sekutu dekat Iran, belum ikut terlibat langsung dalam konflik ini. Namun situasi itu bisa berubah kapan saja. Pemimpin Houthi, Abdul Malik al-Houthi, telah memperingatkan bahwa mereka siap bertindak. Peneliti dari International Crisis Group juga melaporkan adanya tanda-tanda persiapan militer.
Selain itu, Iran juga bisa meningkatkan eskalasi melalui milisi di Irak, meski beberapa kelompok kuat seperti Kataib Hezbollah telah dilemahkan oleh serangan AS. Jaringan agen global Iran juga diyakini dapat diaktifkan untuk operasi rahasia. Dalam beberapa tahun terakhir, polisi Inggris mengklaim berhasil menggagalkan puluhan rencana serangan yang dikaitkan dengan Teheran.
Ancaman Tersembunyi
Pakar kontra-terorisme dari The Soufan Group, Colin Clarke, menyebut bahwa Iran bisa mulai “mengoperasionalkan” jaringan ini seiring meningkatnya eskalasi konflik. Ia memperingatkan potensi serangan terhadap target lunak seperti kedutaan, institusi budaya, atau simbol-simbol Amerika, Israel, dan Yahudi. Sementara itu, Krieg menambahkan bahwa aset Iran juga bisa diaktifkan di negara-negara seperti Inggris untuk melakukan serangan terhadap target AS dan Israel, meski ia menilai tingkat ancaman saat ini masih rendah, namun tidak bisa diabaikan.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











