"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Turki Ingatkan AS-Israel Jangan Picu Perang Saudara di Iran



ANKARA – Turki menyerukan kepada Amerika Serikat (AS) dan Zionis Israel untuk tidak memperburuk agresi militer terhadap Republik Islam Iran dengan upaya menciptakan perang saudara di negara tersebut. Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menegaskan bahwa segala upaya untuk menggulingkan pemerintahan Para Mullah di Teheran melalui provokasi perang saudara kesukuan atau agama akan membuat kawasan Timur Tengah semakin destabilisasi.

Fidan menyampaikan pernyataan tegas ini saat berada dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul di Ankara. Kedua menteri membahas berbagai isu, termasuk mencari solusi untuk menghentikan konflik antara AS-Zionis dengan Iran yang telah berlangsung selama 13 hari. Fidan menekankan pentingnya komunitas internasional untuk turut ambil bagian dalam diplomasi guna menghentikan peperangan tersebut.

Turki sejak awal menilai serangan yang dilakukan oleh AS-Zionis terhadap Iran sebagai pelanggaran hukum internasional. Namun, Turki juga menyayangkan aksi pembalasan dari militer Iran yang berdampak langsung pada wilayah negara-negara Teluk Arab. “Tindakan provokasi perang dan serangan terhadap Iran tidak adil dan melanggar hukum. Tetapi serangan Iran terhadap negara-negara Teluk (Arab), juga sama salahnya,” ujar Fidan.

Turki secara berkali-kali mengimbau AS-Israel dan Iran untuk menghentikan perang dan berunding menuju perdamaian. Namun, Fidan menilai munculnya beberapa skenario atas ambisi AS-Zionis yang belum berhasil dalam menumbangkan pemerintahan di Teheran. Di antaranya adalah pemanfaatan sentimen kesukuan atau pemahaman agama sebagai alat untuk memicu pemberontakan sipil.

“Kami sepenuhnya akan sangat menentang rencana dari siapapun yang bertujuan untuk memprovokasi perang saudara di Iran dan memicu konflik etnis atau agama untuk mencapai tujuan,” kata Fidan. Ia menambahkan, “Tidak boleh ada masalah apapun dalam integritas teritorial Iran, dan tujuan seperti perubahan rezim melalui cara-cara provokasi etnis dan agama tidak boleh dilakukan. Kawasan ini harus kembali normal dengan segera.”

Perang antara Zionis-AS dengan Iran sudah memasuki hari ke-13 pada Kamis (12/3/2026). Serangan AS-Zionis yang dimulai pada Sabtu (28/2/2026) hingga kini telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei yang syahid bersama isteri, anak, menantu, dan cucunya pada serangan Zionis-AS pertama. Serangan juga menewaskan 160 anak sekolah perempuan, sementara korban luka-luka tercatat mencapai 10 ribu orang.

Iran yang sejak awal mendapatkan serangan itu tetap bertahan dan melakukan perlawanan balasan dengan menyerang wilayah-wilayah penjajahan Zionis Israel di Palestina. Militer Iran juga menyerang pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di negara-negara Teluk Arab, seperti Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirate Arab, Arab Saudi, Yordania, dan Irak. Perang semakin meluas setelah faksi bersenjata Hizbullah di Lebanon ikut membantu Iran menyerang Israel. Penjajah Zionis juga turut membombardir Lebanon sampai ke pusat ibu kota di Beirut.

Hingga hari ke-13 peperangan itu, Zionis-AS belum melakukan pengerahan pasukan darat untuk masuk ke Iran. Presiden AS Donald Trump dalam beberapa kali kesempatan menyampaikan bahwa ia tidak akan mengerahkan pasukan daratnya untuk masuk ke wilayah dan melanjutkan peperangan dengan Iran. Padahal sebelum hari pertama peperangan, AS sudah memobilisasi prajurit-prajurit tempurnya sebanyak 50 ribu personel ke kawasan Timur Tengah. Israel pun belum melakukan serangan darat masuk ke Iran, meskipun militer zionis masuk ke wilayah Lebanon dengan melakukan kontak tembak dengan Hizbullah.

Akan tetapi, belakangan sempat muncul skenario dari AS yang mengerahkan Badan Intelijen Luar Negeri (CIA) untuk melobi kelompok bersenjata Suku Kurdi untuk masuk ke wilayah Iran melakukan serangan darat. CIA melobi kelompok bersenjata Suku Kurdi yang berbasis di wilayah Iran, maupun yang berada di wilayah berbatasan dengan Irak. Suku Kurdi di Iran merupakan kelompok minoritas yang selama ini dicap sebagai oposisi oleh militer Iran. Dan Suku Kurdi di Irak, merupakan faksi bersenjata yang memiliki catatan kelam dengan militer Iran.

AS memprovokasi kelompok bersenjata Suku Kurdi di Iran dan Irak untuk menggulingkan pemerintahan di Teheran. Dan Zionis juga mengandalkan Suku Kurdi dengan harapan terwujud wilayah baru bagi Israel di Iran. Dan Suku Kurdi sendiri berpuluh-puluh tahun menghendaki pembentukan negara Kurdistan yang terbentang dari sebagian wilayah Iran, Irak, sampai ke wilayah perbatasan antara Suriah dan Turki.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *