"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Gubernur Bakal Bongkar Bangunan di Sempadan Sungai Sabbeng

Langkah Pemerintah Daerah untuk Mengatasi Banjir di Makassar

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman (42), mengungkapkan rencana untuk membongkar bangunan yang berada di sempadan Sungai Sabbeng, Kecamatan Manggala, Makassar. Ia menegaskan bahwa tidak ada toleransi terhadap penghambat aliran air, karena ini berkaitan dengan keselamatan dan kepentingan masyarakat luas.

“Kami sangat serius dalam normalisasi sungai. Ini penting untuk mencegah banjir yang setiap tahun merendam Kelurahan Antang dan sekitarnya,” ujar Andi Sudi saat hadir dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Makassar 2027 di Hotel Claro, Jl AP Pettarani, Makassar.

Wali Kota Makassar, Munafri ‘Appi’ Arifuddin (50), menyatakan bahwa pihaknya telah memiliki kajian untuk menangani banjir di Kota Makassar. Ia menggandeng akademisi Unhas, namun tetap memperkuat kolaborasi lintas sektor, termasuk berkoordinasi dengan Pemprov Sulsel.

“Kajian ini akan kita dudukkan bersama-sama untuk memanggil dan mengajak seluruh pihak berkepentingan,” katanya.

Andi Sudi menjelaskan bahwa lebar Sungai Sabbeng yang semula mencapai 20 hingga 30 meter kini hanya tersisa sekitar 1,5 meter di beberapa titik. Hal ini menyebabkan aliran air terhambat saat hujan deras. Ia menekankan bahwa hal tersebut harus segera dibuka kembali tanpa kompromi.

Ia juga memerintahkan Satpol PP Kota dan Provinsi untuk menertibkan bangunan penghambat aliran sungai, sambil tetap mempertimbangkan kondisi sosial warga di sekitar sempadan. Selain itu, ia menyoroti infrastruktur lain yang tidak proporsional, seperti jembatan dengan box culvert yang mempersempit aliran sungai, dan menegaskan perlunya perbaikan pintu air secara menyeluruh.

Normalisasi Sungai Sabbeng

Sungai Sabbeng, kata Andi Sudi, berada dalam kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Meskipun rencana pengerukan sudah dianggarkan, terkendala tuntutan ganti rugi dari warga yang bermukim di sempadan sungai. Menurutnya, secara aturan, bangunan di sempadan sungai tidak bisa diganti rugi.

“Secara aturan, sempadan sungai tidak bisa diganti rugi. Tapi begitu ditertibkan, masuk perkara. Ini yang membuat pemerintah sering serba salah,” ujarnya.

Selain persoalan bangunan di bantaran sungai, Andi Sudi juga menemukan masalah infrastruktur yang tidak terawat. Sejumlah pintu air dalam kondisi rusak sehingga tidak berfungsi optimal saat debit air meningkat. Persoalan tersebut juga dipengaruhi oleh pembagian kewenangan antara Balai Sungai dan Pemerintah Provinsi yang berbeda.

“Pintunya rusak, tapi kewenangannya beda. Ini bertahun-tahun baru ketahui,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Sungai Sabbeng sebenarnya memiliki jalur bypass yang bisa diatur melalui sistem buka-tutup pintu air. Ke depan, Pemprov berencana menempatkan pompa untuk membantu mengendalikan debit air saat terjadi hujan ekstrem.

Infrastruktur di Kawasan Paccerakkang

Selain Sungai Sabbeng, Andi Sudi juga menyoroti kondisi infrastruktur di kawasan Paccerakkang. Di lokasi tersebut, ia menemukan jembatan dengan struktur box culvert ganda yang tidak sebanding dengan lebar sungai.

“Sungainya besar, tapi di bawah jembatan hanya dua box culvert. Itu mungkin cuma 20 persen dari lebar sungai. Pasti banjir,” katanya.

Meski menjadi kewenangan provinsi, ia memerintahkan agar dilakukan pergeseran anggaran untuk membongkar struktur itu. Rencananya, jembatan tersebut akan diganti dengan jembatan rangka yang lebih terbuka agar aliran air tidak terhambat. Namun, Andi Sudi mengakui pergeseran anggaran di tengah tahun bukan perkara mudah secara administratif.

Solusi Jangka Panjang: Waduk Manggala

Ketua DPRD Makassar, Supratman, mengusulkan pembangunan waduk sebagai salah satu solusi mengatasi banjir di Kecamatan Manggala, wilayah timur kota. Menurutnya, kawasan Blok 8 dan 10 Perumnas Antang selama ini menjadi daerah langganan banjir dan genangan air setiap tahun.

Usulan pembangunan waduk disampaikan Supratman usai menghadiri Musrenbang RKPD Pemkot Makassar 2027 di Hotel Claro. Ia menjelaskan terdapat lahan potensial bisa dimanfaatkan mendukung pembangunan waduk atau kolam retensi di kawasan tersebut.

“Saya pengennya ada waduk yang ada di samping Blok 10. Sekira 40 hektar ada di sana,” kata Supratman.

Secara karakteristik, air akan selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Karena itu, lahan rendah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai waduk penampung sementara saat debit air meningkat. Langkah ini dinilai menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan banjir yang selama ini menjadi masalah klasik di wilayah Manggala.

Penyempitan Aliran Air dan Dampaknya

Supratman mengakui sebagian besar lahan dimaksud merupakan milik masyarakat. Namun menurutnya, lahan tersebut selama ini juga tidak dimanfaatkan secara maksimal karena kerap terdampak banjir.

“Rerata sawah masyarakat yang tidak bisa dimaksimalkan karena memang tanah banjir. Jadi kenapa tidak kita jadikan waduk saja,” katanya.

Ia juga menanggapi paparan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman dalam forum tersebut. Menurutnya, sejumlah poin disampaikan gubernur sudah cukup komprehensif, terutama menyentuh persoalan mendasar di Manggala seperti banjir dan pengelolaan persampahan.

“Hampir separuh disampaikan Pak Gubernur menyangkut pengembangan dan penyelesaian masalah klasik di Manggala, mulai dari banjir, persampahan, dan lain sebagainya. Saya pikir ini sudah cukup komplit,” ujarnya.

Supratman mendukung rencana pelebaran sungai serta penataan jembatan yang dinilai menjadi titik penyempitan aliran air. Jika pelebaran sungai dan penyesuaian bentang jembatan di wilayah perbatasan Maros dan Makassar dapat direalisasikan, maka dampak banjir di Manggala akan jauh berkurang.

Ia menjelaskan aliran air dari kawasan Manggala pada dasarnya mengarah ke wilayah Moncongloe dan bermuara ke Sungai Tallo. Namun ketika terjadi penyempitan atau hambatan di beberapa titik, air tidak mengalir dengan lancar sehingga meluap dan menggenangi permukiman warga.

“Kalau itu terselesaikan, saya pikir banjir di Manggala tidak separah lagi seperti kemarin-kemarin. Karena alirannya akan langsung masuk ke Sungai Moncongloe, tembus ke Sungai Tallo,” jelasnya.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *