Presiden Prabowo Subianto Undang Ulama untuk Bahas Kebijakan Geopolitik
Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah penting dengan mengundang sejumlah ulama terkemuka ke Istana Negara. Pertemuan ini dilakukan dalam rangka menjelaskan strategi pemerintah dalam menghadapi dinamika geopolitik global, khususnya terkait konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel.
Selama lebih dari empat jam, Presiden Prabowo membahas berbagai isu yang menjadi perhatian masyarakat, termasuk alasan Indonesia bergabung dengan Board of Peace (BoP), sebuah badan internasional yang dibentuk oleh mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam pertemuan tersebut, ia menjelaskan bahwa kebijakan ini adalah bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.
Alasan Indonesia Bergabung dengan Board of Peace
Beberapa waktu terakhir, situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memanas, terutama karena ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel. Di tengah situasi ini, Indonesia dianggap memiliki peran penting sebagai negara yang dapat menjadi mediator dalam menciptakan perdamaian.
Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia bersedia menjadi pihak penengah dalam konflik tersebut. Ia bahkan menyampaikan kesediaannya untuk bertolak ke Teheran guna membantu proses dialog damai antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, kebijakan ini juga mendapat berbagai tanggapan dari masyarakat, baik dukungan maupun kritik.
Salah satu pandangan kritis disampaikan oleh mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit. Menurutnya, kemungkinan besar pemerintah Iran tidak akan sepenuhnya menerima Indonesia sebagai mediator. Hal ini dikarenakan Indonesia saat ini tercatat sebagai anggota BoP, yang dibentuk oleh mantan Presiden Amerika Serikat. Keterlibatan Indonesia dalam organisasi tersebut dinilai bisa memengaruhi persepsi Iran terhadap netralitas Indonesia.
Penjelasan Presiden kepada Ulama Terkemuka
Untuk menjelaskan kebijakan ini, Presiden Prabowo mengundang perwakilan dari 85 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam. Dalam pertemuan tersebut, ia membahas situasi geopolitik Timur Tengah yang kian memanas, serta alasan Indonesia harus berada di dalam “lingkaran dalam” sistem perdamaian dunia melalui BoP.
Mantan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj, mengakui awalnya ia meragukan langkah yang ditempuh Presiden Prabowo. Namun, setelah mendengar paparan mendalam dari Presiden, ia merasa lega. Menurut Kiai Said, keterlibatan Indonesia dalam BoP adalah upaya taktis memperjuangkan kemerdekaan Palestina secara langsung dari dalam sistem internasional.
“Tadinya saya agak tidak paham. Setelah Presiden menjelaskan, saya mengerti. Beliau ingin berbuat dari dalam. Targetnya jelas, berdirinya dua negara yang damai, Palestina-Israel, yang saling menghargai,” ujar Said Aqil.
Ia juga menyampaikan bahwa jika misi perdamaian ini tidak tercapai, Presiden akan mengundurkan diri dari BoP. “Saya sampaikan, insya Allah saya di belakang Bapak,” tegasnya.

Pandangan Ustaz Adi Hidayat
Senada dengan Kiai Said, Ustaz Adi Hidayat (UAH) menilai langkah Prabowo sebagai bentuk implementasi kaidah fikih politik demi kemaslahatan umat. Ia menekankan bahwa dalam kancah geopolitik, Indonesia harus piawai mengambil posisi tanpa menambah lawan.
“Prinsipnya, seribu kawan itu kurang, satu musuh itu kebanyakan. Pak Prabowo mengambil sikap itu supaya kita tahu alasannya (reason), dan alasannya cuma satu: untuk kemaslahatan dan persahabatan bangsa-bangsa,” jelas UAH.
UAH juga mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif terhadap kebijakan pemerintah bergabung dengan BoP. Ia memandang langkah ini sebagai strategi memosisikan Indonesia agar memiliki daya tawar ekonomi dan politik yang kuat di mata dunia.
“Ini adalah jalan tengah bagi rakyat. Kita harus melihatnya secara taktis untuk kemaslahatan banyak umat, sehingga Indonesia bisa berperan lebih aktif di kancah internasional tanpa harus terjebak dalam konfrontasi yang merugikan,” pungkas UAH.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











