Teguran Keras Wakil Bupati TTU terhadap Petugas Program MBG
Wakil Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Kamilus Elu, S.H., memberikan peringatan tajam kepada seluruh petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang bertugas di wilayah Kabupaten TTU. Teguran ini diberikan lantaran adanya kasus keracunan dan makanan berulat yang ditemukan dalam menu Makanan Bergizi (MBG) yang disajikan oleh beberapa dapur MBG di TTU.
Kamilus Elu, yang juga menjabat sebagai Ketua Satgas Program MBG di Kabupaten TTU, menyatakan bahwa banyaknya kasus keracunan dan temuan makanan berulat mengindikasikan bahwa para koordinator SPPG dan SPPI tidak serius dalam menjalankan pengawasan terhadap program tersebut. Ia merasa kecewa karena beberapa poin kesepakatan yang telah ditetapkan dalam pertemuan pada Januari 2026 lalu tidak dilaksanakan oleh pengelola dapur MBG.
Pada pertemuan tersebut, disepakati bahwa setiap dapur MBG wajib membeli bahan baku segar, termasuk telur, ayam, sayur, dan beras dari para petani atau pedagang di Kabupaten TTU. Namun, menurut Kamilus, hingga saat ini, ayam yang digunakan di dapur MBG masih berupa ayam beku yang datang dari luar TTU. Ia menyampaikan keherannya terhadap hal ini, karena tidak diketahui kapan ayam tersebut disembelih dan dengan bahan pengawet apa mereka diawetkan.
“Apakah ayam-ayam itu disuntik formalin? Dengan kebodohan para pengelola dapur MBG, mereka membelinya dan memberikannya kepada anak-anak kita. Ada ayam kemudian berulat diberikan kepada anak-anak. Ini adalah pembunuhan terhadap generasi kita. Apa yang bergizi di situ?” tanya Kamilus Elu saat menghadiri rapat koordinasi terkait program MBG di Aula lantai 2 Kantor Bupati TTU, Senin 2 Maret 2026.
Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat telah menggelontorkan anggaran besar untuk program MBG, termasuk membayar mahal para petugas SPPI dan SPPG agar bekerja serius membantu pemerintah daerah dalam mencerdaskan anak-anak bangsa di TTU. Namun, ia menilai bahwa sebaliknya, para pengelola program ini justru membunuh mental dan karakter anak-anak dengan menyajikan makanan basi dan berulat.
“Anak-anak TTU harus mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi, bukan makanan basi dan berulat. Beberapa kasus keracunan dan penyajian makanan berulat melalui program MBG di TTU tidak bisa diterima. Ini pembunuhan terhadap masa depan anak-anak,” ujarnya.
Kamilus juga menyebutkan bahwa setiap dapur MBG sudah dilengkapi dengan ahli gizi. Oleh karena itu, ia menilai kasus keracunan dan makanan berulat tidak seharusnya terjadi. Ia mempertanyakan pekerjaan para ahli gizi tersebut.
“Ini pertontonan yang aneh. Setiap dapur MBG itu ada Ahli gizi. Tapi kenapa masih ada kasus keracunan dan ada makanan berulat. Itu ahli gizi kerjanya apa aja. Jangan buat program ini jadinya tidak masuk akal di TTU,” ucap Kamilus.
Ia mengingatkan bahwa generasi yang mendapatkan MBG saat ini adalah generasi yang sedang dipersiapkan untuk menghadapi Indonesia emas di tahun 2045. Jika generasi ini mulai diracuni pikiran dan tubuhnya dengan makanan basi dan berulat, maka generasi ini akan hancur.
“Saya ingatkan sekali lagi kepada para koordinator SPPG dan SPPI agar jangan lengah terkait pengawasan terhadap program MBG. Kejadian terbaru seperti kasus makanan berulat yang disajikan kepada siswa/siswi di SMKN 1 Kefamenanu harus dijadikan sebagai pelajaran berharga untuk bekerja lebih serius dan bertanggung jawab. Kalian (SPPG dan SPPI) adalah perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah. Kalian dibayar mahal oleh Negara untuk memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak bangsa. Bukan sebaliknya,” tutup Kamilus.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











