"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Ahli ungkap kemungkinan negara Timur Tengah lawan Iran

Potensi Negara-negara Timur Tengah dalam Perang terhadap Iran

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana, menyatakan bahwa potensi negara-negara di kawasan Timur Tengah untuk ikut serta dalam perang melawan Iran cukup besar. Menurutnya, serangan balasan dari Iran tidak hanya menargetkan pangkalan Amerika Serikat (AS) tetapi juga mengenai berbagai lokasi lain, seperti bandara. Akibat serangan-serangan tersebut, kehidupan masyarakat yang terdampak menjadi sangat sulit, bahkan banyak penerbangan yang ditunda.

Hikmahanto menjelaskan bahwa kemungkinan besar negara-negara di kawasan ingin segera mengakhiri konflik ini dengan mengalahkan Iran, bekerja sama dengan AS dan Israel. Hal ini disampaikan oleh Hikmahanto dalam program On Focus yang tayang di YouTube Tribunnews, Senin (2/3/2026).

Salah satu tempat yang terkena serangan rudal dari Iran adalah Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Akibat serangan drone, satu orang dilaporkan tewas dan tujuh lainnya mengalami luka-luka.

Israel Ingin Pergantian Rezim di Iran

Lebih lanjut, Hikmahanto menilai bahwa serangan ke Iran lebih dahulu diinisiasi oleh Israel, bukan AS. Ia menyebut bahwa Israel ingin adanya pergantian rezim di Iran dan mendesak Presiden AS Donald Trump untuk melakukan serangan. Meski awalnya Trump mungkin tidak mau, akhirnya ia terbuai oleh tekanan Israel.

“Keinginan dari Israel untuk terjadinya pergantian kepemimpinan di Iran itu mendesak Trump untuk melakukan serangan yang sebenarnya Trump mungkin awalnya tidak mau, tapi akhirnya terbuai juga. Kemudian Israel yang diminta untuk menyerang dulu, kemudian Amerika Serikat,” ucap Hikmahanto.

Menurutnya, banyak warga AS yang menilai bahwa serangan tersebut merupakan kepentingan Israel untuk memiliki hegemoni di kawasan Timur Tengah. Israel menghendaki negara-negara di kawasan tidak bermusuhan dengannya. “Nah, kita tahu mungkin di antara negara-negara Timur Tengah yang saat ini bermusuhan (dengan Israel) itu Iran, Afghanistan.”

“Tapi Afghanistan kan tidak mempunyai kemampuan seperti Iran sehingga dia ingin bahwa Iran lah terjadi pergantian kepemimpinan,” tutur Hikmahanto.

MUI Kecam Serangan AS

Sementara itu, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, mengecam keras serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Dia menilai, langkah tersebut sebagai tindakan yang merusak upaya perdamaian global. Menurut Sudarnoto, serangan tersebut menunjukkan bahwa Trump tidak memiliki komitmen terhadap perdamaian dunia.

“Serangan Amerika-Israel terhadap Iran memberikan bukti kasat mata bahwa Trump, baik sebagai presiden maupun chairman Board of Peace, bukanlah sosok yang mempunyai kepedulian untuk menciptakan perdamaian. Dia justru perusak brutal perdamaian,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa.

Ia juga menilai, Board of Peace (BoP) yang dipimpin Trump tidak bisa dipercaya sebagai lembaga yang berorientasi pada perdamaian. Sudarnoto menyebut, keberadaan BoP hanya kamuflase bermotif imperialistik. “BoP sudah runtuh secara moral dan kehilangan legitimasinya,” katanya.

Kritik terhadap Keanggotaan Indonesia di Board of Peace

Dalam konteks tersebut, Sudarnoto meminta Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan kembali posisi Indonesia sebagai anggota BoP. Dia bahkan mendorong agar negara-negara Muslim mengambil sikap serupa. “Hemat saya, Presiden Prabowo perlu memperhitungkan kembali keberadaan Indonesia sebagai anggota BoP. Sikap yang sama seharusnya juga dilakukan negara-negara Muslim lainnya,” katanya.

Ia menilai BoP tidak efektif dalam menciptakan perdamaian maupun memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Karena itu, Sudarnoto menyerukan persatuan negara-negara Muslim agar tidak terpecah belah oleh kepentingan imperialisme Amerika dan Israel.

Meski demikian, Sudarnoto menekankan bahwa langkah Indonesia harus tetap ditempuh secara diplomatik dan terukur. Ia mengingatkan pentingnya menjaga kepentingan nasional (national interest) dalam setiap kebijakan luar negeri. “Indonesia berkewajiban ikut menciptakan perdamaian dunia sebagaimana amanah Pembukaan UUD 1945. Sikap proaktif penting, tetapi harus dilakukan dengan langkah diplomatik dan sangat terukur serta persuasif, dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional kita,” ujarnya.

Ia juga menyatakan seluruh elemen masyarakat dan kekuatan masyarakat sipil Indonesia akan mendukung Presiden jika memutuskan mundur dari BoP. Menurutnya, langkah tersebut merupakan pilihan terhormat yang bisa membuka peluang baru bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian sejati dan ketertiban dunia.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *