Tatanan Dunia Baru dan Kekacauan Hukum Internasional
Dunia saat ini sedang menghadapi perubahan besar-besaran yang disebut sebagai tatanan baru. Dalam konteks ini, istilah ‘utopia’ sering digunakan untuk menggambarkan harapan akan dunia yang lebih baik, meskipun dalam kenyataannya, kekacauan hukum internasional masih terjadi. Hipotesis konspirasi muncul dalam bentuk ‘euphemisme Unipolar’, yang sebenarnya berwujud totaliter diam-diam. Hal ini merusak konvensi suci pasca Perang Dunia II.
Beberapa negara seperti Venezuela, Iran, dan Gaza menjadi contoh nyata bagaimana kekuatan konspirasi dan Unipolar merusak seluruh pranata yang telah disepakati bersama. Keberpihakan Unipolar dan dominasi satu kutub menjadikan pihak yang ingin menyelesaikan konflik berdasarkan hukum tertahan. Totaliter “tersembunyi” membuat hukum internasional tanpa gigi. Keputusan Dewan Keamanan (DK), Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), Bantuan PBB, status wilayah pendudukan, tidak dapat dieksekusi. Pelanggaran tak bisa ditindak.
Dunia kini tampaknya menuju pemerintahan satu dunia. Kasat mata, posisi negara bangsa (nation state) yang berdaulat semakin terancam. Lewat Venezuela, Iran, dan Gaza yang ditindak sebagai satu kewajaran (norma), dibuatlah plot totalitarian yang dibungkus berbagai varian argumen yang ‘soft’. Namun, tetap saja tidak seimbang.
Kunci Pemain Geopolitik Saat Ini
Ketidakseimbangan geopolitik saat ini diperankan oleh dua pemain kunci yang saling menopang. Amerika Serikat (AS) merupakan satu-satunya negara yang mendominasi tatanan militer, politik, dan ekonomi, tanpa lawan. Sementara itu, Israel berperan sebagai semi proksi. Kematian 72.000 warga Gaza sesungguhnya bisa diminimalisir, tidak sampai seperempatnya. AS memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk norma, aturan, dan kebijakan lembaga global (PBB, NATO, dan IMF), sehingga mestinya bisa melerai sejak dini.
Ketiadaan penyeimbang (No Peer Competitor) dalam perang Israel-Hamas (Gaza), membuat AS terjebak dalam pembelaan tidak win win, berhimpitan dengan posisional dan emosional Israel yang merasa diserang lebih dulu. Argumen clinic-nya, membela diri!
Peran AIPAC dan Pengaruh Politik di AS
Dalam dunia yang dipenuhi iming-iming, AS sesungguhnya dapat memperingatkan perilaku luar batas Israel. Meskipun Trump menyadari kuatnya Kongres Yahudi di AS: American Israel Public Affairs (AIPAC), menghormati PBB satu keharusan. AS berperan melahirkan PBB. AIPAC berperan penting melakukan lobi untuk kepentingan Israel di pemerintahan AS. Hampir setiap Presiden AS yang terpilih berkelindan dengan AIPAC. Lembaga ini mendanai kampanye politik, serta mempengaruhi kebijakan luar negeri AS.
Peran AIPAC juga tidak kecil, untuk memastikan dukungan bipartisan dari dua partai (Republik dan Demokrat) terhadap negara Israel. Hingga, siapa pun pemenang Pemilu AS, bagi AIPAC tak ada perbedaan.

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. (EPA-EFE/MIGUEL GUTIERREZ)
Penangkapan Presiden Maduro dan Kedaulatan Negara
Tatanan dunia baru (New World Order) tidak bisa lagi dipertahankan. Penangkapan Presiden Nicolas Maduro (Venezuela) merupakan pengebirian terhadap kedaulatan satu negara yang dihormati dalam Piagam PBB. Yang bisa menurunkan Maduro adalah rakyat Venezuela: lewat Pemilu, atau kudeta. Terlibat narkoba (kartel), sehingga Maduro layak ditangkap. Diyakini banyak pihak, sebagai stereotipe yang digeneralisasi, bahwa negara Amerika Selatan adalah sarangnya kartel narkoba.
Proximity-nya, Maduro beririsan dengan para kartel. Iran pun begitu. Iran hampir tak pernah memulai perang dengan Israel, apalagi AS. Lanskap Iran adalah lanskap saat “boneka AS” (Shah Reza Pahlevi) dijatuhkan demo rakyat Iran (1979). AS ingin Iran jadi client-nya. Brutalitas Shah Reza Pahlevi, membuat rakyat Iran mencari sistem kepemimpinan alternatif. Dari monarki ke teokrasi, yaitu naiknya para Mullah memimpin pemerintahan Iran. Semua berjalan baik, hingga AS menerapkan sanksi ekonomi yang keras.
Perang Dunia III dan Harapan Dunia
Obrolan di Warung Kopi kemarin, seorang teman berseloroh. Tatanan dunia yang ada sekarang, sudah hancur. Seperti halnya Perang Dunia II (1945), berhasil membentuk konvensi (tatanan baru) yang melahirkan PBB. Presiden AS ke-28, Woodrow Wilson (1913-1921), memberi tamsil, pentingnya sebuah mimpi. Dunia dan masyarakatnya tumbuh dan berubah karena mimpi. Mimpi mengubah hal yang stagnasi, menjadi dinamis. Dunia kini membutuhkannya.
Bagaimana dunia bisa berubah, sehingga tercipta tatanan dunia baru (New World Order)? Terlalu banyak kebenaran yang disembunyikan dari Venezuela, Gaza, dan Iran, menjadikan semua berkonklusi tentang psikologi pemimpin yang suka menipu. Men-declared nuklir Iran sebagai berbahaya, menuding Nicolas Maduro terlibat Narkoba, menjuluki Hamas teroris, adalah outler (gerai) yang terus diembuskan, namun terkesan tidak cover both side (berimbang).
Banyak yang berharap AS jadi menyerang Iran. Banyak yang berpikir, sebaiknya perang AS-Iran memantik Perang Dunia ke-III yang melibatkan Rusia, China, Korea Utara di pihak Iran. Sementara, Eropa di pihak AS. Untuk apa? Sederhana, demi memperbaharui Tatanan Dunia Baru (New Order) yang lebih adil. Sekaligus menguji kekuatan Unipolar’ AS.











