"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"
Opini  

Konten media sosial bisa menyesatkan demi rupiah?

Manfaat Media Sosial dalam Memburu Rupiah



Salah satu manfaat dari kehadiran media sosial di Indonesia adalah bisa digunakan sebagai media untuk memburu rupiah melalui pembuatan konten-konten. Meskipun manfaat utama media sosial sebagai media komunikasi sering kali terkalahkan oleh manfaat ekonomi ini, penggunaan media sosial untuk memburu rupiah semakin diminati. Alasannya adalah karena media sosial memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya lebih fleksibel dalam hal waktu maupun pemanfaatannya sendiri.

Media sosial memiliki jangkauan yang sangat luas, bahkan bisa menembus batas-batas dunia. Penggunanya juga memiliki kebebasan untuk melakukan kreasi, asalkan tidak melanggar ketentuan atau Undang-Undang yang berlaku, seperti UU ITE. Selain itu, media sosial bisa menjadi alat untuk membangun personal branding penggunanya.

Peluang Bisnis di Media Sosial

Jika diperhatikan, semua media sosial yang ada ternyata bisa dijadikan media untuk memburu rupiah atau dengan kata lain, dapat digunakan sebagai media melakukan dan menjalankan unit bisnis. Baik bagi pelaku bisnis yang sudah ada maupun pelaku bisnis pemula, media sosial memberikan peluang besar untuk berkembang.

Berdasarkan jenis-jenis media sosial, mereka dikategorikan berdasarkan tujuan dan format kontennya. Contohnya adalah jejaring sosial (Facebook, LinkedIn), berbagai media (Instagram, YouTube, TikTok), microblogging (X/Twitter), forum diskusi (Reddit), dan pesan instan (WhatsApp, Telegram). Platform-platform ini memfasilitasi interaksi, berbagai konten, serta membangun komunitas secara real-time.

Meski semua media sosial bisa dimanfaatkan untuk memburu rupiah dan memasang iklan, hanya beberapa saja yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan tren 2025-2026, media sosial yang paling banyak digunakan untuk memburu rupiah dan memasang iklan adalah Meta Platforms (Instagram dan Facebook), TikTok, dan YouTube.

Dengan jumlah pengguna yang begitu besar, tidak heran jika pada saat kita membuka suatu konten di media sosial tersebut, kita akan dihiasi berbagai konten dan iklan produk yang berseliweran. Terkadang, kita dipaksa menyaksikan konten yang tidak kita inginkan, bahkan iklan yang muncul di layar HP kita. Inilah mengapa ada idiom “tiada hari tanpa iklan” atau “tiada hari tanpa konten yang berseliweran”.

Sajian Konten yang Menggoda



Bila dicermati, konten pada media sosial yang disajikan anak negeri ini dalam rangka memburu rupiah dan pelaku bisnis yang ingin memasang iklan suatu produk, biasanya berorientasi pada menggoda konsumen atau pengguna media sosial. Ada berbagai cara yang dilakukan agar pengguna media sosial “tersanjung/tergoda” dengan konten mereka.

Contohnya, ada anak muda yang dengan entengnya membuat konten untuk menggiring pengguna media sosial agar “terhipnotis” untuk menyaksikan lagu yang dilantunkannya, padahal lagu tersebut adalah lagu lama yang diramu sedemikian rupa agar penasaran. Ada juga konten yang berisi nasihat untuk kebaikan atau kesehatan, namun dibuka dengan kata-kata pembuka yang menggoda agar pengguna tertarik menyaksikan seluruh isi konten.

Mengapa konten tersebut tidak dibuat sesederhana atau sesingkat mungkin? Tujuannya adalah agar durasi waktu penyaksian konten bisa lebih panjang, sehingga pendapatan dari iklan bisa meningkat. Selain itu, penyaji konten terus berupaya untuk membidik pengguna media sosial dengan menyesuaikan perilaku dan atau muatan konten yang diinginkan.

Bahaya Konten yang Menyesatkan



Dari sajian konten yang ada di media sosial, semua disajikan dengan cara yang menggoda pengguna agar tertarik menyaksikan. Termasuk masalah sosial-keagamaan sekalipun. Namun, tidak sedikit konten yang bisa menyesatkan. Bagi pengguna media sosial yang tidak hati-hati atau tidak memiliki pengetahuan cukup tentang konten yang dibaca, bisa terjebak dalam kesesatan.

Biasanya, kalangan emak-emak yang paling getol menyaksikan konten-konten demikian, terutama jika konten tersebut melibatkan idola atau peristiwa yang digandrungi. Misalnya, ada konten yang menyajikan masalah agama yang langsung diterima bulat-bulat tanpa dikaji. Hal ini bisa menimbulkan kesesatan karena isi konten tersebut terkadang bertentangan dengan ajaran agama murni.

Saya pernah menyaksikan seorang ibu rumah tangga sampai berbantah-bantahan dengan suami hanya karena melarang aktivitas tertentu berdasarkan konten yang ia tonton. Padahal, dari akal sehat dan ajaran agama murni, semua hari sama. Jika hal ini terus berlangsung, maka akan terjadi kesesatan yang tidak terbendung.

Bagaimana Sebaiknya?

Bagi para pembuat konten, penting untuk membuat konten yang tidak menyesatkan, tidak membingungkan, dan berlandaskan ilmu dan pengetahuan yang benar. Jangan sampai mendorong pengguna media sosial menjadi bingung, ragu, atau sesat. Usahakan agar pengguna benar-benar mendapatkan manfaat positif dari konten yang disajikan.

Bagi pengguna media sosial, manfaatkanlah media sosial untuk hal-hal yang positif dan berguna. Boleh saja untuk hiburan, tetapi jangan sampai salah arah. Sebelum menerapkan, meyakini, atau mengimplementasikan isi konten, perlu adanya unsur kehati-hatian. “Teliti sebelum membeli” atau “teliti sebelum mengimplementasikan” agar terhindar dari kesesatan.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *