Perubahan Hubungan Israel dan Iran dari Mitra ke Musuh
Hubungan antara Israel dan Iran sebelumnya tidak selalu penuh dengan permusuhan. Sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948 hingga Revolusi Islam 1979, kedua negara menjalin hubungan strategis yang saling menguntungkan. Kajian Marta Furlan dalam jurnal Israel Affairs mencatat bahwa keterlibatan ini terjadi pada masa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Israel pada masa itu menerapkan doktrin “periphery” dengan menjalin kerja sama dengan negara-negara non-Arab di kawasan, termasuk Iran.
Kerja sama ini mencakup sektor militer, intelijen, energi, dan teknologi. Iran menjadi pemasok minyak penting bagi Israel. Setelah Perang Enam Hari 1967, kedua negara bahkan membangun pipa minyak Eilat–Ashkelon untuk memperluas jalur ekspor minyak Iran ke Eropa. Kolaborasi ini berlangsung pragmatis dan sebagian besar tertutup demi kepentingan strategis masing-masing.
Namun, segalanya berubah setelah Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah dan melahirkan Republik Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Pergantian rezim ini bukan sekadar transisi kekuasaan, tetapi juga pergeseran ideologi dan kebijakan luar negeri yang mendasar. Iran memutus hubungan diplomatik dengan Israel dan menempatkan anti-Zionisme sebagai bagian dari identitas politik negara.
Sejak saat itu, Israel tidak lagi dilihat sebagai mitra strategis, melainkan lawan ideologis dan politik. Relasi kedua negara bergerak ke pola permusuhan yang dipengaruhi oleh pertimbangan ideologi, keamanan nasional, dan kompetisi pengaruh di Timur Tengah.
Perang Bayangan dan Konflik Tersembunyi
Dalam dekade berikutnya, konflik berkembang menjadi apa yang kerap disebut sebagai “shadow war” atau perang bayangan. Berbagai kajian konflik regional menunjukkan penggunaan aktor non-negara sebagai bagian dari strategi Iran untuk memperluas pengaruh dan menghadapi tekanan Israel serta sekutunya. Jaringan aliansi ini sering disebut sebagai “Axis of Resistance” dan memainkan peran penting dalam dinamika keamanan kawasan.
Di sisi lain, Israel menjalankan pendekatan yang dalam literatur dikenal sebagai Campaign Between Wars, serangkaian operasi terbatas untuk mencegah penguatan militer Iran, terutama di Suriah dan wilayah sekitarnya. Konfrontasi terjadi melalui serangan udara, operasi intelijen, sabotase, dan tekanan diplomatik, tanpa selalu berujung perang terbuka skala penuh.
Isu paling sensitif dalam konflik ini adalah program nuklir Iran. Israel memandang perkembangan tersebut sebagai ancaman serius terhadap keamanannya. Upaya internasional seperti Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) sempat diarahkan untuk membatasi pengayaan uranium Iran, namun ketidakpercayaan tetap mengemuka.
Ledakan di Teheran dan Eskalasi Konflik
Ledakan yang mengguncang Teheran menandai babak baru eskalasi antara Israel dan Iran. Ketegangan yang lama bergerak di balik layar kini kembali mencuat ke ruang publik. Insiden ini bukan peristiwa terpisah, melainkan mata rantai terbaru dari konflik panjang yang berakar puluhan tahun dan sarat muatan ideologi, keamanan, serta perebutan pengaruh regional.
Serangan Israel dilaporkan terjadi, menandai perubahan dramatis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Serangan dilakukan secara langsung dari wilayah Iran, bukan melalui perantara seperti Hizbullah atau Houthi. Media pemerintah Iran menyatakan bahwa Teheran bersiap memberikan respons keras.
Militer Israel mendeteksi peluncuran rudal balistik dari Iran, memicu sirene peringatan dini yang meraung-raung dari Tel Aviv hingga Yerusalem. Jutaan warga dipaksa bergegas menuju bunker perlindungan. Ini bukan lagi sekadar perang bayangan, ini adalah konfrontasi langsung yang membawa dunia ke ambang ketidakpastian global.
Risiko Perang Dunia III
Eskalasi ini membuat para pengamat mulai menyebut risiko Perang Dunia III. Pertama, aliansi militer. Jika Israel terdesak, keterlibatan Amerika Serikat dan sekutunya di bawah payung NATO berpotensi menyeret banyak negara ke dalam konflik terbuka. Kedua, krisis energi global. Timur Tengah adalah jalur vital minyak dunia; gangguan di kawasan atau penutupan Selat Hormuz dapat mengguncang ekonomi global hanya dalam hitungan hari.
Ketiga, ancaman senjata non-konvensional, termasuk nuklir dan kimia, yang selama ini menjadi bayang-bayang paling menakutkan dari konflik Iran–Israel.











