"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Mandi Junub Setelah Imsak: Ini Penjelasan Buya Yahya

Mandi Junub dan Puasa Ramadan: Pemahaman yang Benar

Mandi wajib atau mandi junub merupakan kegiatan membersihkan atau menyucikan diri dari hadas besar dengan cara menyiram air ke seluruh bagian tubuh. Sesuai dengan namanya, mandi wajib memang harus dilakukan ketika seseorang berada dalam kondisi hadas besar, misalnya setelah berhubungan suami istri atau ketika keluar air mani akibat mimpi basah, masturbasi, maupun karena rangsangan tertentu.

Sesuai dengan kajian fikih, mandi junub berkaitan dengan kondisi hadas besar yang mewajibkan seseorang untuk bersuci sebelum melaksanakan ibadah tertentu seperti salat. Namun, perlu dipahami bahwa puasa Ramadan tidak mensyaratkan seseorang sudah mandi junub sebelum imsak. Artinya, jika seseorang masih dalam keadaan junub saat imsak tiba, puasanya tetap sah selama ia berniat puasa dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Pertanyaan tentang mandi junub atau mandi wajib setelah imsak sering muncul di tengah masyarakat. Tidak sedikit kaum Muslimin yang masih bingung apakah seseorang yang belum mandi junub hingga waktu imsak tiba tetap boleh berpuasa atau tidak. Kebingungan ini umumnya terjadi karena kurangnya pemahaman dalam ilmu fikih, khususnya pada bab thaharah atau bersuci.

Buya Yahya, pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon, menjelaskan bahwa mandi junub setelah imsak boleh saja dilakukan dan tidak membatalkan puasa. Yang terpenting adalah memastikan mandi dilakukan sebelum menunaikan salat Subuh, karena salat mensyaratkan kondisi suci dari hadas besar.

“Isrti melayani suami, habis itu menyiapkan sahur. Enggak sempat mandi, ya tidak apa-apa. Mandinya nanti selesai azan,” kata Buya Yahya. Ia juga menekankan bahwa yang tidak boleh dilakukan suami istri saat Ramadan adalah bersenggama di siang hari.

Jika melakukan hal tersebut dengan sengaja pada siang hari atau selepas azan Subuh, maka puasanya tidak sah. “Kalau senggama di waktu sahur, tahu-tahunya belum sempat mandi, tinggal mandi saja,” ujarnya. Meski demikian, beliau tetap mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan kesucian diri selama Ramadan. Bulan suci bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kedisiplinan dalam menjaga kebersihan lahir maupun batin.

Penjelasan Soal Mandi Junub

Mandi wajib atau mandi junub merupakan kegiatan membersihkan atau menyucikan diri dari hadas besar dengan cara menyiram air ke seluruh bagian tubuh. Dalam kondisi tersebut, seseorang diwajibkan bersuci agar kembali dalam keadaan suci secara syariat. Jika tidak melakukan mandi wajib setelah mengalami hal-hal tersebut, maka ia tidak diperbolehkan menjalankan beberapa ibadah tertentu seperti salat, membaca Al-Qur’an, hingga tawaf.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat dari yang menyebutkan bahwa salat tidak diterima dari orang yang berhadas sampai ia berwudu. Berbeda dengan mandi biasa, mandi wajib memiliki tata cara khusus.

Rukun yang Harus Dipenuhi

Ada dua rukun utama yang harus dipenuhi. Pertama adalah membaca niat, yang boleh diucapkan dalam hati, namun lebih baik jika dilafalkan. Kedua adalah membasuh seluruh bagian luar tubuh tanpa terkecuali, termasuk rambut dan bulu, serta memastikan air sampai ke kulit dan pangkal rambut.

Dijelaskan pula adab mandi janabah secara lebih rinci. Dianjurkan untuk memulai dengan mencuci kedua telapak tangan, kemudian membersihkan kotoran yang ada di tubuh termasuk area kemaluan. Setelah itu berwudu seperti hendak salat, lalu membaca niat dan mengguyur seluruh tubuh dari kepala hingga kaki sebanyak tiga kali. Selanjutnya, disunnahkan mengguyur bagian tubuh sebelah kanan tiga kali, kemudian bagian kiri tiga kali. Dianjurkan pula menggosok seluruh tubuh agar air benar-benar merata. Setelah itu, berpindah tempat dan membasuh kedua kaki untuk memastikan tidak ada bagian yang terlewat, terutama di telapak kaki.

Adapun bacaan niat mandi wajib adalah:
Bahasa Arab
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ اْلاَكْبَرِ فَرْضًا ِللهِ تَعَالَى

Latinnya :
“Nawaitul Ghusla Lifrafil Hadatsil Akbari Fardhan Lillahi Ta’aala.”

Artinya :
“Aku berniat mandi besar untuk menghilangkan hadast besar fardhu karena Allah ta’aala.”

“Kalau mandi junub saat puasa itu cukup meratakan air ke seluruh tubuh. Cuma kalau dilakukan saat sedang tak berpuasa, dianjurkan membasuh air ke semua lubang yang ada pada tubuh hukumnya sunnah,” kata Imam Masjid Baitur Ridwan Bogor Barat, M Husen.

Dari seluruh rangkaian tersebut, yang benar-benar wajib adalah niat, membersihkan najis jika ada, dan mengalirkan air ke seluruh tubuh. Sementara tata cara lainnya termasuk sunnah muakkad yang sangat dianjurkan dan sebaiknya tidak diabaikan.

Tata Cara Mandi Junub Menurut Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menjelaskan adab mandi janabah mulai dari masuk kamar hingga keluar kamar mandi. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Saat memasuki kamar mandi, mulailah membasuh kedua telapak tangan terlebih dahulu.
  2. Membersihkan segala kotoran yang menempel di tubuh termasuk membasuh kemaluan.
  3. Berwudhu sebagaimana tata cara wudhu sebelum sholat.
  4. Membaca Niat lalu mengguyur seluruh badan dari kepala hingga kaki sebanyak 3 kali.
  5. Mengguyur bagian badan sebelah kanan hingga tiga kali, kemudian bagian badan sebelah kiri juga hingga tiga kali.
  6. Menggosokkan tangan ke seluruh badan, dan dimulai dari bagian badan sebelah kanan lalu mengguyur air secara merata.
  7. Pindah dari tempat berdiri, lalu kemudian membasuh kedua kaki dengan air. Hal ini dilakukan karena dikhawatirkan bagian dalam telapak kaki tidak terkena air.

Saat sudah selesai, pastikan seluruh anggota tubuh sudah dibasahi dan diguyur secara merata. Dari semua amalan tersebut yang wajib adalah niat, bersuci dari najis (jika ada) dan menyiramkan air ke seluruh tubuh. Selebihnya adalah sunnah muakkad yang sebenarnya tidak boleh diremehkan.

Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *