"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Fakta Terbaru Ledakan Petasan di Wonosobo, Penjual Bahan Peledak Masih Anak-Anak

Peristiwa Ledakan Petasan di Wonosobo Masih dalam Penyelidikan

Insiden ledakan petasan yang melukai seorang remaja di Desa Pandansari, Kelurahan Kretek, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, hingga kini masih dalam proses penyelidikan oleh aparat kepolisian. Kejadian ini menambah daftar kecelakaan akibat penggunaan bahan peledak rakitan yang semakin marak terjadi di masyarakat.

Korban, seorang remaja berinisial FR (13) siswa kelas 2 SMP, mengalami luka bakar setelah petasan yang sedang dibuatnya meledak. Insiden terjadi pada Kamis (19/2/2026) malam saat korban bersama temannya membuat petasan menggunakan alat seperti mesin gerinda pemotong besi. Percikan api dari alat tersebut diduga memicu bahan peledak hingga terjadi ledakan. Akibatnya, korban mengalami luka bakar pada bagian tangan, dagu, dan paha, kemudian dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Wonosobo untuk mendapatkan perawatan medis.

Pihak kepolisian memastikan korban belum diperbolehkan pulang karena masih menjalani perawatan medis. Kondisi kesehatan remaja tersebut terus dipantau oleh tim medis. Kasubsi Penmas Sie Humas Polres Wonosobo, Aipda Nanang D.P. Wibowo, menyampaikan bahwa korban masih berada dalam pengawasan dokter. “Kondisi korban masih ditangani medis,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (20/2/2026).

Selain fokus pada penanganan korban, polisi juga mendalami asal-usul bahan petasan yang digunakan. Pemeriksaan telah dilakukan terhadap pihak yang diduga menjual bahan tersebut kepada korban. Berdasarkan informasi awal, penjual bahan petasan diketahui masih berusia anak-anak. Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi penyidik mengingat potensi pelanggaran hukum serta risiko keselamatan yang ditimbulkan.

“Informasi awal yang jual juga masih anak-anak. Sudah dimintai keterangan,” kata Nanang. Hasil pendalaman sementara mengungkap bahwa bahan yang diduga digunakan untuk meracik petasan dibeli secara daring, kemudian dijual kembali kepada teman dan warga sekitar. “Info awal obat dibeli secara online dan dijual ke teman-temannya dan tetangganya,” jelasnya.

Saat ini, pihak yang diduga menjual bahan tersebut masih menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Unit Reserse Kriminal. Aparat juga terus menelusuri jalur distribusi bahan peledak yang beredar di lingkungan setempat. “Sementara masih dimintai keterangan di unit Reskrim Polres Wonosobo,” ujarnya.

Penyidik belum membeberkan secara rinci hasil pemeriksaan kepada publik karena proses hukum masih berjalan. Kepolisian menegaskan akan mengusut tuntas peredaran bahan petasan demi mencegah kejadian serupa terulang, sekaligus mengimbau masyarakat untuk tidak memperjualbelikan atau menggunakan bahan peledak secara sembarangan.

Berdasarkan pantauan di lokasi kejadian, kondisi tempat sudah dalam keadaan bersih, namun sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan akibat ledakan. Jendela tampak pecah hingga menyisakan rangka tanpa kaca, sementara bagian atap juga terlihat rusak. Di area sekitar tempat kejadian perkara telah terpasang garis polisi.

Kapolsek Kertek, AKP Sutono, sebelumnya menjelaskan kejadian terjadi sekitar pukul 23.30 WIB saat korban bersama temannya membuat petasan menggunakan alat seperti mesin gerinda pemotong besi. “Korban bersama temannya membawa bahan petasan di dalam warung mie ayam dengan berbahan gulungan kertas dan memakai peralatan berupa tabung (tank), mesin gerinda pemotong besi,” kata Sutono saat ditemui di kantor Polsek Kertek, Jumat (20/2/2026).

Polisi juga mengungkap bahan petasan tidak dibeli dalam bentuk jadi, melainkan diracik sendiri setelah korban membeli bubuk mercon dari wilayah Dusun Siono, Desa Bojasari, Kecamatan Kertek. “Ya, betul. Jadi membeli bahan, terus kemudian diracik sendiri,” ujar AKP Sutono.

Hingga saat ini kasus ini masih dalam penanganan aparat kepolisian Polres Wonosobo.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *