Penegasan Menteri HAM tentang Teror terhadap Ketua BEM UGM
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai memberikan pernyataan resmi mengenai dugaan teror yang dialami oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Dalam pernyataannya, Pigai menegaskan bahwa pemerintah sama sekali tidak terlibat dalam kejadian tersebut.
Pernyataan ini disampaikan saat Pigai diwawancarai di Gedung Kementerian HAM, Jakarta. Ia menyatakan bahwa teror yang dialami oleh Tiyo dan keluarganya tidak mungkin berasal dari pihak pemerintah. “Oleh karena itu, saya pastikan bahwa teror tidak mungkin dari pemerintah,” ujar Pigai.
Namun, ia juga mengakui bahwa pihaknya masih memiliki keterbatasan informasi mengenai detail ancaman yang dialami Tiyo. Pigai menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai siapa pelaku di balik tindakan teror tersebut. Ia bahkan mengaku belum membaca secara langsung bentuk-bentuk teror yang dialami oleh Ketua BEM UGM.
Penegasan Sikap Presiden tentang HAM
Dalam pernyataannya, Pigai turut mengutip pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai supremasi hukum dan hak asasi manusia. Menurutnya, presiden telah menegaskan bahwa hukum tidak boleh digunakan sebagai alat untuk menekan kebebasan warga negara.
“Presiden Prabowo telah menegaskan bahwa hukum tidak boleh dipakai oleh penguasa untuk kepentingan atau membungkam hak asasi manusia penduduk Indonesia,” jelas Pigai. Ia kembali menegaskan prinsip tersebut dengan kalimat yang lebih lugas.
“Jadi hukum tidak akan pernah dipakai alat penguasa untuk menjustifikasi kebenaran dan membungkam orang. Tidak akan pernah,” tambah dia.
Rangkaian Teror yang Dialami Ketua BEM UGM
Sebelumnya, diketahui bahwa Tiyo Ardianto mengalami berbagai bentuk teror setelah menyuarakan kasus tragis anak yang bunuh diri di Nusa Tenggara Timur. Teror tersebut terjadi antara tanggal 9 hingga 11 Februari 2026, dengan pola yang semakin mengkhawatirkan.
Ancaman Penculikan dari Nomor Tak Dikenal
Salah satu ancaman paling serius yang dialami Tiyo adalah pesan singkat dari nomor tak dikenal yang mengancam penculikan. Ancaman ini diungkapkan Tiyo secara terbuka kepada media.
“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ujarnya. Ancaman ini memperkuat kekhawatiran akan keselamatan dirinya dan orang-orang terdekatnya.
Penguntitan di Tempat Umum
Selain ancaman tertulis, Tiyo juga mengaku mengalami penguntitan secara langsung. Peristiwa ini terjadi pada Rabu (11/2/2026), saat dirinya berada di sebuah kedai. Penguntitan dilakukan oleh dua orang tak dikenal yang memantau dan memotretnya dari kejauhan.
“Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda,” paparnya. Menurut Tiyo, kedua orang tersebut sempat dikejar, namun berhasil menghilang tanpa jejak.
Dugaan Ketersinggungan atas Suara Kritis
Di tengah rangkaian peristiwa tersebut, Tiyo menilai bahwa suara kritis yang ia sampaikan secara luas di berbagai media kemungkinan menimbulkan ketersinggungan pada pihak tertentu. “Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa teror tersebut muncul dalam konteks kebebasan berpendapat yang tengah diuji.
Dukungan atas Kebebasan Berekspresi
Beberapa tokoh nasional juga turut menyoroti kasus ini. Salah satunya adalah Mahfud MD, yang sebelumnya menyatakan bahwa langkah BEM UGM menyuarakan aspirasi hingga ke lembaga internasional merupakan bagian dari kebebasan berpendapat.
Di tengah simpang siur informasi dan kekhawatiran publik, pernyataan pemerintah melalui Menteri HAM menjadi penegasan sikap negara: teror tidak dibenarkan, dan kebebasan berekspresi tetap harus dijaga dalam koridor hukum.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











