"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Sejarah Parkinson: Penyakit yang Menghancurkan Tubuh Muhammad Ali

Sejarah Penyakit Parkinson

Pada tahun 1984, petinju legendaris Muhammad Ali didiagnosis mengidap penyakit Parkinson. Kondisi ini memicu berbagai perdebatan, apakah penyakit yang dialaminya benar-benar penyakit Parkinson atau hanya sindrom Parkinson. Berikut adalah sejarah dan penjelasan lengkap tentang penyakit ini.

Penyakit Parkinson dianggap sebagai gangguan neurologis yang tidak langka. Di Indonesia, diperkirakan satu hingga lima dari seribu orang mengidap penyakit ini. Angka ini meningkat signifikan pada usia lanjut, yaitu sepuluh dari seribu orang di atas usia 65 tahun. Di Jerman, angka ini bahkan dua kali lipat, mencapai 20 dari seribu orang.

Secara umum, penyakit Parkinson lebih sering menyerang laki-laki dibandingkan wanita. Kebanyakan penderita mulai mengalami gejala antara usia 50 hingga 65 tahun. Penyakit ini dinamai sesuai dengan dr. James Parkinson, seorang dokter di London yang pertama kali menggambarkan gejalanya dalam bukunya “An Essay on the Shaking Palsy” pada tahun 1817. Ia menggunakan istilah Latin paralisis agitans untuk menggambarkan kondisi ini.

Gejala Penyakit Parkinson

Gejala awal penyakit ini meliputi kelemahan otot yang cenderung gemetar, terutama pada tangan dan jari-jari. Secara bertahap, kelemahan dan gemetaran ini memperburuk gerakan anggota tubuh lainnya. Dalam beberapa bulan, pasien mulai kesulitan menjaga sikap tegak dan cenderung membungkuk saat berdiri, berjalan, atau duduk.

Gemetaran pada tangan dan jari-jari dapat ditahan sementara, tetapi kembali setelah perhatian dialihkan. Tulisan tangan juga semakin kecil hingga akhirnya berubah menjadi garis-garis getaran. Saat makan, tangan sulit mengambil makanan dan menyampaikannya ke mulut. Pada tahap lanjut, pasien sulit bergerak dan membutuhkan bantuan orang lain untuk aktivitas harian.

Perkembangan Pengobatan

Pada tahun 1955, Dr. Pletscher dan Dr. Brodie menemukan bahwa obat Reserpin dapat memicu gejala penyakit Parkinson pada binatang percobaan. Hal ini membuka jalan bagi pengenalan Sindroma Parkinson iatrogenik, yaitu penyakit yang disebabkan oleh efek samping obat.

Pada tahun 1960, penelitian oleh Dr. Hornykiewics dan Dr. Herbert Ehringer menunjukkan bahwa substantia nigra (substansi hitam) pada otak penderita Parkinson tidak mengandung dopamine. Hal ini memicu pengembangan Levodopa, obat yang membantu mengganti dopa yang hilang.

Obat anti-Parkinson seperti Amantadine juga digunakan sebagai tambahan untuk meningkatkan efektivitas Levodopa. Selain itu, operasi otak seperti penghancuran thalamus juga dilakukan untuk mengurangi gejala.

Penyakit Parkinson vs. Sindrom Parkinson

Penyakit Parkinson disebabkan oleh kerusakan substantia nigra, sehingga tidak bisa disembuhkan secara tuntas. Sementara itu, Sindrom Parkinson disebabkan oleh gangguan fungsional dan bisa diperbaiki. Beberapa ahli berspekulasi bahwa gejala Muhammad Ali mungkin disebabkan oleh Sindrom Parkinson akibat penggunaan obat penenang.

Meski penyakit ini tidak langsung menyebabkan kematian Muhammad Ali, ia telah berjuang melawan penyakit ini selama lebih dari 30 tahun. Kehidupannya terus dipengaruhi oleh kondisi ini hingga akhir hayatnya pada tahun 2016.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *