"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Siapa yang Masukkan Nenek Wilhelmina ke DTSEN? Penghasilan Rp3,5 Juta-Rp4,8 Juta/Bulan?

Kondisi Nenek Wilhelmina yang Terdaftar dalam Desil 6

Nenek Wilhelmina Nenu (80), warga Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), tercatat sebagai penerima bantuan sosial (bansos) di Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) Kemensos RI. Namun, kondisi ekonomi dan kesejahteraan yang dialami oleh nenek ini sangat memprihatinkan.

Wilhelmina tinggal bersama cucunya YBS (10) di sebuah pondok sederhana berdinding bambu dan beratap seng. Mereka bertahan hidup dengan hasil kebun dan jualan sayuran. Kondisi ekonomi yang sulit membuat mereka tidak pernah menerima bantuan pemerintah meskipun secara administrasi, Wilhelmina terdaftar dalam sistem bansos.

Pendataan Wilhelmina menempatkannya dalam kategori Desil 6. Pada umumnya, kelompok masyarakat di Desil 6 dikategorikan sebagai rentan hingga menengah ke atas. Estimasi pendapatan rumah tangga di Desil 6 berkisar antara Rp 3,5 juta hingga Rp 4,8 juta per bulan, setara dengan penghasilan pegawai negeri sipil (PNS), TNI, dan Polri.

Namun, bagaimana bisa seorang nenek dengan kondisi seperti ini terdata dalam kategori yang seharusnya layak menerima bantuan? Siapa yang melakukan pendataan awal hingga memasukkan Wilhelmina ke dalam Desil 6?

Penjelasan dari Kepala Desa

Kepala Desa Naruwolo, Dionisius Roa, mengungkapkan bahwa selama tiga tahun menjabat, pihak desa tidak pernah memberikan bantuan kepada Wilhelmina. Ia menjelaskan bahwa berdasarkan data sistem, Wilhelmina terdaftar sebagai penerima bansos. Menurut regulasi, tidak diperbolehkan memberikan bantuan sosial kepada warga yang sudah menerima bansos.

“Kalau kami kasih bantuan dobel, saya takut masuk penjara. Siapa yang mau tanggung jawab,” ujarnya.

Meski demikian, ia belum mengecek secara pasti apakah selama ini Wilhelmina menerima bantuan dari pihak lain.

Penjelasan Dinas Sosial

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Sosial Kabupaten Ngada, Ermelinda Inam Mugi, menjelaskan bahwa Wilhelmina tidak terakomodir sebagai penerima program keluarga harapan (PKH). Berdasarkan hasil penelusuran sistem, Wilhelmina berada pada kategori Desil 6.

“Desil 6 tidak mendapat intervensi dari PKH,” kata Ermelinda. Ia menjelaskan bahwa pendataan dilakukan melalui mekanisme yang melibatkan berbagai pihak, termasuk operator sistem informasi kesejahteraan sosial new generation (siks-ng) di tingkat desa, yang kemudian diusulkan melalui musyawarah desa.

Data tersebut kemudian diverifikasi oleh dinas sosial dan diusulkan ke kementerian sosial. Selanjutnya, kementerian sosial menyerahkan data ke BPS untuk dilakukan pengecekan lapangan dan penentuan desil.

Penjelasan BPS

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Ngada, Ivadia Elmina Patola, menjelaskan bahwa DTSEN merupakan data yang sifatnya dinamis. Data tersebut bisa dimutakhirkan melalui proses usulan data dari pemerintah daerah menggunakan aplikasi SIKS-NG dan proses usulan data dari masyarakat menggunakan aplikasi cek Bansos.

Ivadia menjelaskan bahwa penentuan desil pada DTSEN antara BPS dan dinas sosial menggunakan indikator yang sama, sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025. Sesuai dengan Inpres Nomor 8 Tahun 2025, BPS mengukur tingkat kemiskinan makro menggunakan konsep kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) melalui survei sosial ekonomi nasional (Susenas).

Data yang dihasilkan dari survei ini berupa data estimasi sampai level kabupaten/kota, bukan data by name by address. Ia juga menjelaskan bahwa DTSEN adalah basis data tunggal individu (NIK) dan data tunggal keluarga (nomor kartu keluarga) yang mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan peringkat kesejahteraan keluarga.

Meski demikian, pembaharuan desil atau peringkat kesejahteraan keluarga dilakukan oleh BPS RI secara berkala setelah menerima data yang telah dimutakhirkan dari kementerian sosial.

Tragedi yang Mengguncang

Tragedi kematian YBS (10) seorang siswa kelas IV sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, baru-baru ini menjadi sorotan dunia. Tragedi ini diduga dipicu oleh rasa putus asa korban setelah permintaannya kepada sang ibu untuk membeli buku tulis dan pena tidak terpenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga. Padahal harga peralatan tersebut diperkirakan kurang dari Rp10.000.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *