Dua Aksi Perampokan Menggegerkan Banyumas
Dalam kurun waktu satu minggu pada Februari 2026, dua aksi perampokan terjadi di Kabupaten Banyumas. Kedua kejadian tersebut terjadi di dua desa yang berbeda, yaitu Desa Karangsari, Kecamatan Kebasen, dan Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang. Kedua aksi perampokan ini terjadi pada dini hari, menimpa warga yang sedang beristirahat di dalam rumah.
Penyekapan Nenek di Desa Karangsari
Pada Minggu (15/2/2026) dini hari, seorang nenek bernama Parsiti (66), warga Desa Karangsari, Kecamatan Kebasen, menjadi korban penyekapan oleh kawanan pelaku. Saat kejadian, korban dan anggota keluarganya sedang beristirahat di dalam rumah. Pelaku diduga telah masuk sebelum menjalankan aksinya.
Kapolresta Banyumas, Kombes Pol Petrus Silalahi, menjelaskan bahwa perampokan disertai penyekapan terjadi sekira pukul 00.50. Korban terbangun akibat suara mencurigakan dari ruang tamu. Ia melihat dua pelaku sudah berada di dalam rumah. Pelaku kemudian menganiaya dan mengikat tangan korban menggunakan lakban serta mengancam dengan senjata tajam jenis celurit.
Tidak hanya Parsiti, anak korban yang terbangun karena mendengar keributan juga menjadi sasaran pelaku. Kedua pelaku mengikat dan menyekap penghuni rumah agar tidak melakukan perlawanan. Setelah menguasai situasi, pelaku mulai menggeledah rumah dan mengambil barang-barang berharga milik korban, termasuk uang tunai Rp7.350.000, perhiasan emas, dan tiga kartu ATM lengkap dengan nomor PIN-nya.
Setelah mampu melepaskan diri, korban langsung meminta pertolongan kepada keluarga yang tinggal di bagian belakang rumah. Laporan kemudian diteruskan kepada perangkat desa dan pihak kepolisian setempat.
Unit Reskrim bersama SPKT Polsek Kebasen langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP, memeriksa saksi, serta berkoordinasi dengan Unit Inafis dan Tim Resmob. Kombes Pol Petrus mengatakan bahwa pihaknya masih melakukan intensifikasi pengumpulan keterangan dari pelapor dan saksi. Dia menegaskan komitmennya untuk mengejar para pelaku. Polresta Banyumas meningkatkan patroli pada jam rawan, terutama di kawasan permukiman, pertokoan, dan pusat aktivitas masyarakat. Pihak kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan mengaktifkan satkamling sebagai langkah preventif dalam menjaga situasi kamtibmas di lingkungan tempat tinggal.
Perampokan di Desa Kotayasa
Sebelumnya, peristiwa perampokan juga sempat menggegerkan warga Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Perampokan bersenjata terjadi di lingkungan permukiman warga pada Senin (9/2/2026) dini hari. Mereka sempat membekap penghuni rumah saat pelaku menggasak barang-barang di sana.
Dari informasi awal, pelaku berjumlah empat orang. Mereka berbekal linggis, kapak, arit, hingga pisau. Saat ini pihak kepolisian masih mendalami kasus yang dialami oleh Kodrat sekeluarga itu.
Tangis Nurgiyanti (39) pecah saat melihat sejumlah pria tak dikenal menindih anaknya di atas tempat tidur. Satu pelaku menekan bagian kepala, sementara yang lain menahan kaki korban. Bahkan wajah anaknya itu dibekap menggunakan bantal hingga keluar darah atau mimisan dari hidung.

Peristiwa perampokan itu terjadi di rumah keluarga tersebut di RT 02 RW 06 Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Peristiwa itu terjadi sekira pukul 02.00, Senin (9/2/2026). Saat kejadian, seluruh penghuni rumah sedang terlelap. Di dalam rumah itu terdapat satu keluarga yang terdiri dari Nurgiyanti (39), suaminya Kodrat (41), serta dua anak mereka, Luigi (14) dan Lutfi (8).
Nurgiyanti menuturkan, dia terbangun ketika ada dua pelaku tiba-tiba masuk ke kamarnya. Para pelaku kemudian mengikatnya dan dibawa keluar kamar. Setelah Nurgiyanti keluar kamar bersama anak keduanya, dia melihat suaminya sudah dalam posisi tengkurap di lantai dengan tangan terikat ke belakang serta kaki terikat. Tak lama berselang, terdengar teriakan anak pertamanya di kamar yang berbeda.
Nurgiyanti berusaha menghampiri, namun melihat dua pelaku sudah menindih anaknya di atas tempat tidur. Salah satu pelaku menekan kepala, sementara yang lain menahan kaki, bahkan wajah anak itu dibekap menggunakan bantal. “Melihat kondisi itu, saya memohon kepada para pelaku agar berhenti.” Pelaku kemudian meminta saya untuk diam dan tidak berteriak,” ucapnya. Dia pun menurut karena takut.
Nurgiyanti kemudian dibawa ke kamar bersama suaminya yang sudah dalam kondisi terikat. Dia sempat membuka ikatan di tangannya, namun tetap berpura-pura masih terikat agar tidak menimbulkan kecurigaan pelaku. Para pelaku mengambil harta benda uang hingga perhiasan. Beberapa waktu kemudian, suasana rumah mendadak sunyi. Setelah merasa para pelaku sudah pergi, Nurgiyanti membuka pintu kamar, lalu melepaskan ikatan tangan dan kaki suaminya. Mereka kemudian keluar rumah, namun para pelaku sudah tidak terlihat.
Keterangan Polisi
Aksi perampokan yang menimpa keluarga di Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, diduga dilakukan oleh empat pelaku. Mereka masuk ke dalam rumah pada Senin (9/2/2026) dini hari dengan cara mencongkel jendela. Kapolsek Sumbang, AKP Basuki, mengatakan, peristiwa itu terjadi sekira pukul 02.00. Saat itu, ibu korban mendengar suara gaduh disertai teriakan dari kamar anaknya. “Pelaku masuk lewat jendela sebelah selatan rumah dengan cara mencongkel jendela.” Setelah itu mereka menemui anak korban yang sedang tidur, menyekap dan memaksa anak menunjukkan barang-barang berharga.
Tak hanya itu, pelaku lainnya juga masuk ke kamar orangtua korban. Sang ayah, Kodrat, terlebih dahulu diikat, kemudian disusul istrinya. Keduanya kemudian diintimidasi dan diminta menunjukkan tempat penyimpanan uang. “Di dalam tas ada uang sekira Rp12.400.000. Itu terdiri dari uang kas warga dan uang dari tempat korban bekerja di koperasi di Purbalingga,” ujarnya. Selain uang tunai, para pelaku juga mengambil tiga telepon seluler milik anak dan orangtuanya. Bahkan, sebuah set top box (STB) televisi ikut dibawa karena diduga dikira sebagai perangkat decoder CCTV.
Meski demikian, kamera CCTV yang terpasang di rumah korban masih utuh. Rekaman tersebut kini sudah diamankan oleh Tim Inafis Polresta Banyumas untuk dianalisis. “CCTV masih ada, tadi sudah diambil Tim Inafis untuk dipelajari. Dari rekaman itu juga sedang disisir, kemungkinan dari arah mana pelaku datang,” jelasnya. Hingga kini, polisi belum mengetahui secara pasti kendaraan yang digunakan para pelaku saat beraksi. Dari keterangan korban, para pelaku menggunakan dua logat berbeda saat berbicara. Dua orang terdengar menggunakan logat Jawa, sementara dua lainnya berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Dalam aksinya, para pelaku membawa senjata tajam seperti pisau dan sabit untuk mengancam korban. Namun, tidak ada senjata api yang terlihat. “Alhamdulillah tidak ada korban luka. Senjata itu hanya untuk menakut-nakuti,” tutupnya.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











