"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Menteri Keuangan Bantah Isu Pengkhianatan Ekonomi RI

Kondisi Ekonomi Indonesia Dinilai Masih Kuat

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat. Ia menepis isu adanya pihak tertentu yang sengaja berupaya mendegradasi perekonomian negara. Menurutnya, anggapan tersebut tidak berdasar dan cenderung masuk kategori teori konspirasi.

Purbaya mengatakan bahwa pemerintah terus fokus pada upaya memastikan ekonomi bergerak ke arah yang benar. Ia juga menyebutkan bahwa kinerja ekonomi pada triwulan pertama tahun ini diproyeksikan lebih baik dibandingkan triwulan keempat tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh tingginya tingkat kepercayaan konsumen dan indeks manajer pembelian (PMI), yang menunjukkan daya beli dan permintaan yang sehat.

“Kami tidak perlu khawatir karena ekonomi kita sedang dalam kondisi yang stabil,” ujar Purbaya usai menghadiri rapat kerja bersama pimpinan DPR di Komisi VI, Senin (9/2/2026).

Saat ditanya lebih lanjut mengenai laporan lembaga global seperti MSCI dan Moody’s, Purbaya enggan memberikan komentar. Ia hanya menjawab dengan singkat, “Oh nggak tahu saya.”

Sebelumnya, ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai bahwa perekonomian Indonesia saat ini tengah memasuki fase uji kepercayaan pasar. Hal itu tercermin dari pergerakan pasar saham, obligasi, dan nilai tukar rupiah.

“Ekonomi Indonesia belakangan ini memasuki fase uji kepercayaan yang terlihat jelas di tiga pasar yaitu ekuitas, obligasi, dan valas,” kata Syafruddin dalam keterangannya, Senin (9/2/2026).

Menurut Syafruddin, sentimen pasar dapat berubah ketika lembaga global menilai kualitas pasar dan tata kelola mengalami penurunan. Kondisi tersebut mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio atau rebalancing, yang kerap disalahartikan sebagai serangan terkoordinasi.

Peringatan MSCI dan Dampaknya pada Pasar Saham

MSCI membekukan evaluasi indeks saham Indonesia hingga Mei 2026. Indonesia berpotensi turun kasta dari emerging market menjadi frontier market. Pasar saham Indonesia sempat tertekan setelah keputusan MSCI yang menerapkan perlakuan sementara terhadap pasar modal domestik.

Goldman Sachs menurunkan rekomendasi saham Indonesia setelah penyedia indeks global MSCI menyoroti risiko investabilitas di pasar modal Tanah Air. Langkah tersebut dinilai berpotensi memperpanjang tekanan jual, terutama dari investor pasif. Dalam laporan terbarunya, bank investasi asal Amerika Serikat (AS) itu memangkas outlook Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi underweight.

Analis Goldman menilai peringatan MSCI akan menjadi sentimen negatif yang membebani kinerja pasar saham Indonesia ke depan.

Outlook dari Moody’s

Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif, meski tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 atau satu tingkat di atas batas investment grade.

Moody’s juga menyatakan telah mengubah outlook lima bank di Indonesia dari negatif menjadi stabil, tetapi peringkat kreditnya masih tetap sama. Dalam pengumumannya, Moody’s menegaskan peringkat kredit, peringkat simpanan, peringkat senior unsecured, Counterparty Risk Ratings (CRR), Counterparty Risk Assessments (CRA), serta Baseline Credit Assessment dan Adjusted Baseline Credit Assessment untuk seluruh bank tersebut.

Berikut adalah perubahan outlook masing-masing bank:

  1. Bank Mandiri

    Dari sisi kinerja individual, Moody’s menilai Bank Mandiri masih memiliki permodalan, pendanaan, dan profitabilitas yang baik. Namun, lembaga pemeringkat tersebut menyoroti penurunan buffer modal, risiko kredit dari pertumbuhan kredit yang sebelumnya agresif, serta tingginya eksposur ke sektor komoditas dan sektor berisiko tinggi.

  2. BRI

    Untuk BRI, Moody’s menilai bank ini tetap memiliki profitabilitas dan permodalan yang sangat kuat. Risiko aset diperkirakan tetap tinggi pada 2026 dan 2027 karena eksposur signifikan pada kredit UMKM berisiko lebih tinggi.

  3. BNI

    Sementara itu, BNI dinilai memiliki permodalan yang kuat dan struktur pendanaan yang stabil, meskipun profitabilitasnya relatif lebih rendah dibandingkan bank sekelasnya.

  4. BCA

    Untuk BCA, Moody’s menegaskan kekuatan utamanya berada pada kualitas aset yang solid dan profitabilitas yang sangat tinggi, ditopang oleh dominasi di bisnis transaction banking.

  5. BTN

    Sementara BTN dinilai masih menghadapi tantangan struktural, terutama tingginya porsi restrukturisasi kredit dan rendahnya tingkat pencadangan dibandingkan risiko aset.


Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *