Sosok Wali Kota yang Mengedepankan Harmoni dan Partisipasi
Sosok Wali Kota Dedy Wahyudi memang menarik perhatian publik. Keberadaannya di tengah masyarakat membuatnya bisa diterima oleh berbagai kalangan. Kebijakan dan penampilannya yang cenderung menghindari konflik serta bersifat akomodatif menjadikan beliau sebagai figur yang dapat diakui oleh banyak pihak.
Latar belakang sebagai aktivis dan jurnalis memberikan wawasan khusus dalam merancang kebijakan yang diambil. Beliau memahami betul persoalan nyata di lapangan dan kebutuhan warga. Hal ini menjadi dasar bagi lahirnya berbagai kebijakan pro rakyat, terutama untuk kelompok miskin dan marginal. Bantuan bedah rumah dan bantuan kepada kelompok rentan merupakan bukti nyata dari kebijakan yang diambil dengan empati dan simpati.
Sebagai pemimpin politik, Dedy Wahyudi memahami bagaimana cara-cara politik bekerja. Di mana selalu ada intrik, konflik, dan bahkan drama. Oleh karena itu, setiap kebijakan dan program yang dijalankan selalu memiliki dampak politis. Pujian dan decak kagum publik sering kali disertai dengan cibiran, hujatan, dan kritikan.
Sebagai pejabat publik, beliau sangat sadar bahwa niat tulus dan kebaikan belum tentu dinilai positif. Terkadang, kebaikan tersebut dianggap sebagai pencitraan diri atau penggunaan kebaikan untuk kepentingan politik. Namun, ia tetap berkomitmen untuk menjalankan tugas dengan integritas dan kejujuran.
Dalam pengamatan saya, harus diakui bahwa sosok Dedy Wahyudi, menjelang satu tahun kepemimpinannya, telah mewujudkan berbagai mimpi yang sebelumnya nyaris tidak terwujud. Awalnya, ia menggerakkan Program Penataan dan Revitalisasi Kawasan Wisata sebagai sektor unggulan pemasukan APBD. Proses penataan kawasan Pantai Panjang dilakukan secara massif, mulai dari penertiban bangunan liar, kebersihan kawasan dari sampah, pembangunan sarana prasarana pendukung baru, hingga membangun kesadaran warga.
Program penataan dan revitalisasi kawasan wisata, terutama Pantai Panjang, tidak tanpa tantangan. Kesadaran dan kultur masyarakat yang rendah menyebabkan berbagai insiden yang merusak citra pariwisata Kota Bengkulu. Konten viral tentang aksi keributan pedagang di kawasan Pantai Panjang dengan pengunjung seolah-olah “menguburkan” kerja keras Walikota untuk menjadikan kawasan wisata yang ramah bagi semua pengunjung. Namun, dengan pendekatan yang baik kepada stakeholder yang terlibat, kesadaran pentingnya membangun kultur yang ramah, bersahabat, dan menyenangkan sudah mulai tampak.
Salah satu strategi yang dilakukan adalah Program Menanam 10000 Pohon Kelapa, yang berhasil memecahkan Rekor MURI. Program ini juga sebagai bentuk komitmen walikota dalam membangun dimensi ekologis dan keberlanjutan lingkungan. Meski beberapa pohon kelapa yang sudah ditanam dirusak dengan cara dicabut, hal ini tidak menyurutkan ambisi besar sang Walikota. Upaya menyulap kawasan Pantai Panjang dengan pohon kelapa akan tetap menjadi karya dan legacy bagi anak cucu kita kedepan.
Wali kota Dedy Wahyudi juga telah membuktikan bahwa revitalisasi Pasar sebagai sentra ekonomi sudah mulai terwujud. Penataan Pasar Panorama, Pasar Baru Koto, dan Pasar Minggu terus dilakukan. Di tengah cekaknya anggaran sebagai akibat beban belanja rutin pegawai dan efek efisiensi, tekad untuk menghadirkan infrastruktur dasar bagi warga kota tetap kuat.
Tidak hanya itu, Wali kota Dedy Wahyudi juga tetap melanjutkan program populis sebelumnya, seperti jalan mulus, BPJS gratis, program jemput sakit pulang sehat, merdeka ijazah, merdeka sampah, dan berbagai kebijakan populis lainnya. Salah satu yang paling fenomenal adalah Program Penertiban Pedagang Kaki Lima, yang selama ini belum pernah berhasil dilakukan. Namun, dibawah komando Walikota Dedy Wahyudi, sesuatu yang tidak mungkin menjadi nyata. Saat ini kita bisa menyaksikan seluruh kawasan Pasar para pedagang sudah berhasil ditertibkan, meskipun tantangan dilapangan beratnya luar biasa.
Aksi perlawanan dan penolakan dari para pedagang dihadapi dengan pendekatan persuasif dan partisipatif. Terbukti, pedagang di kawasan KZ Abidin dengan pendekatan diplomasi “ngopi bareng” ala Walikota, dengan kesadaran sendiri akhirnya para pedagang mau pindah dan tidak lagi berjualan di trotoar dan bahu jalan.
Pendekatan yang sama dilakukan Walikota Dedy Wahyudi ketika menyelesaikan masalah sopir mobil pengangkut sampah dengan Pemkot. Walaupun sudah diawali dengan aksi “menyerak” sampah di halaman Kantor Walikota sebagai bentuk protes terhadap buruknya kondisi jalan di kawasan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Air Sebakul. Melalui pendekatan yang merangkul dan akomodatif akhirnya bisa diselesaikan dengan penuh kekeluargaan dan saling asah, asuh, dan asih. Konflik yang awalnya begitu tajam akhirnya berakhir dengan makan bareng dan saling bercanda di markas beliau di Gedung Merah Putih.
Kalaupun ada gesekan dan konflik fisik di lapangan saat penertiban para pedagang, tidak mengendorkan semangat Walikota untuk mewujudkan wajah pasar yang bersih dan tertib. Bahkan terhadap pedagang yang terpaksa berhadapan dengan hukum sebagai akibat dari proses penegakan Perda, dengan lapang dada Walikota memaafkan kesalahan warganya dengan bersedia masalah tersebut diselesaikan melalui pendekatan keadilan restoratif justice.
Hal ini membuktikan jiwa besar sang Walikota bahwa tidak akan pernah punya niat untuk mengkriminalisasi warganya walaupun sudah bermasalah dengan hukum. Bahkan, terhadap pedagang yang berhadapan dengan hukum tersebut, rencananya Walikota akan menjadikan sebagai DUTA SATPOL PP. Dimana nanti akan bersinergi dan berkolaborasi dengan Pemkot dalam membantu program penertiban pedagang.
Walikota terus menyerukan mari bangun Kota Bengkulu dengan harmoni dan membangkitkan kesadaran kolektif yang berbasis partisipatif. Berbagai dinamika yang terjadi dilapangan harus disikapi secara obyektif dan bijak. Walikota akan tetap fokus dalam menyelesaikan setiap persoalan secara substantif dan pelibatan penuh masyarakat secara partisipatif.
Kedepan setiap persoalan dapat direspon secara cepat dan diatasi secara tepat, jangan sampai menunggu terjadi dulu eskalasi.
Terakhir saya mengajak kita semua, pemerintah, pedagang, sopir pengangkut sampah, kelompok sipil, dan seluruh stakeholder yang ada untuk bersama-sama membangun Kota Bengkulu yang kita cintai dan banggakan ini dengan suasana guyub.
Reporter digital yang mencintai dunia jurnalisme sejak bangku sekolah. Ia aktif mengikuti perkembangan media baru dan belajar teknik storytelling modern. Hobinya antara lain menyunting foto, menonton film thriller, dan berjalan malam. Motto: "Setiap cerita punya sudut pandang yang menunggu ditemukan."











