Perkembangan Transportasi di Manado dan Tantangan Bajaj Maxride
Transportasi di Sulawesi Utara terus berkembang, dengan berbagai moda yang mulai bermunculan. Dari ojek online hingga bus dan bajaj, semakin banyak pilihan yang tersedia bagi masyarakat. Salah satu yang kini menjadi sorotan adalah Bajaj Maxride, yang mencoba masuk ke Kota Manado untuk berbagi lahan dengan transportasi yang sudah ada.
Namun, langkah mereka tidak mudah. Pemerintah Kota Manado menolak izin operasional Bajaj sebagai angkutan umum. Alasannya sederhana: Bajaj tidak sesuai dengan visi Manado yang ingin maju dan sejahtera. Wali Kota Manado, Andrei Angouw, menyatakan bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan izin untuk operasional Bajaj di kota ini.
“Kami tak pernah keluarkan izin,” ujar Andrei dalam pemaparan program Pemkot Manado pada Jumat (23/1/2026) di salah satu Cafe di kawasan Kelurahan Lawangirung, Kecamatan Wenang, Manado, Sulut.
Menurutnya, pembangunan di Manado mengacu pada konsep kendaraan umum yang efisien dan nyaman. “Contohnya bus kita yang bisa angkut 20-an orang, jelas lebih efisien dari Bajaj yang hanya bisa angkut dua orang,” katanya.
Meskipun demikian, Bajaj Maxride tetap beroperasi di Manado. Mereka menawarkan layanan transportasi yang ramah lingkungan, aman, dan mudah diakses melalui aplikasi Maxride yang tersedia di iOS dan Android. Kendaraan ini juga memiliki mesin modern 200cc SOHC berteknologi DTSI (Double Twin Spark Injection), yang memberikan tenaga optimal serta efisiensi bahan bakar hingga 1 liter per 25 km.
Bajaj Maxride beroperasi di lima kecamatan utama: Malalayang, Mapanget, Singkil, Tuminting, dan Wanea. Jhon Ferdinand Senewe, Branch Manager Maxride Manado, menjelaskan bahwa kehadiran armada ini membawa harapan baru dalam peningkatan ekonomi lokal, penciptaan peluang kerja, serta solusi transportasi modern.
Sebelumnya, Bajaj sukses beroperasi di berbagai kota seperti Makassar, Medan, Yogyakarta, Solo, Semarang, dan Pekanbaru. Di sana, Bajaj Maxride berhasil menyerap ribuan tenaga kerja sebagai mitra driver. Pendapatan harian para mitra tersebut mencapai ratusan ribu rupiah per hari, sehingga meningkatkan taraf hidup keluarga mereka.
Selain itu, Maxride juga menawarkan peluang investasi nyata bagi pengusaha muda di Manado yang ingin menjadi Juragan Bajaj Maxride. Dengan sistem investasi yang tergolong high profit, low risk, para juragan berpotensi memperoleh keuntungan hingga 21 persen per tahun atau sekitar Rp 2,5 juta per bulan. Angka ini lebih tinggi dari bunga bank konvensional dan lebih stabil dibandingkan investasi saham maupun aset kripto.
Setiap unit Bajaj Maxride adalah kendaraan multifungsi ber-TNKB hitam, sehingga dapat digunakan untuk berbagai keperluan pribadi maupun usaha. Mulai dari kendaraan keluarga, angkut barang, angkutan penumpang, hingga mini food truck.
Meski tidak memiliki izin resmi dari Pemerintah Kota Manado, Bajaj Maxride tetap beroperasi dan tampak diminati oleh masyarakat. Kendaraan ini sering terlihat penuh saat melintasi jalan-jalan di kota Manado. Sejauh ini, operasional Bajaj Maxride seperti anjing menggonggong kafilah berlalu, tetapi tetap berjalan.
Dengan jumlah pengangguran yang masih tinggi, kehadiran Bajaj Maxride menjadi momentum penting bagi Kota Manado. Melalui operasional yang dibuka kembali, Maxride berkomitmen menjadi bagian dari solusi nyata bagi tantangan ketenagakerjaan di kota ini, terutama bagi pekerja informal dan masyarakat produktif usia kerja.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











