"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Kontroversi Dewan Perdamaian Gaza: AS, Spanyol, dan Jerman Menolak, Indonesia Mendukung

Inisiatif Dewan Perdamaian Gaza yang Memicu Kontroversi

Inisiatif Amerika Serikat (AS) untuk membentuk Dewan Perdamaian Gaza memicu reaksi beragam dari berbagai pihak di dunia internasional. Proyek ini, yang diperkenalkan oleh mantan Presiden AS Donald Trump, bertujuan untuk menghadirkan mekanisme baru dalam penyelesaian konflik di wilayah tersebut. Namun, inisiatif ini juga menimbulkan pertanyaan serius tentang legitimasi, multilateralisme, dan peran PBB dalam isu-isu global.

Penolakan Eropa terhadap Inisiatif AS

Spanyol dan Jerman menjadi dua negara yang secara tegas menolak undangan bergabung dalam Dewan Perdamaian. Kedua negara ini menyatakan bahwa inisiatif ini tidak sejalan dengan prinsip multilateralisme yang sudah lama menjadi dasar kerja sama internasional. Spanyol, khususnya, menilai bahwa Dewan Perdamaian tidak melibatkan Otoritas Palestina, sehingga dianggap tidak inklusif dan bisa melemahkan representasi rakyat Gaza.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menegaskan bahwa keputusan mereka didasarkan pada komitmen terhadap hukum internasional dan sistem PBB. Ia menilai bahwa pendekatan seperti ini bisa menciptakan ketidakseimbangan dalam diplomasi global. Sementara itu, Jerman menolak setelah meninjau dokumen resmi yang merinci struktur dan wewenang dewan. Dokumen tersebut menyebutkan bahwa Presiden AS memiliki otoritas luas dalam menentukan keanggotaan dan pengambilan keputusan, yang menimbulkan kekhawatiran tentang dominasi satu negara dalam mekanisme perdamaian global.

Perspektif Timur Tengah

Di sisi lain, beberapa negara di kawasan Timur Tengah melihat Dewan Perdamaian sebagai peluang untuk mempercepat proses rekonstruksi Gaza. Fase kedua gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah memungkinkan dimulainya pembangunan kembali wilayah yang hancur akibat konflik. Dalam konteks ini, inisiatif AS dianggap sebagai langkah pragmatis untuk memastikan stabilitas jangka panjang di kawasan.

Struktur dan Tujuan Dewan Perdamaian



Dewan Perdamaian Gaza, yang diperkenalkan oleh Trump dalam Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, merupakan bagian dari rencana perdamaian Gaza versi Trump. Rencana ini termasuk dalam 20 poin yang telah disetujui oleh Dewan Keamanan PBB pada November 2025. Fokus awal dewan adalah pada rekonstruksi Gaza, tetapi dokumen internal menunjukkan bahwa mandatnya bisa meluas ke krisis global lainnya.

Tujuan utama dewan adalah menciptakan kerangka kerja stabil dan terpusat untuk menjaga gencatan senjata, mencegah konflik kembali pecah, serta mempercepat pembangunan kembali wilayah yang hancur. Trump menyebut dewan ini sebagai solusi yang lebih efisien dibanding mekanisme internasional yang ada, yang menurutnya sering terhambat birokrasi dan kepentingan politik.

Namun, banyak sekutu tradisional AS, terutama di Eropa, mempertanyakan legitimasi dewan ini. Mereka khawatir bahwa inisiatif ini bisa melemahkan peran PBB dan mengabaikan keterlibatan langsung Otoritas Palestina.

Keikutsertaan Indonesia

Indonesia menjadi salah satu negara yang bergabung dalam Dewan Perdamaian. Presiden RI Prabowo Subianto hadir langsung dalam forum tersebut dan berdiri sejajar dengan sejumlah pemimpin dunia saat pengumuman keanggotaan diumumkan. Momentum ini juga menandai interaksi langsung antara Prabowo dan Trump, termasuk jabat tangan di atas panggung bertuliskan “Board of Peace.”

Meski demikian, pidato Trump tidak secara spesifik menyinggung isu Palestina maupun konflik di Timur Tengah, meskipun isu tersebut telah dibahas oleh pemimpin dunia lain sebelum forum. Trump hanya menegaskan bahwa Dewan Perdamaian merupakan proyek besar yang realistis dan berdampak, tanpa merinci proyek apa yang akan dijalankan.

Selain Indonesia, negara-negara lain yang bergabung antara lain Pakistan, Mesir, Jordania, Uni Emirat Arab, Turki, Saudi Arabia, dan Qatar. Negara lain yang tergabung termasuk Bahrain, Maroko, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Belgia, Bulgaria, Kazakhstan, Kosovo, Mongolia, dan Paraguay.

Sorotan DPR RI



Keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian juga disorot oleh Komisi I DPR RI, yang membidangi urusan luar negeri dan pertahanan. Anggota Komisi I, Oleh Soleh dari Fraksi PKB, meminta penjelasan resmi pemerintah mengenai dasar dan arah kebijakan tersebut. Menurut Soleh, Indonesia harus memastikan partisipasinya konsisten dengan prinsip konstitusional politik luar negeri bebas dan aktif.

Ia menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak dapat dilepaskan dari prinsip keadilan. Penghormatan terhadap hukum internasional, hak asasi manusia, dan hak rakyat Palestina atas kemerdekaan harus menjadi prioritas. Oleh Soleh juga menekankan bahwa keikutsertaan Indonesia harus bersifat substantif dan independen, bukan simbolik, serta tidak boleh digunakan untuk melegitimasi ketidakadilan atau agenda politik sepihak.

Reaksi Internasional dan Kontroversi

Penolakan Spanyol dan Jerman mencerminkan kekhawatiran sebagian besar Eropa terhadap Dewan Perdamaian. Mereka menilai forum ini bisa melemahkan multilateralisme, menggeser peran PBB, dan membuka peluang dominasi AS dalam diplomasi perdamaian global. Di sisi lain, beberapa negara Timur Tengah melihat forum ini sebagai kesempatan untuk mempercepat rekonstruksi Gaza, meningkatkan koordinasi bantuan kemanusiaan, dan memastikan stabilitas pasca-konflik.

Kontroversi Diplomatik

Dewan Perdamaian Gaza menjadi salah satu proyek diplomatik paling kontroversial Trump, karena potensi dampak luasnya terhadap sistem global dan prinsip multilateralisme. Keberhasilan forum ini akan bergantung pada penerimaan komunitas internasional, kemampuan koordinasi dengan PBB, serta dampak nyata bagi warga Gaza.

Dewan Perdamaian Gaza memunculkan perdebatan serius di tingkat internasional. Penolakan Spanyol dan Jerman menunjukkan adanya resistensi terhadap dominasi satu negara dalam mekanisme perdamaian global. Sementara itu, Indonesia, bersama beberapa negara Timur Tengah dan negara lain, memilih bergabung, membuka ruang bagi pengaruh diplomasi Indonesia yang substansial di forum internasional.

Langkah Indonesia harus dijalankan dengan prinsip transparansi, konstitusional, dan konsisten dengan dukungan terhadap penyelesaian konflik Palestina-Israel melalui mekanisme multilateral yang sah. Inisiatif Trump, meski kontroversial, tetap menjadi salah satu proyek diplomatik global paling diperhatikan di 2026, dengan implikasi politik, hukum, dan kemanusiaan yang signifikan.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *