"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Siswa SMA Gorontalo Alami Trauma Berat Usai Dianiaya

Trauma Berat yang Menghancurkan Kehidupan Seorang Siswi SMA

Kabut pilu menyelimuti perasaan seorang siswi kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Gorontalo. Remaja yang seharusnya menghabiskan waktu dengan belajar dan bercengkerama bersama teman sebaya, kini justru terpuruk dalam trauma mendalam. Pasca menjadi korban dugaan pengeroyokan oleh tiga remaja perempuan, kondisi psikologis korban dilaporkan merosot tajam. Ia kini menarik diri sepenuhnya dari lingkungan sosial.

Berdasarkan keterangan pihak keluarga, korban mengalami perubahan perilaku yang sangat drastis sejak peristiwa kelam pada Senin malam (19/1/2026) tersebut. Tangisan yang pecah secara tiba-tiba menjadi pemandangan menyedihkan bagi sang ibu, R, yang terus mendampingi putrinya dalam kondisi hancur. “Anak saya trauma berat. Dia tidak mau makan berhari-hari, takut keluar kamar, dan sering menangis sendiri,” ungkap R kepada sumber terpercaya, Sabtu (24/1/2026).

Luka fisik mungkin bisa mengering seiring waktu, namun luka batin yang dialami siswi SMA ini tampaknya butuh waktu jauh lebih lama untuk sembuh. Setiap kali teringat akan kejadian di lapangan minim cahaya itu, tubuh korban dilaporkan kerap gemetar hebat karena rasa takut yang belum hilang.

Upaya untuk memulihkan kondisi mentalnya pun menghadapi jalan terjal. Saat dibawa ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), sesi asesmen tidak berjalan mulus. Psikiater yang menangani korban terpaksa menghentikan pemeriksaan karena korban terus-menerus menangis histeris dan tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Kondisi ini menegaskan betapa dalamnya dampak kekerasan yang diterima korban, baik secara fisik maupun verbal dari para pelaku.

Kronologi Kejadian

Pengeroyokan ini bermula ketika korban berpamitan pada Senin malam (19/1/2026) sekitar pukul 18.30 Wita untuk berkumpul di rumah seorang teman. Sebagai anak yang dikenal pendiam dan tertutup, sang ibu sama sekali tidak memiliki firasat buruk saat mengizinkan putrinya pergi. Namun, di lokasi yang dijanjikan, korban ternyata sudah ditunggu oleh tiga remaja perempuan yang siap melampiaskan amarah.

Satu dari ketiga pelaku tersebut diketahui merupakan teman sekelas korban sendiri, sosok yang seharusnya menjadi rekan belajar di sekolah. Korban sempat berupaya bernegosiasi agar pembicaraan dilakukan secara baik-baik di dalam rumah tersebut. Bahkan, pemilik rumah yang menjadi lokasi pertemuan sempat melarang rombongan remaja itu untuk pergi keluar karena hari sudah gelap. Namun, tekanan dari para pelaku membuat korban tidak berdaya dan akhirnya terpaksa mengikuti kemauan mereka menuju sebuah lapangan di jalan eks Agussalim.

Di lokasi yang sepi dan minim penerangan itulah, tindakan tidak manusiawi mulai dilancarkan kepada korban yang tak berdaya. Ponsel milik korban disita secara paksa agar ia tidak bisa menghubungi siapapun untuk meminta pertolongan. Adu mulut yang dipicu oleh masalah asmara itu dengan cepat berubah menjadi aksi kekerasan fisik yang brutal. Rambut korban ditarik dengan kasar, ia dipukul berkali-kali, dan bagian perutnya ditendang oleh para pelaku secara bergantian. Kekejaman tidak berhenti di situ; korban bahkan dibanting ke tanah hingga kepalanya terasa pening luar biasa.

“Saat dia berusaha bangun, wajahnya disenter lalu dipukul lagi,” cerita R, menggambarkan betapa traumatisnya momen yang dialami anaknya. Kekerasan yang terencana ini meninggalkan bekas luka lebam di sekujur tubuh, namun yang lebih parah adalah hancurnya rasa percaya diri korban.

Setelah kejadian, korban yang dalam keadaan syok sempat bersembunyi di rumah temannya karena merasa takut dan malu untuk pulang. Keluarga yang akhirnya mengetahui kejadian tersebut langsung membawa korban untuk menjalani visum dan pemeriksaan medis malam itu juga. Hasil pemeriksaan psikiater menyimpulkan bahwa korban mengalami guncangan jiwa yang masuk dalam kategori trauma berat.

Interaksi sosial yang dulunya biasa dilakukan, kini menjadi hal yang menakutkan bagi remaja kelas XI ini. Pihak sekolah sebenarnya telah mencoba memediasi pertemuan antar orang tua untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Namun, harapan akan adanya itikad baik justru berujung kekecewaan bagi ibu korban karena tidak adanya permintaan maaf yang tulus. Mirisnya, salah satu orang tua pelaku yang berprofesi sebagai pendidik justru disinyalir melakukan pembelaan berlebihan terhadap anaknya.

Hal ini memicu kemarahan R, yang merasa keadilan bagi anaknya tidak akan tercapai jika hanya melalui jalur damai di sekolah. R kini telah memantapkan hati untuk menempuh jalur hukum demi mencari keadilan yang seadil-adilnya bagi putrinya. “Saya tidak ingin ada damai karena harus ada efek jera agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *