"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Kernet Angkot Kini Duduki Kursi DPR, Syafiuddin: Berkat Doa Ibu



BANGKALAN,

Sosok Syafiuddin, anggota Komisi V DPR RI, memiliki kisah hidup yang penuh perjuangan dan ketekunan. Dikenal oleh banyak orang, ia lahir dari keluarga sederhana di pelosok Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Perjalanan hidupnya tidak mudah, tetapi dengan tekad kuat, ia berhasil meraih kesuksesan yang kini menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Pada usia dua tahun, Syafiuddin kehilangan ayahnya, Asmoro. Sejak saat itu, ia tidak pernah mengetahui wajah ayahnya. Pada masa itu, alat fotografi masih jarang ditemukan, sehingga tak ada gambar atau kenangan tentang ayahnya yang bisa ia lihat. Meski begitu, ia tumbuh dengan semangat untuk mengubah nasibnya sendiri.

Sejak kecil, Syafiuddin memiliki tekad kuat untuk melanjutkan pendidikan meskipun tinggal dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah. Saat memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia harus mengayuh sepeda sejauh 20 kilometer dari rumahnya ke sekolah. Ini dilakukannya demi menghemat biaya transportasi.

“Saat itu, teman-teman naik angkot. Saya memilih bersepeda agar bisa hemat,” ujar Syafiuddin.

Setelah lulus SMP, ia melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Atas (SMA) sambil menjadi santri di Pondok AL Kholiliyah Karang Butoh, Bangkalan. Ia memilih tinggal di pondok agar lebih dekat dengan sekolah.

Namun, kehidupan Syafiuddin tidak selalu mulus. Setelah lulus SMA, ia menghadapi tantangan besar: tidak memiliki biaya untuk kuliah. Di usia 18 tahun, ia lulus SMA, dan pada usia 19 tahun, ia menikah. Awalnya, pernikahan ini tidak direstui karena ia dianggap tidak mampu. Namun, tanggung jawab sebagai kepala keluarga membuatnya terpaksa bekerja.

Salah satu pekerjaan pertamanya adalah menjadi kernet angkot jurusan Bangkalan-Sampang. Pekerjaan ini tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan, dulu, ia pernah menjadi pelanggan becak yang sama seperti supir angkot tersebut.

“Saya ingat betul waktu naik becak saat SMA. Dalam hati saya, saya tidak ingin jadi tukang becak karena saya sedang sekolah. Tapi takdir berkata lain, tukang becak itu justru menjadi bos saya,” cerita Syafiuddin dengan senyum.

Setelah tiga tahun menjadi kernet, ia berhenti karena kebutuhan keluarga terus bertambah. Masa-masa sulit itu membuatnya terjebak dalam “lembah hitam”. Di tengah keterpurukan, ia juga aktif sebagai aktivis dan bergabung dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dari situlah, ia mengenal sosok RKH Fuad Amin Imron yang saat itu menjabat sebagai anggota DPR RI.

“Mulai tahun 2000-an, saya ikut Kiai Fuad. Meski ada pro kontra terhadap beliau, melalui beliau, saya mendapatkan jalan untuk menjadi seperti sekarang,” kata Syafiuddin.

Ia bahkan menjadi bodyguard Kiai Fuad dan ikut serta dalam berbagai kegiatan politik. Dari situ, ia mulai mengenal dunia politik. Pada tahun 2003, ia mendukung Kiai Fuad maju sebagai Bupati Bangkalan. Alhamdulillah, Kiai Fuad terpilih. Tahun 2004, Syafiuddin mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Bangkalan dan terpilih.

Dengan kondisi ekonomi yang membaik, ia ingin melanjutkan studi. Sembari bekerja sebagai anggota dewan, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Wijaya Putra dengan jurusan Administrasi Negara. Ia juga tumbuh di bawah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Di tahun 2014, ia mencoba peruntungan di tingkat provinsi dan terpilih sebagai anggota DPRD Provinsi Jatim periode 2014-2019. Setelah itu, ia pindah partai dan bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Pada 2019, ia kembali ke PKB dan mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI. Alhamdulillah, ia terpilih kembali pada Pileg 2024 hingga saat ini.

Selain fokus pada dunia politik, Syafiuddin juga terus meningkatkan kemampuan akademiknya. Pada 2020, ia melanjutkan studi S2 di Universitas Trunojoyo Madura dengan program Pascasarjana Ilmu Hukum dan lulus pada 2023.

Perjalanan panjang Syafiuddin tak lepas dari peran ibundanya, Mardiah. Menurut dia, doa dan kesabaran ibunya menjadi kunci kesuksesannya.

“Di mana pun saya selalu mengatakan, kunci sukses salah satunya adalah doa ibu. Kita harus memuliakan ibu,” ujarnya.

“Sukses saya ini tidak masuk akal, tapi terjadi berkat doa ibu. Restu dan doa ibu selalu diijabah oleh Allah,” tutup Syafiuddin.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *