Presiden AS dan Kekuatan Militer di Timur Tengah
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, masih menunjukkan sikap keras terhadap Iran. Hal ini terlihat dari pengerahan kekuatan militer AS di kawasan Timur Tengah. Langkah ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan serangan militer terhadap Teheran. Sejumlah aset tempur utama Amerika Serikat dilaporkan terus bergerak menuju kawasan tersebut.
Gugus Tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln (Carrier Strike Group/CSG) diketahui bergerak ke arah barat, sementara pesawat tempur taktis tambahan, pesawat angkut militer, serta pesawat pengisi bahan bakar udara diterbangkan ke arah Timur Tengah. Data pelacak penerbangan daring menunjukkan sejumlah jet tempur F-15E Strike Eagle lepas landas dari Pangkalan Udara RAF Lakenheath di Inggris. Pesawat-pesawat tersebut terbang menuju Timur Tengah dengan pendampingan pesawat pengisi bahan bakar udara KC-135 Stratotanker.
Jurnalis Amerika Serikat sekaligus pengamat pertahanan, Howard Altman, menyebutkan bahwa F-15E, khususnya yang berbasis di RAF Lakenheath, merupakan tulang punggung kekuatan udara AS di Timur Tengah. Jet tempur ini telah mempertahankan kehadiran hampir terus-menerus di Yordania selama hampir satu dekade terakhir. Menurutnya, F-15E juga berada di garis depan dalam menghadapi berbagai serangan drone dan rudal jelajah Iran yang ditujukan ke Israel.
“Kami kini lebih mampu menjalankan misi itu daripada sebelumnya. Keberangkatan mereka ke Timur Tengah sebagian besar sudah diperkirakan karena ketidakstabilan saat ini dan ancaman,” katanya. Selain kemampuan ofensifnya, jika Iran melancarkan serangan besar terhadap Israel dan/atau aset AS di kawasan, baik secara preemptive maupun balasan, F-15E akan memainkan peran penting dalam mempertahankan diri dari serangan tersebut.
Meskipun berulang kali menolak berkomentar tentang status pasukan saat ini di kawasan, CENTCOM memposting gambar F-15E yang mendarat di Timur Tengah pada hari Selasa. Ada juga peningkatan jet kargo C-17 Globemaster III menuju kawasan tersebut. Setiap aksi terhadap Iran kemungkinan akan membutuhkan masuknya sistem pertahanan udara, materi, dan pasukan, yang memerlukan penggunaan transportasi.
Meskipun AS kemungkinan akan membutuhkan lebih banyak pertahanan udara, beberapa sudah ada di kawasan, seperti Sistem Peluncur Darat Lanjutan Elektronik yang dipamerkan oleh CENTCOM dalam posting X terbaru. Angkatan Udara AS juga telah menerbangkan tank M1 Abrams dan Kendaraan Tempur Bradley M2 ke kawasan, tetapi tidak jelas apakah itu terkait dengan operasi apa pun yang melibatkan Iran.
“Hal ini memperlihatkan, meskipun AS memiliki pesawat taktis, enam kapal perang, dan sekitar 30.000 pasukan di kawasan, tampaknya tidak siap untuk operasi besar yang berkelanjutan terhadap Iran yang dapat secara radikal mengubah status quo, atau serangan rudal dan drone yang diharapkan akan menyusul,” ujarnya.
Sikap Israel
Seiring dengan meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan, Israel bersiap menghadapi serangan terhadap dan dari musuh bebuyutannya, yang terakhir kali mereka lawan selama Perang 12 Hari pada bulan Juni. “Tel Aviv akan bertindak dengan kekuatan yang belum pernah dilihat Iran sebelumnya,” kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Senin. “Kami mengikuti dengan cermat apa yang terjadi di Iran,” kata Netanyahu kepada Knesset, seperti dicatat The New York Post.
“Kami semua melihat dengan rasa kagum perjuangan heroik warga Iran untuk mencapai kebebasan, kesejahteraan, dan keadilan. Kami melihat kekejaman pembantaian yang diperintahkan oleh para penguasa Iran,” puji Netanyahu kepada perusuh di Iran. “Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi besok di Iran, tetapi satu hal jelas: apa pun yang terjadi, Iran tidak akan kembali seperti sebelumnya,” peringatkan pemimpin Israel itu.
Kegagalan Mendestabilisasi Teheran
Analis Timur Tengah Shivan Mahendrarajah mengatakan, upaya Israel untuk mendestabilisasi Iran dari dalam telah gagal, namun dalih baru untuk perang mulai bermunculan. Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, baru-baru ini berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, di mana ia dikabarkan mengajukan tuntutan yang keterlaluan — menghentikan pengayaan nuklir, menyerahkan uranium yang telah diperkaya, serta mengurangi jangkauan dan stok rudal. Jika mengamini seluruh tuntuan ini, Iran sama saja diminta untuk menyerah—yang Washington tahu akan ditolak oleh Teheran.
AS akan mengklaim “Iran menolak bernegosiasi dengan itikad baik” sebagai casus belli (alasan perang). Doktrin militer Iran pada dasarnya bersifat defensif; sedangkan Israel tidak. Namun posisi itu mungkin berubah. Pada Agustus 2025, pensiunan Jenderal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Yahya Safavi, penasihat senior Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, menyatakan: “Kita harus mengadopsi strategi ofensif.” Dalam pernyataan Januari, Dewan Pertahanan Iran mengatakan, “dalam kerangka pertahanan yang sah, Republik Islam Iran tidak membatasi diri untuk bereaksi setelah adanya tindakan dan menganggap tanda-tanda ancaman objektif sebagai bagian dari persamaan keamanan.”
Perang Telah Dimulai
Iran menghadapi ancaman nyata. Perang 12 Hari pada bulan Juni memperjelas bahwa AS dan Israel bertindak bersama-sama. Pengakuan Trump sendiri mengonfirmasi bahwa “negosiasi” Oman hanyalah tipu muslihat untuk menenangkan Teheran. “Kerusuhan yang terjadi tidaklah spontan. Pengendali dari Israel dan Barat mengoordinasikan operasi di berbagai provinsi, menyalurkan uang tunai, senjata, bahan peledak, dan terminal Starlink,” ujar Shivan. Media global memperkuat angka kematian yang dimanipulasi — 12.000 hingga 20.000 — untuk menciptakan persetujuan publik bagi intervensi asing.
Perang 12 Hari tidak pernah berakhir. Dilema bagi Teheran sekarang adalah pilihan biner: apakah Iran harus menerima pukulan pertama atau melayangkan pukulan pertama?
Upaya untuk Bertahan Hidup
Shivan Mahendrarajah menilai, ancaman ini bersifat eksistensial. AS dan Israel tidak hanya menginginkan pergantian rezim, tetapi juga disintegrasi Iran berdasarkan garis etnis-linguistik. Kerusuhan dimaksudkan untuk memicu perang saudara — seperti Suriah dan Libya. Jika Republik Islam runtuh, AS akan menjarah warisan minyak dan gas rakyat Iran, seperti yang terjadi pada Venezuela.
Selama 47 tahun, Iran telah menanggung sanksi, ancaman, sabotase, dan Perang Iran-Irak yang didukung Barat. “Negosiasi tidak ada gunanya. JCPOA disabotase oleh Tel Aviv,” katanya. “Film horor” selama hampir lima dekade ini akan berakhir dengan salah satu dari dua cara: Iran runtuh, atau blok pimpinan AS dikalahkan.
Giliran Teheran Melangkah
Shivan Mahendrarajah menilai Israel tidak pernah bernegosiasi. “Mereka menuntut, mencuri, dan membunuh. Iran telah bernegosiasi tanpa henti — dan tidak mendapatkan apa-apa. Mungkin sudah waktunya untuk bertindak seperti yang dilakukan Tel Aviv,” katanya. “Iran mungkin perlu mempertimbangkan ‘strategi tujuan terbatas,’ di mana tujuannya bukan kekalahan total musuh, melainkan perang yang memaksa musuh untuk duduk di meja perundingan dan memperlakukan bangsa Iran sebagai setara. Iran mengalami penghinaan yang sama dengan Rusia; meskipun telah beritikad baik, mereka tetap dipandang rendah,” katanya.
“Kekuasaanlah yang memenangkan rasa hormat. Iran harus melakukan hal yang sama — mempermalukan musuhnya dan mendikte syarat-syaratnya.” Ia menambahkan, perjanjian yang dinegosiasikan bukan hanya soal pencabutan ribuan sanksi, tetapi secara permanen melumpuhkan elemen diaspora Iran yang paling berkhianat (Pahlavist, MEK, separatis Kurdi PJAK, dan separatis Baluch Jaish al-Adl) yang telah merusak citra Iran secara global dengan pendanaan asing.
Aliansi Rusia–Cina–Iran
Hal di atas mengandaikan bahwa Iran telah menambal celah dalam arsitektur militernya dan terus menerima dukungan dari Rusia dan Cina. Dalam Perang 12 Hari, Cina memberikan dukungan intelijen satelit (ISR) kepada Iran. Angkatan udara Iran yang usang juga menunggu pengiriman jet tempur Su-35. Iran membutuhkan kedua mitra ini sebelum memulai perang preemtif.
“Cina menganggap Iran integral bagi strategi regionalnya. Jika AS dipermalukan di Teluk Persia, Taiwan tidak akan lagi bergantung pada AS yang kalah untuk keamanannya,” katanya. Rusia pun memiliki dendam yang harus dibalas karena senjata AS telah membunuh ribuan orang Rusia di Ukraina. Serangan proksi terhadap pasukan Amerika di Timur Tengah adalah opsi logis bagi Kremlin.
Jendela Kesempatan Segera Tertutup
“Perang Kilat” (blitzkrieg) bertujuan melumpuhkan aset angkatan laut kritis secara cepat sebelum dapat digunakan melawan Iran, diikuti oleh “perang atrisi” (kelelahan) yang tidak akan sanggup ditanggung oleh AS dan Israel. “Namun, ini hanya akan berhasil jika Iran memiliki penangkal nuklir (nuclear deterrent). Tanpa itu, kemenangan tidak pasti. Netanyahu sudah tidak terkendali, dan Trump tampak semakin tidak stabil secara mental. Jika perang memang harus terjadi — dan sepertinya memang akan terjadi — maka perang itu harus dimulai dengan syarat-syarat dari pihak Iran,” pungkasnya.











