"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

ISIS Kini Berpindah ke Turki, Ancaman Global yang Mengkhawatirkan?

Insiden Baku Tembak di Yalova dan Ancaman Ekstremis di Turki

Pada pagi 29 Desember tahun lalu, sebuah peristiwa yang mengejutkan terjadi di kota Yalova, Turki. Terjadi baku tembak selama delapan jam antara aparat keamanan dan kelompok Islamic State di Provinsi Khorasan (ISKP). ISKP adalah cabang dari kelompok ekstremis Islamic State atau IS. Peristiwa ini memicu kepanikan nasional dan menjadi perhatian utama pemerintah serta masyarakat.

Dalam insiden tersebut, tiga petugas polisi tewas, sementara delapan lainnya dan seorang petugas keamanan terluka, beberapa dalam kondisi kritis. Menurut Kementerian Dalam Negeri Turki, para petugas sedang menindaklanjuti petunjuk konkret bahwa kelompok ekstremis tersebut berencana melakukan serangan pada perayaan Malam Tahun Baru di seluruh negeri. Kementerian Luar Negeri Jerman juga memperketat saran perjalanan ke Turki dan mendesak kewaspadaan khusus.

Fakta bahwa enam terduga teroris yang tewas bukan orang asing melainkan warga Turki, mengejutkan publik. Selama ini, narasi yang berlaku di Turki adalah bahwa kelompok seperti ini terutama menggunakan negara itu sebagai jalur transit untuk operasi di Asia Tengah atau Timur Tengah. Namun, di Yalova ternyata kepala sel dan semua anggotanya adalah warga Turki, dengan persenjataan besar yang tersedia.

Menurut laporan media lokal, dua dari pria yang tewas sebelumnya pernah dipenjara karena terbukti menjadi anggota organisasi teroris dan percobaan pembunuhan. Mereka dibebaskan dengan masa percobaan hanya tujuh bulan sebelumnya, meskipun radikalisasi mereka sudah diketahui pihak berwenang. Pihak berwenang mengatakan salah satu dari pria itu bahkan mencoba memaksa ibunya pergi ke wilayah Islamic State di Afganistan dan Pakistan untuk membawanya ke “jalan yang benar satu-satunya.”

Keberadaan IS di Turki: Sejarah dan Perkembangan

Kehadiran IS di wilayah Turki bukan hal baru. Sejak 2012, diperkirakan antara 5.000 hingga 8.000 warga Turki telah bergabung dengan kelompok tersebut di Suriah dan Irak. Banyak dari mereka kembali setelah menjalani pelatihan dan melakukan serangan teroris antara 2015 dan 2017, menewaskan hampir 300 orang.

Dalam beberapa tahun terakhir, ISKP, yang didirikan pada 2015 untuk pertama kali beroperasi di Afganistan dan Pakistan, telah memperoleh pijakan di Turki dan memprofesionalkan jaringannya. Ahli keamanan Turki, Burak Yildirim, mengonfirmasi bahwa Turki tidak lagi sekadar menjadi negara transit bagi kelompok ini, melainkan telah menjadi pusat rekrutmen dan pendanaan. Ia mengatakan bahwa ISKP secara khusus mencari pendukung di pinggiran kota Turkiye yang berpenghasilan rendah.

Para perekrut radikal menargetkan mereka, terutama warga lokal yang menganggap garis resmi otoritas agama terlalu liberal. ISKP disebut semakin profesional, dengan dukungan dari Asia Tengah. Dalam majalah bahasa Inggris bulanan mereka, “Voice of Khorasan,” ISKP menyebut Turki sebagai negara di mana mereka melakukan sebagian besar aktivitas logistik dan serangan.

Perubahan Geopolitik dan Ancaman yang Berkembang

Banyak anggota IS melarikan diri ke Turki setelah kelompok itu dikalahkan di Suriah pada 2019 dan Taliban kembali berkuasa di Afganistan pada 2021. Layanan intelijen Turki menyebut ISKP menjadi semakin profesional. Huseyin Cicek, seorang ilmuwan politik di Universitas Wina, mengatakan bahwa kelompok itu ditoleransi karena alasan geopolitik, tetapi sekarang, dengan pemimpin berbeda di Suriah yang didukung Turki, situasinya telah berubah.

Ancaman terorisme domestik di Turki meningkat pesat sejak 2024, menurut Cicek. Prioritas utama pemerintah sekarang adalah keamanan dalam negeri. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan bahwa pasukan keamanan lokal melakukan hampir 1.400 penggerebekan terhadap struktur IS hanya pada tahun 2024. Penggerebekan terus berlanjut pada 2025. Pada akhir tahun lalu, lebih dari 500 anggota IS yang diduga telah ditangkap. Dinas rahasia Turki juga menangkap tokoh ISKP terkemuka di wilayah perbatasan antara Afghanistan dan Pakistan, dan memindahkan mereka ke Turki.

Kesimpulan dan Peringatan

“ISKP telah belajar dari kesalahan dan kekalahan teritorialnya di Timur Tengah,” kata Yildirim. Ia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, kelompok ini telah menjalin kontak strategis dengan milisi bersenjata di Afrika untuk mendapatkan akses ke sumber senjata baru dan strategi pertempuran. Ia mengatakan, ini membuat kelompok tersebut “semakin berbahaya.” Tujuan strategis jangka panjangnya, katanya, masih memanfaatkan kekosongan kekuasaan dengan tujuan mendirikan “kekhalifahan.”

Menurut Kantor Federal Jerman untuk Migrasi dan Pengungsi, terdapat total 23 kelompok IS di seluruh dunia pada 2024, tetapi ISKP diklasifikasikan sebagai yang paling berbahaya. Sejak 2024, kelompok ini telah melakukan serangan di Iran, Rusia, dan Australia. Cicek dan pakar lain memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut dapat terjadi kapan saja.

“Turki dan Eropa telah hidup dengan ancaman laten ini selama bertahun-tahun,” kata Cicek.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *