Penemuan Jenazah Korban Kedua Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung
Tim SAR Gabungan berhasil menemukan jenazah korban kedua dari pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kaki Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada kedalaman sekitar 300 meter. Jenazah tersebut ditemukan dalam kondisi utuh meski medan dan cuaca sangat sulit.
Korban diketahui berjenis kelamin perempuan dan diduga merupakan anggota kru pesawat. Proses pencarian dilakukan oleh tim SAR SRU 1 yang terdiri dari 18 orang, termasuk personel dari Marinir, ARAI Sulsel, Polairud, Jasdam, serta BPBD Kota Makassar. Salah satu anggota tim, Serda Marinir Syamsul Alam, mengungkapkan bahwa jenazah pertama kali dilihat oleh SAR ARAI Sulsel, Saiful Malik, pada pukul 14.00 Wita.
Kondisi Medan dan Cuaca yang Ekstrem
Cuaca saat itu sangat tidak mendukung untuk proses evakuasi. Kebiasaan kabut dan jalanan yang terjal membuat kegiatan penyelamatan menjadi lebih rumit. Syamsul Alam menjelaskan bahwa posisi jenazah berada di jurang dengan kedalaman sekitar 300 meter. Ia dan rekan-rekannya kemudian memutuskan untuk menutup jenazah sambil menunggu kedatangan petugas lain yang membawa kantong mayat.
Pukul 15.00, tim pembawa kantong mayat tiba dan langsung melakukan pengemasan. Jenazah kemudian dibawa ke jalur utama untuk memudahkan proses evakuasi. Menurut Syamsul, jenazah telah bergeser sejauh kurang lebih 25 meter dari lokasi awalnya.
Rencana Evakuasi dan Posisi Jasad
Rencana evakuasi akan dilakukan melalui jalur menuju puncak Gunung Bulusaraung. Dari puncak, tim akan turun ke Pos Basarnas Desa Tompobulu. Syamsul menyatakan bahwa kondisi jenazah masih utuh. Ade dari tim SAR BPBD Kota Makassar juga mengonfirmasi hal ini.
Ade mengungkapkan bahwa jenazah pertama kali ditemukan dalam posisi tersangkut di dua sela pohon. Di bawah jenazah, terdapat kepala pesawat pada kedalaman sekitar 500 meter. Di sekitar area tersebut, terdapat serpihan mesin dan ban pesawat. Sementara itu, serpihan ekor pesawat berada sekitar 200 meter dari posisi jenazah.
Korban diperkirakan mengenakan pakaian hitam, termasuk celana dan sepatu kets. Saiful Malik menyebutkan bahwa jenazah ditemukan dalam posisi tengkurap di lereng gunung. Ia mengenakan pakaian nonuniform seperti celana jeans dan sepatu kets berwarna hitam. Bagian atas korban diduga bukan seragam penerbangan.
Proses Penemuan dan Identifikasi
Penemuan korban dimulai saat Saiful Malik mencari jalur menuju lokasi penyelamatan di sekitar titik jatuh pesawat. Ia menyisir area di sekitar posisi kepala pesawat sebelum akhirnya bergerak ke arah kanan lereng gunung. Setelah menyusuri lereng sebelah kanan, ia menemukan sesosok korban sekitar pukul 14.00 Wita.
Saiful Malik tidak langsung mendekat, tetapi memilih menunggu kedatangan personel Basarnas dan tim SAR gabungan. Ia mengidentifikasi korban sebagai perempuan dan menemukan name tag yang masih terpasang. Proses penemuan dilanjutkan dengan pengemasan jenazah dan mobilisasi ke jalur utama evakuasi.
Tantangan dalam Proses Evakuasi
Proses evakuasi memakan waktu cukup lama karena kondisi medan yang ekstrem. Saiful Malik menjelaskan bahwa mekanisme evakuasi menggunakan tali dari puncak ke lokasi. Namun, penurunan dari puncak ke titik evakuasi masih dalam proses pengaturan teknis.
Hingga saat ini, jenazah telah dibungkus dan digantung sekitar 25 meter dari lokasi awalnya. Tim SAR akan kembali hari ini untuk melanjutkan proses evakuasi.

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.











