Jenderal Oerip Soemohardjo merupakan salah satu tokoh yang sangat kecewa terhadap Perjanjian Renville dan Perjanjian Linggarjati. Kekecewaan ini akhirnya membuatnya memutuskan untuk mundur dari jabatan kemiliterannya.
Pada saat itu, Jenderal Oerip menganggap bahwa pemerintah lebih mementingkan diplomasi daripada faktor militer. Hal ini membuatnya merasa dikhianati oleh pihak yang seharusnya mendukung perjuangan bangsa. Kekhawatiran tersebut sudah muncul sejak pemerintah menandatangani Perjanjian Linggarjati pada November 1946. Menurut pandangan Jenderal Oerip, perjanjian ini justru mengabaikan kepentingan tentara dan tidak sepenuhnya melindungi kedaulatan Indonesia.
Perjanjian Renville, yang ditandatangani pada 17 Januari 1948, menjadi momen penting dalam upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Perjanjian ini lahir karena Belanda tidak kunjung memenuhi hasil Perjanjian Linggarjati, yang sebelumnya menyatakan pengakuan kedaulatan Indonesia secara de facto. Alih-alih menepati kesepakatan, Belanda justru terus berusaha memperkuat pengaruhnya di wilayah Indonesia yang masih dalam bentuk Serikat atau RIS (Republik Indonesia Serikat).
Dalam Perjanjian Renville, wilayah Indonesia yang diakui sangat sempit, hanya mencakup Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sumatera. Selain itu, wilayah kekuasaan Indonesia dan Belanda dipisahkan oleh Garis Van Mook. Tentara Indonesia juga ditarik mundur dari daerah-daerah kekuasaan Belanda seperti Jawa Barat dan Jawa Timur. Hal ini menyebabkan banyak tentara harus melakukan Long March Siliwangi, sementara ibu kota negara harus dipindahkan dari Jakarta.
Perjanjian ini juga membuka jalan bagi pembentukan Uni Indonesia-Belanda dengan kepala negara Raja Belanda. Selain itu, akan diadakan plebisit dan pemilihan umum untuk membentuk Dewan Konstituante RIS. Namun, semua isi perjanjian ini justru memberikan kerugian bagi Indonesia, karena wilayah yang diakui semakin menyempit.
Kekecewaan terhadap Perjanjian Renville juga memicu perlawanan di berbagai daerah. Perdana Menteri Amir Syarifuddin akhirnya mundur dari jabatannya pada 23 Januari 1948 karena dianggap gagal menjaga wilayah kedaulatan. Puncaknya, Belanda kembali mengkhianati kesepakatan dengan memulai Agresi Militer II pada 18 Desember 1948, yang ditandai dengan pemboman lapangan terbang Maguwo, Yogyakarta.
Sebagaimana diketahui, Jenderal Oerip Soemohardjo juga turut merasa kecewa terhadap Perjanjian Renville. Saat itu, dia menjabat sebagai Kepala Staf Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Bersama Jenderal Soedirman, Letjen Oerip berjuang keras untuk menyatukan laskar-laskar yang terpecah-pecah di berbagai wilayah. Dia juga menjadi bagian penting dalam pembangunan angkatan perang di masa awal revolusi.
Namun, kekecewaan terhadap perjanjian yang dianggap tidak memperhatikan faktor ketentaraan membuatnya memutuskan mundur dari jabatannya pada awal 1948. Menurutnya, perjanjian ini adalah taktik mengulur waktu yang memberi kesempatan kepada Belanda untuk memperkuat pasukannya. Dengan demikian, Jenderal Oerip memilih untuk meninggalkan jabatannya.
Riwayat Jenderal Oerip
Jenderal Oerip memiliki watak yang keras sejak kecil. Bahkan, selama masa remajanya, dia sering menunjukkan sikap tegas dan tidak mudah menyerah. Di masa pelayanan di KNIL (Korps Infanteri Hindia Belanda), Oerip pernah “ditendang” keluar dari kereta perusahaan minyak Bataafse Petroleum Maatschappij (BPM) meskipun dia adalah letnan dua yang pernah mendapat penghargaan.
Aksi Oerip mengejutkan BPM, yang akhirnya melaporkannya ke Departemen Perang Hindia Belanda. Namun, Oerip tetap tenang karena merasa berada di pihak yang benar. Akhirnya, Oerip menang dan orang Indonesia diizinkan naik kereta api tersebut.
Selain itu, Oerip juga ogah menghadiri peringatan hari lahir Ratu Belanda. Hal ini membuat komandan menegurnya soal kedisiplinan. Meski begitu, Oerip tetap mempertahankan prinsipnya.
Oerip lahir di kampung Sindurejan, Purworejo, Jawa Tengah, pada 22 Februari 1893, dengan nama Mohammad Sidik. Dia adalah putra tertua dari R. Soemohardjo, seorang guru. Ibunya adalah putri dari Bupati Trenggalek, Tumenggung Wijoyokusumo. Nama Oerip diambil dari kakeknya setelah dia jatuh dari pohon kemiri hingga tak sadarkan diri.
Meski namanya diubah, Oerip tetap nakal. Dia sering memanjat pohon dan bahkan menggunakan punggung kerbaunya sebagai tempat untuk melintasi jalan raya. Hal ini membuat Bupati Purworejo murka, dan ayahnya hanya bisa marah-marah.
Di sekolah, Oerip dikenal sebagai bocah biasa-biasa saja dalam pelajaran, tetapi luar biasa dalam kenakalan. Untuk mengurangi kenakalannya, dia disatukan dengan anak perempuan. Setelah lulus HIS (SD Belanda), Oerip masuk OSVIA di Magelang pada tahun 1906, tetapi hanya bertahan tiga tahun. Setelah ibunya meninggal, Oerip menjadi pendiam dan kalem.
Tanpa sepengetahuan ayahnya, Oerip berangkat ke Jakarta dan masuk Sekolah Perwira di Jatinegara. Empat tahun kemudian, dia menjadi letnan dua infanteri dan menjadi serdadu Belanda atau KNIL.
Pengembaraan Oerip dimulai karena tugas, seperti lazimnya militer. Terjadi peristiwa di Banjarmasin dan Balikpapan, yang kemudian menjadi cerita legendaris. Pada 1923, dia pindah ke Cimahi, Jawa Barat. Oktober 1925, dia pindah lagi ke Magelang yang membawa kenangan lama.
Di kota tempat Pangeran Diponegoro ditangkap itu, dia bertemu dengan Rohmah, putri Bapak Subroto, gurunya dulu. Mereka menikah pada 30 Juni 1926, tetapi tidak dikaruniai anak.
Oerip kemudian ditugaskan di Padang Panjang, Sumatera Barat, menggantikan seorang pembesar Belanda yang baru saja “dialgojo” rakyat. Nasihat dari atasannya adalah: “Jangan lupa menyiapkan senjata dan anjing herder.” Namun, Oerip justru mendekati rakyat dan sukses sebagai “pembesar” di sana. Saat perpisahan, banyak warga masyarakat mengantarkan.
Ketika berkedudukan sebagai mayor di Purworejo, Oerip berselisih dengan sang bupati. Penyebabnya, dia ogah memperingati hari kelahiran Ratu Belanda. Karena itu, Oerip sedianya hendak dipindahkan ke Gombong dengan pangkat letnan kolonel, tapi dia memutuskan mundur, minta pensiun, dan tinggal di Gentan, Sleman, Yogyakarta, niatnya jadi petani.
Tetapi ternyata, dia kurang becus jadi petani. Perang Dunia meletus, dia pun ditarik kembali untuk melawan Jepang. Hasilnya, ditawan oleh tentara Jepang dan dibebaskan pada Oktober 1942. Meski begitu, ada seorang perwira Jepang yang menaruh hormat kepadanya.
Perwira itu sempat menawarinya bekerja sama dengan Jepang, tapi lebih suka ke Gentan. Pulang desa. Di desa dia dimata-matai Jepang, apalagi saat itu banyak pemuda pergerakan yang datang padanya, seperti AH. Nasution, yang kelak besar peranannya di saat mendatang.
Usia Oerip 52 tahun ketika Bung Karno dan Bung Hatta membacakan teks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Tapi dalam hatinya bertanya-tanya, “Kok aneh…. negara zonder tentara.” Memang begitulah keadaannya saat itu.
15 Oktober 1945, setelah pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dia sudah di Pegangsaan Timur 56 berunding dalam sidang kabinet. Jabatan yang kemudian dipegang adalah kepala staf umum TKR, sementara sebagai pimpinan tertinggi adalah Supriyadi. Tetapi, sejarah mencatat saat itu Supriyadi yang melancarkan pemberontakan Peta di Blitar, sudah tidak ada. Untuk menenangkan rakyat dikabarkan bahwa Supriyadi bertapa di suatu gunung.
Jadi, yang menjadi pelaksana adalah Oerip. Yang dilakukannya saat itu adalah membangun organisasi ketentaraan. Beberapa tenaga muda, antara lain TB Simatupang dan Suryadarma, turut diperbantukan.
Tetapi masa itu adalah masa-masa yang sulit bagi Oerip. Maklum yang dihadapi konco-konco sendiri, yang berjuang dengan darah dan nyawa tapi masih kurang secara organisasi. Kalau yang sudah jadi komandan harus disingkirkan kan sulit. Tapi kalau tidak, organisasi tidak bisa berjalan dengan baik.
Konflik di dalam ini, ternyata cukup berlarut-larut. Di satu pihak rakyat yang menggebu-gebu untuk selalu dan siap bertempur, di lain pihak para pimpinan dan prajurit yang mengenyam pendidikan mengharapkan satu strategi yang efektif.
Akhirnya, dalam sebuah rapat besar, dipilih seorang Panglima Besar. Soedirman, Oerip, dan Sri Sultan menjadi calon. Kita tahu kemudian, Jenderal Soedirman menjadi panglima besar dan letjen Oerip Soemohardjo sebagai kepala staf umum.
Usaha mengakurkan antara barisan laskar dengan prajurit dalam satu komando mengalami banyak hambatan. Peta politik masih kacau. Pimpinan suka berganti dengan kabinet yang masih simpang-siur tak menentu.
Sementara masalah lain yang lebih ganas: ancaman kembalinya Belanda lewat Sekutu, dengan perundingan-perundingan makin mempertajam konflik yang ada. Ketika itu sempat didirikan Militaire Academie (MA) di Jogja, yang kemudian berkembang menjadi Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) di Magelang sekarang.
Pak Oerip “ngambek” lagi – yang pertama tentu saat masih di KNIL. Kali ini dia ngambek karena perjanjian-perjanjian yang disepakati oleh pemerintah Indonesia saat itu. Dia menganggap, Perjanjian Linggarjati telah mengabaikan faktor ABRI dan lebih mementingkan diplomasi. Dia kecewa. Terlebih Perjanjian Renville yang ditandatangani 17 Januari 1948.
Dia pujn mengundurkan diri dari jabatan kemiliteran. Dia merasa “pemerintah RI telah mengkhianati Angkatan Perangnya sendiri.” Oerip yang bersusah payah membangun jadi merasa dikesampingkan.
Perpecahan dari Perjanjian Renville, kita tahu kemudian, membuat Amir Syarifudin tersingkir dari jabatannya sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan. Ketika Musso datang bergabung dan menyatukan dalam wadah PKI. Dan pengkhianatan berdarah terjadi 18 September 1948 di Madiun. Banyak prajurit yang terseret menjadi korban.
Kenyataan ini membuat Pak Oerip makin sakit hati. Saat itu dia tak bisa berbuat banyak karena lagi terserang penyakit jantung. Istirahat di rumah. Dan 17 November 1948, Pak Oerip, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, istirahat untuk selamanya. Disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Jogja.
Begitulah, anak nakal dari Sindurejan itu membuktikan baktinya kepada negara. Melalui perjuangan yang aneka ragam. Melalui saat-saat di masa-masa penegakan keutuhan kesatuan masih harus diperjuangkan. Di saat konflik, dia telah memberikan yang terbaik.











