Kecemasan Keluarga Ferry Irawan Pasca Pesawat Hilang Kontak
Keluarga Ferry Irawan, seorang pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), sedang menghadapi masa yang penuh kecemasan setelah pesawat ATR 42-500 yang ditumpanginya hilang kontak dan ditemukan jatuh di wilayah Pangkep, Sulawesi Selatan. Di Bekasi, keluarga berkumpul dan memasang tenda sambil berharap keajaiban.
Tim SAR Temukan Titik Jatuh Pesawat
Tim pencarian dan pertolongan (SAR) telah menemukan titik jatuh pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di sekitar Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Seiring dengan penemuan tersebut, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulsel langsung mendirikan posko identifikasi jenazah di Kantor Desa Tompobulu.
Keluarga Dapat Informasi Langsung dari KKP
Salah satu kerabat Ferry, Tohorin (50), mengatakan bahwa keluarga telah menerima informasi resmi sejak Sabtu malam, baik melalui sambungan telepon maupun kedatangan langsung perwakilan KKP. Ia menyebutkan bahwa Wakil Menteri KKP sempat mengunjungi rumah orangtua Ferry untuk menyampaikan kabar secara langsung.
Meski demikian, keluarga masih berharap adanya keajaiban. Hingga kini, mereka belum memasang bendera kuning karena masih menunggu kepastian resmi terkait kondisi Ferry.
Tenda Dipasang Antisipasi Hujan
Tohorin menjelaskan bahwa pemasangan tenda dilakukan semata-mata untuk kenyamanan para tamu, mengingat cuaca di Bekasi yang kerap diguyur hujan. “Tenda dipasang karena hujan terus dan tamu banyak datang, supaya tidak kehujanan,” katanya.
Ferry Irawan Sedang Jalankan Misi Pengawasan Laut
Ferry Irawan diketahui merupakan analis kapal pengawas pada Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) sejak 2024. Ia berpangkat Penata Muda Tingkat I. Saat kejadian, Ferry bersama dua pegawai KKP lainnya sedang menjalankan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara di wilayah pengelolaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dua pegawai KKP lainnya yang berada di dalam pesawat tersebut adalah Deden Mulyana, Penata Muda Tingkat I, jabatan pengelola badan milik negara, dan Yoga Noval, operator foto udara.
Pesawat Angkut 10 Orang
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan bertolak dari Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Kontak dengan pesawat dilaporkan hilang saat melintas di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (17/1/2026) sekitar pukul 13.17 Wita. Pesawat tersebut mengangkut 10 orang, terdiri atas tujuh kru dan tiga penumpang. Pilot in command adalah Capt Andy Dahananto.
Direktur Utama PT Indonesia Air Transport, Tri Adi Wibowo, menegaskan jumlah kru di dalam pesawat hanya tujuh orang, sekaligus meluruskan informasi simpang siur yang sempat beredar.
Menteri KKP Sampaikan Keprihatinan
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut. “Kami terus terang sedih dan prihatin, serta berdoa yang terbaik untuk para penumpang dan kru pesawat,” ujar Trenggono dalam keterangan pers di Jakarta. Ia menegaskan, ketiga pegawai KKP di dalam pesawat merupakan tim air surveillance dari Direktorat Jenderal PSDKP.
Cuaca Gerimis, Akses Jalan Sulit
Fahrizal Syam melaporkan kondisi cuaca di sekitar lokasi pencarian mendung dan disertai gerimis ringan sejak pukul 09.23 Wita. Meskipun demikian, proses pencarian tetap berlangsung. Namun, tim gabungan menghadapi sejumlah kendala, terutama akses jalan menuju lokasi. “Akses jalan susah, jalan beton rusak dan licin, tanjakan berkelok. Hanya beberapa mobil TNI dan SAR yang bisa naik, truk berhenti semua di bawah,” tulis Fahrizal melalui pesan WhatsApp.
Akibat kondisi tersebut, sebagian besar tim pencari harus berjalan kaki, sementara relawan menggunakan sepeda motor untuk mencapai posko dan titik-titik tertentu.
Serpihan Pesawat Terlihat
Laporan dari Handy Talky (HT) anggota TNI di Gerbang Desa Tompobulu menyebutkan bahwa serpihan pesawat terlihat di lokasi. “Pesawat menabrak gunung. Serpihan terlihat,” demikian laporan petugas melalui HT yang didengar langsung jurnalis Tribun Timur. Petugas juga melaporkan bahwa bodi besar pesawat sempat terpantau dari udara, namun tidak dapat didokumentasikan secara jelas karena tertutup medan dan cuaca.
Titik temuan pesawat dilaporkan berada di koordinat 119 derajat, 44 menit, 49,27 detik. Tim mempertimbangkan evakuasi awal menggunakan helikopter, dan jika tidak memungkinkan akan dilakukan melalui jalur darat via Desa Tompobulu.
Pendaki Mengaku Lihat Api dan Ledakan
Dua pendaki muda, Reski (20) dan Muslimin (18), mengaku mendengar ledakan dan melihat api saat berada di puncak Gunung Bulusaraung pada Sabtu (17/1/2026) siang. Mereka juga melihat material beterbangan, termasuk dokumen dan bagian pesawat. “Kami dengar ledakan, lalu lihat api. Setelah itu banyak material beterbangan,” kata Reski.
Dokumen Pesawat Diamankan
Selain serpihan, warga dan aparat desa juga menemukan sejumlah dokumen pesawat, seperti manifest penerbangan, SOP operasional Indonesia Air Transport, serta fotokopi KTP salah satu penumpang. “Seluruh dokumen dan barang temuan kami amankan dan dalami keasliannya. Kami tidak ingin berspekulasi sebelum ada kepastian hasil penyelidikan,” tegas Bhakti Yuhandika.
Untuk memaksimalkan proses pencarian dan penyelidikan, Pemerintah Kabupaten Pangkep bersama tim gabungan membuka Posko Terpadu di Kantor Desa Tompobulu. Posko ini menjadi pusat koordinasi pencarian dari dua arah, yakni dari Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Maros.
Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian, evakuasi, dan identifikasi korban masih terus berlangsung.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











