"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Hidup selalu indah, tak peduli apa pun

Kehidupan yang Penuh dengan Dinamika



“Hidup itu indah.”

Dulu, kalimat ini terdengar seperti slogan kosong di kartu ucapan selamat, atau potongan lirik lagu pop yang diputar berulang-ulang di radio yang diselingi suara kresek kresek. Terdengar klise, naif, dan seperti penyangkalan terhadap tagihan yang menumpuk atau badan yang mulai pegal-pegal. Namun, anehnya, kalimat itu kini menggema dengan frekuensi berbeda di dalam kepalaku.

Situasi dan kondisi hidupku sekarang memang jauh dari kata ideal. Kalau ditaruh di atas kertas neraca, mungkin kolom aset kalah telak dibanding kolom beban. Kalau diukur dengan standar ideal yang sering dipamerkan orang, jelas tidak masuk. Tapi justru di usia ini, saat waktu rasanya berjalan lebih cepat dari biasanya, aku sampai pada satu kesimpulan bahwa kehidupan manusia, dengan segala dinamika gila dan kekacauannya, adalah sesuatu yang benar-benar memukau.

Aku sudah menyaksikan sendiri, bukan lewat layar bioskop, tapi lewat mata telanjang yang tak bisa di-skip. Aku melihat bagaimana seorang laki-laki bisa tampil begitu gagah. Bukan karena ia berdiri di podium juara, melainkan karena caranya memanggul beban tanggung jawab yang nyaris mematahkan tulang punggungnya. Yang bangun pagi-pagi buta dan pulang menjelang pagi karena ada orang lain yang harus tetap makan.

Ada jenis keberanian yang tidak butuh tepuk tangan, hanya butuh napas panjang dan kaki yang tetap melangkah meski sedang melawan arus.

Di seberang jalan, aku melihat perempuan yang anggun. Keanggunan ini tidak ada hubungannya dengan tutorial kecantikan. Ini tentang daya lenting menghadapi kehidupan yang sering kali curang dan tidak adil baginya. Ia ditekan, dipojokkan, tapi menolak untuk remuk. Itu adalah pemandangan yang mengagumkan, sebuah demonstrasi kekuatan yang sering kali luput dari lensa kamera.

Tapi layar kehidupan tidak cuma menayangkan heroisme. Ia juga memutar babak yang paling gelap.

Aku melihat langsung betapa brengseknya laki-laki yang lari dari tanggung jawab perbuatan jahatnya. Mereka yang menebar kerusakan lalu menghilang, meninggalkan puing trauma bagi orang lain seolah itu sampah sisa makan siang. Aku juga melihat perempuan yang melepaskan rasa malunya, menukar kehormatan diri demi memenuhi nafsu serakah akan materi atau status semu. Pemandangan itu mengenaskan, menyedihkan, dan memicu rasa mual.

Dulu, hal-hal semacam ini membuatku marah pada konsep penciptaan. Aku sama bingungnya dengan para malaikat saat bertanya buat apa Tuhan menciptakan makhluk yang berpotensi merusak ini. Rasanya seperti merakit komputer canggih cuma untuk dipakai main game perusak mental. Buang-buang resource.

Namun, setelah menjalani sendiri, babak demi babak, merasakan sakitnya jatuh dan nikmatnya bangkit, perspektif itu bergeser.

Kehidupan manusia yang dipenuhi drama ini, dengan segala tipu dayanya, dengan segala kejomplangannya, mulai dari tragedi yang paling di luar nalar hingga momen kecil yang paling menyentuh hati, adalah representasi dari indahnya kehidupan itu sendiri.

Tanpa si pengecut, kita tidak akan punya parameter untuk mengukur mahalnya keberanian. Tanpa pengkhianatan, kita tidak akan mengerti nilai sakral dari sebuah kesetiaan. Gelap terang itu bukan cacat produksi, itu adalah kontras yang dibutuhkan agar gambar terlihat jelas.

Tuhan tidak menciptakan robot yang terprogram untuk taat secara buta. Malaikat itu statis, mereka tidak punya opsi untuk membangkang. Sementara manusia? Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi menjadi lebih kejam dari iblis, tapi di saat yang sama punya potensi melampaui malaikat karena mereka memilih untuk tetap baik di tengah gempuran penderitaan.

Keindahan itu terletak pada tarikan napas saat kita memutuskan untuk tidak menyerah, padahal menyerah adalah opsi yang logis.

Di usia ini, aku menerima ketidakidealan hidupku sebagai bagian dari tiket pertunjukan kolosal tersebut. Aku tidak lagi bertanya mengapa, tapi lebih sering mengangguk paham. Kehendak Tuhan itu ternyata bukan tentang menciptakan dunia yang steril tanpa masalah, tanpa tragedi, melainkan menciptakan panggung di mana manusia bisa menemukan jati dirinya.

Dan di situlah letak seninya. Drama kehidupan ini, dengan segala tangis dan tawanya, adalah satu-satunya cara kita belajar menjadi manusia yang utuh.

Sekarang, aku mau menceritakan sedikit tentang seorang manusia yang paling kucintai di dunia ini.

Jangankan untuk menyentuhnya, untuk mengucapkan sepatah dua patah kata untuk hari ulang tahunnya yang ke delapan belas yang jatuh pada hari ini saja aku tidak berani. Aku tidak berani menganggu hidupnya. Setidak-tidaknya, aku belum siap.

Terakhir aku melihatnya beberapa hari yang lalu. Diam-diam mengamati foto-fotonya di akun Instagramnya. Dia terlihat sangat anggun. Aku bisa merasakan bahwa hidupnya baik-baik saja walau tanpa keberadaanku disisinya. Bukti dari pengabulan doaku yang kupanjatkan semenjak dia masih berada di dalam rahim ibunya.

Dua tahun yang lalu, perjumpaan terakhir dengannya, menghabiskan seharian sampai malam dengannya. Satu hari dari sekian hari yang udah kulalui. Satu hari dari sejumlah hari yang kekal abadi dalam ruangan khusus di dalam hatiku.

No matter what, life is so beautiful…

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *