DUBAI,
— Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan sejumlah pejabat tinggi Iran saling melontarkan ancaman pada Jumat (2/1/2026), di tengah meluasnya gelombang protes di Iran yang telah menewaskan sedikitnya tujuh orang. Ketegangan kedua negara kembali meningkat hanya beberapa bulan setelah Amerika Serikat mengebom fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
Demonstrasi yang kini memasuki hari keenam disebut sebagai yang terbesar di Iran sejak 2022, ketika kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi memicu protes nasional. Aksi terbaru ini awalnya dipicu runtuhnya nilai tukar rial Iran, namun berkembang menjadi seruan anti-pemerintah. Meski meluas di sejumlah wilayah, intensitasnya dinilai belum menyamai protes besar pada 2022 dan belum menjangkau seluruh negeri.
Pernyataan keras Trump memicu respons cepat dari Teheran. Melalui platform Truth Social, Trump memperingatkan Iran agar tidak “membunuh secara brutal para demonstran damai,” seraya menyatakan Amerika Serikat “siap siaga dan siap bertindak.” Pernyataan itu menjadi sinyal dukungan langsung Gedung Putih kepada para pengunjuk rasa—sebuah langkah yang kerap dihindari presiden AS sebelumnya karena dikhawatirkan memberi alasan bagi Teheran untuk menuduh demonstran sebagai agen Barat.
Tak lama berselang, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani menuding Amerika Serikat dan Israel menghasut protes, tanpa menyertakan bukti. Ia memperingatkan bahwa intervensi AS dalam urusan domestik Iran akan memicu kekacauan regional dan merusak kepentingan Amerika, merujuk pada kehadiran militer AS yang luas di Timur Tengah.
Ancaman serupa disampaikan penasihat Pemimpin Tertinggi Iran Ali Shamkhani, yang mengatakan “setiap tangan intervensionis yang mendekati keamanan Iran akan dipotong.” Ketua parlemen Iran yang berhaluan keras, Mohammad Bagher Qalibaf, bahkan menyebut seluruh pangkalan dan pasukan Amerika sebagai “target yang sah.”
Kementerian Luar Negeri Iran ikut menanggapi. Juru bicara Esmail Baghaei mengulang daftar panjang keluhan Teheran terhadap Washington—mulai dari kudeta 1953 yang didukung CIA, penembakan jatuh pesawat penumpang Iran pada 1988, hingga keterlibatan AS dalam perang terbaru—sembari menegaskan bahwa tekanan eksternal tidak akan menghentikan Iran.
Pertukaran ancaman ini berlangsung ketika pemerintah Iran menghadapi narasi internal yang tergerus. Selama ini, pejabat Teheran kerap menyatakan masyarakat luas mendukung pemerintah pascaperang. Namun protes yang berakar pada krisis ekonomi—dengan nilai tukar dolar AS kini sekitar 1,4 juta rial—mengguncang klaim tersebut.
Analis Naysan Rafati dari International Crisis Group menilai dukungan terbuka Trump berisiko menjadi pedang bermata dua. Menurutnya, meski keluhan demonstran lahir dari kebijakan pemerintah Iran sendiri, pernyataan Trump dapat digunakan sebagai dalih bagi aparat untuk menindak lebih keras. “Namun, represi yang lebih brutal justru berisiko mengundang keterlibatan AS yang lebih besar—seperti yang disiratkan Trump,” ujarnya.
Di lapangan, protes berlanjut pada Jumat, termasuk di Zahedan (Provinsi Sistan dan Baluchestan). Pemakaman korban aksi memicu pawai lanjutan. Video daring memperlihatkan pelayat mengusir aparat keamanan dari pemakaman Amirhessam Khodayari (21), yang tewas di Kouhdasht, Provinsi Lorestan. Ayah korban membantah klaim otoritas bahwa putranya anggota pasukan Basij; media semi-resmi Fars kemudian melaporkan adanya pertanyaan atas klaim tersebut.
Pemerintahan sipil Iran di bawah Presiden reformis Masoud Pezeshkian berupaya memberi sinyal ingin berdialog dengan demonstran. Namun Pezeshkian mengakui ruang geraknya terbatas di tengah krisis ekonomi yang terus memburuk.
Di sisi diplomasi nuklir, Iran menyatakan telah menghentikan pengayaan uranium di semua lokasi sebagai sinyal keterbukaan untuk negosiasi guna meringankan sanksi. Meski demikian, pembicaraan belum terwujud, sementara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan Teheran agar tidak menghidupkan kembali program nuklirnya.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











