"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Pesawat Tempur Saudi Serang Pemberontak Pro-UEA di Yaman Selatan, Tensi Riyadh dan Abu Dhabi Meningkat



ADEN — Pesawat tempur Arab Saudi dilaporkan melakukan serangan udara terhadap pasukan separatis di Yaman selatan yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA) pada Jumat (2/1/2026). Serangan ini terjadi dalam konteks upaya Riyadh untuk mengambil alih kamp-kamp Southern Transitional Council (STC) di Provinsi Hadramout, sebuah wilayah strategis yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Langkah militer ini menunjukkan peningkatan ketegangan antara dua sekutu utama dalam koalisi perang Yaman, yaitu Arab Saudi dan UEA. Sebelumnya, STC telah memperluas kekuasaannya ke wilayah Hadramout dan Mahra, daerah kaya minyak yang sebelumnya dikuasai oleh pasukan National Shield Forces yang berafiliasi dengan pemerintah Yaman dan didukung oleh Saudi. Pergerakan STC menyebabkan keluarnya pasukan National Shield Forces dari wilayah tersebut. Meskipun keduanya termasuk dalam koalisi yang melawan kelompok Houthi yang didukung Iran, situasi ini menunjukkan adanya konflik internal.

Menurut laporan Associated Press, Wakil Ketua STC sekaligus mantan Gubernur Hadramout, Ahmed bin Breik, menyatakan bahwa pasukan National Shield yang didukung Saudi sedang bergerak maju menuju kamp-kamp STC. Ia menambahkan bahwa separatis menolak mundur, yang “tampaknya memicu serangan udara Saudi.” Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Juru bicara pasukan STC, Mohamed al-Nakib, mengatakan bahwa serangan udara Saudi menimbulkan korban jiwa, meski jumlahnya tidak dirinci. Ia juga menyatakan bahwa klaim tersebut tidak bisa dikonfirmasi. Dalam video yang diunggah di platform X, al-Nakib menuduh Saudi menggunakan milisi Ikhwanul Muslimin dan al-Qaeda dalam “serangan skala besar” yang berhasil dipukul mundur oleh separatis—tuduhan yang tidak disertai bukti.

Al-Nakib bahkan membandingkan situasi terbaru ini dengan Perang Saudara Yaman 1994, dengan menyatakan bahwa “kali ini di bawah payung operasi udara Saudi.” Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya retorika konfrontatif dari pihak STC.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyangkal narasi tersebut. Gubernur Hadramout yang baru ditunjuk, Salem al-Khanbashi, menyebut klaim STC “tidak masuk akal” dan menunjukkan niat eskalasi, bukan penyerahan damai. Dalam pidato yang disiarkan media pemerintah, al-Khanbashi menegaskan bahwa operasi saat ini bersifat “damai dan preventif”, bukan deklarasi perang.

“Ini langkah bertanggung jawab untuk menarik senjata, mencegah kekacauan, dan mencegah kamp digunakan untuk mengganggu keamanan Hadramout,” katanya.

Koalisi pimpinan Saudi menuntut STC untuk menarik pasukan dari Hadramout dan Mahra sebagai bagian dari upaya de-eskalasi. Namun, STC sejauh ini menolak menyerahkan senjata dan kamp-kampnya. Juru bicara koalisi, Brigjen Turki al-Maliki, menyatakan pada Jumat bahwa angkatan laut Saudi dikerahkan di Laut Arab untuk inspeksi dan pemberantasan penyelundupan—langkah yang menandakan pengetatan keamanan regional.

Ketegangan juga terlihat di ranah diplomasi. Duta Besar Saudi untuk Yaman, Mohammed al-Jaber, menuding ketua STC Aidarous al-Zubaidi menghalangi delegasi mediasi Saudi mendarat di Aden, meski kedatangan mereka disebut telah disepakati dengan sejumlah pimpinan STC. Al-Jaber mengatakan bahwa Saudi telah berupaya berminggu-minggu untuk menghentikan eskalasi dan mendorong STC meninggalkan Hadramout dan Mahra, namun menghadapi “keras kepala dan penolakan berkelanjutan.”

Di sisi lain, Kementerian Perhubungan Yaman yang berpihak pada STC menyatakan bahwa Saudi memberlakukan persyaratan baru yang mewajibkan penerbangan dari dan ke Bandara Internasional Aden menjalani inspeksi di Jeddah. Kementerian menyebutnya mengejutkan dan mengecam keputusan tersebut.

Hingga Jumat, tidak ada konfirmasi resmi dari otoritas Saudi. Seorang juru bicara kementerian mengatakan kepada AP bahwa seluruh penerbangan dari dan ke UEA ditangguhkan sampai Saudi membatalkan kebijakan yang dilaporkan itu.

Yaman telah dilanda perang saudara lebih dari satu dekade. Kelompok Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara, sementara koalisi pimpinan Saudi-UEA mendukung pemerintah di selatan. Namun, UEA juga mendukung STC yang mendorong pemisahan Yaman Selatan—entitas yang pernah berdiri sendiri pada 1967–1990.

Dalam beberapa waktu terakhir, bendera Yaman Selatan semakin sering dikibarkan oleh kelompok yang berafiliasi dengan STC.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *