"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Psikologi Ungkap Kebiasaan Ibu yang Sebabkan Anak Miliki Gaya Keterikatan Menghindar

Perilaku Ibu yang Tidak Disadari Bisa Membentuk Gaya Keterikatan Menghindar pada Anak

Setiap ibu pasti ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mampu berinteraksi dengan orang lain, dan memiliki kemampuan untuk membuka diri. Namun, tanpa disadari, pola asuh tertentu yang dilakukan seorang ibu bisa memengaruhi cara anak dalam berhubungan dengan orang lain. Salah satu bentuk keterikatan yang sering terbentuk adalah avoidant attachment style atau gaya keterikatan menghindar.

Gaya keterikatan ini tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk perlahan dari cara seorang anak diperlakukan sedari kecil, terutama oleh ibunya sebagai figur utama. Berikut beberapa perilaku ibu yang bisa menyebabkan anak tumbuh dengan gaya keterikatan menghindar:

  • Ibu yang Tidak Responsif Secara Emosional

    Ketika anak menangis, takut, atau butuh dipeluk, tetapi ibu justru berkata: “Udah, jangan cengeng,” “Nggak usah nangis terus, berisik,” atau malah tidak menanggapi sama sekali. Bagi orang dewasa, kalimat itu mungkin biasa saja. Tapi bagi anak, itu sinyal bahwa emosinya tidak penting. Lama-lama anak akan belajar untuk memendam perasaan, tidak meminta bantuan, dan akhirnya menutup diri.

  • Ibu yang Terlalu Mendorong Anak Mandiri Secara Berlebihan

    Niatnya mungkin baik, yaitu agar anak kuat, tidak manja, dan cepat mandiri. Tapi, jika setiap kali anak butuh bantuan, ibunya justru berkata: “Sendiri aja, masa gitu aja minta tolong?” “Udah besar, nggak usah apa-apa minta tolong ibu,” anak akhirnya percaya bahwa butuh orang lain itu salah. Akibatnya, ia tumbuh menjadi pribadi yang menolak kedekatan, sulit menunjukkan kebutuhan emosinya, dan merasa malu ketika merasa lemah.

  • Ibu yang Mengabaikan Kebutuhan Anak

    Pengabaian tidak selalu soal meninggalkan anak sendirian. Dalam konteks psikologi, pengabaian bisa terjadi ketika ibu tidak memberi respons yang dibutuhkan anak secara menerus, baik respons emosional maupun perhatian sederhana sehari-hari. Contohnya: anak ingin bercerita tentang sesuatu yang membuatnya takut, tapi ibu menyuruhnya diam karena sedang sibuk. Anak merasa sedih atau sendirian, tapi ibu tidak menyempatkan waktu untuk menenangkannya. Anak yang dibesarkan dalam kondisi ini belajar bahwa meminta kenyamanan hanya akan berakhir kecewa. Maka mereka memilih untuk “tidak butuh siapa pun” sebagai bentuk perlindungan diri.

  • Ibu Sendiri Punya Avoidant Attachment Style

    Anak belajar cara berhubungan dari apa yang dia lihat. Jika ibu tidak suka dipeluk, tidak nyaman bicara soal perasaan, atau menjauh saat anak ingin dekat, anak akan mengamati dan menirunya. Bukan karena anak tidak butuh kasih sayang, tapi karena ia belajar bahwa kehangatan bukan sesuatu yang aman atau wajar.

  • Ibu yang Stres atau Lelah Secara Emosional

    Ibu yang sedang menghadapi banyak tekanan, baik dalam hal finansial, mental, atau emosional, sering kali tidak punya energi untuk merespons kebutuhan emosional anak. Contohnya: ibu yang depresi lebih sering menyendiri, dan ibu yang kewalahan secara emosional cenderung tidak sabar dan mudah mengabaikan anak. Dampaknya? Anak akan bingung apakah ibunya ada untuk dia atau tidak. Untuk mengatasi ketidakpastian itu, mereka memilih untuk tidak bergantung sama sekali.

Dampak Saat Anak Dewasa

Ciri-ciri anak dengan avoidant attachment style akan terlihat bahkan hingga ia tumbuh dewasa, seperti:

  • Sulit dekat secara emosional dengan orang lain.
  • Tidak nyaman saat pasangan atau orang lain menunjukkan perhatian terlalu intens.
  • Lebih memilih menyelesaikan semuanya sendiri.
  • Terlihat kuat dan mandiri, padahal sebenarnya ia takut disakiti atau ditolak.

Mereka bukan tidak punya perasaan. Mereka hanya belajar sejak kecil bahwa menunjukkan perasaan tidak aman.

Kabar Baiknya, Pola Ini Bisa Diubah!

Meskipun avoidant attachment style terbentuk sejak kecil, gaya keterikatan ini bisa diubah secara perlahan. Dengan hubungan yang aman atau “secure”, memiliki pasangan yang suportif, atau meminta bantuan profesional, seseorang bisa belajar kembali bahwa kedekatan itu tidak berbahaya. Begitu pula dengan ibu; kesadaran adalah langkah pertama untuk memperbaiki hubungan dengan anak.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *