"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Menteri Bahlil Dianggap Tidak Cukup Pandai, Pakar Desak Prabowo Gantikan

Kritik terhadap Kinerja Menteri ESDM dalam Pemulihan Listrik Aceh

Pemulihan listrik di wilayah terdampak bencana di Aceh, khususnya setelah banjir bandang yang melanda beberapa daerah, menjadi sorotan utama. Hal ini menimbulkan kritik keras dari berbagai pihak, termasuk pengamat politik dan akademisi senior seperti Profesor Ikrar Nusa Bakti. Ia menilai bahwa pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terkesan terlalu optimistis dan tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Menurut Ikrar, laporan yang disampaikan oleh Bahlil kepada Presiden Prabowo Subianto menyebutkan bahwa lebih dari 90 persen jaringan listrik di wilayah terdampak bencana Sumatra telah kembali berfungsi. Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Masih banyak daerah yang hingga berhari-hari setelah laporan tersebut disampaikan, masih mengalami pemadaman total.

Dalam acara Abraham Samad Speak Up, Ikrar menyampaikan kritiknya secara langsung. Ia menilai bahwa pernyataan Bahlil terkesan berlebihan dan tidak didukung oleh kejujuran penuh mengenai kondisi kelistrikan di Aceh. “Bahlil sampai berbusa-busa menjelaskan bahwa listrik akan menyala dalam hitungan hari. Dia bilang 93 persen, sekian persen, dan seterusnya,” ujar Ikrar.

Ikrar juga menyoroti fakta bahwa sebagian besar pasokan listrik darurat yang diklaim menyala tersebut ternyata bersumber dari generator set (genset) yang bergantung pada bahan bakar minyak (BBM). “Listrik yang katanya sudah nyala itu pakai apa? Genset. Genset pakai apa? BBM. Padahal kita semua lihat sendiri, rakyat Aceh harus antre berkilometer-kilometer hanya untuk membeli satu liter BBM dengan sepeda motor,” ungkapnya.

Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan logika dalam klaim pemerintah. Di satu sisi BBM sulit diakses warga, sementara di sisi lain pemerintah menyebut listrik menyala berkat genset. “Ini jadi bahan tertawaan. Dia bilang hari ini nyala di sini, besok nyala di sana. Tapi ujung-ujungnya dia sendiri mengakui masih ada kabupaten yang belum menyala,” tambah Ikrar.

Selain itu, Ikrar juga menyinggung pemberitaan media nasional yang memperlihatkan secara visual masih banyak wilayah di Aceh yang terjebak dalam kegelapan pascabencana. Berdasarkan kondisi tersebut, Ikrar menilai sudah selayaknya Presiden melakukan evaluasi serius terhadap posisi Menteri ESDM. “Kalau menurut saya, kenapa tidak diganti saja? Masih banyak orang di luar sana yang lebih pandai dan lebih pantas mengurusi sektor ini,” tegasnya.

Klaim Listrik Nyala 97 Persen Diprotes Warga

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto bahwa pemulihan listrik di Aceh telah mencapai 93 persen pada 7 Desember 2025, lalu meningkat menjadi 97 persen sehari kemudian. Namun, pernyataan tersebut justru memicu gelombang protes dari masyarakat.

Pada Senin malam (8/12/2025), sejumlah wilayah di Aceh masih mengalami pemadaman listrik total. Kondisi ini dialami warga di berbagai daerah, mulai dari Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Bireuen, hingga Gayo Lues. Padahal wilayah-wilayah tersebut termasuk daerah yang terdampak banjir dan longsor cukup parah.

Hilmi Irsyadi (20), warga Gampong Pango Deah, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, menyebut listrik di desanya padam sejak Minggu pagi dan belum juga menyala hingga Senin malam. Pernyataan serupa disampaikan Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Kabupaten Bireuen, M Zubair MH. “Malam ini seluruh Bireuen masih gelap, listrik belum menyala,” ujarnya.

Dari Kabupaten Gayo Lues, laporan pemadaman juga datang dari Syarifah Aini, warga Banda Aceh yang sedang menjadi relawan Psikososial Mitigation Disaster Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Aceh. Ia mengungkapkan, karena listrik belum menyala, dirinya harus menuju Masjid Taqwa Muhammadiyah setempat untuk mendapatkan sinyal internet dan kebutuhan air. “Di masjid ada genset, tapi hanya dinyalakan saat waktu salat saja,” kata Aini.

Ichsan MSn, dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, juga mengaku listrik di kawasan Meunasah Krueng, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, sering padam. “Siang sempat nyala, tapi tidak sampai lima jam, malam mati lagi. Sudah dua hari begini,” ujarnya. Hal serupa disampaikan Murni, dosen yang tinggal di kawasan Darussalam, Banda Aceh. Ia mengaku heran karena kondisi nyata di lapangan jauh berbeda dengan klaim Menteri ESDM di hadapan Presiden.

Bantahan Resmi dari Pihak Pemerintah Aceh

Bantahan resmi juga disampaikan Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA. Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikan Menteri ESDM kepada Presiden tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Menurutnya, pemerintah pusat perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan, terlebih di tengah situasi bencana yang sangat memengaruhi psikologis masyarakat.

Permohonan Maaf dari Menteri ESDM

Menanggapi kritik yang berkembang, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia akhirnya menyampaikan permohonan maaf terkait penanganan pemulihan jaringan listrik di Aceh. Dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025), Bahlil menyatakan pemerintah akan meningkatkan upaya dan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. “Kami akan terus fokus dan secara totalitas menggunakan seluruh kekuatan negara untuk mempercepat pemulihan sektor energi, khususnya di Provinsi Aceh,” ujarnya.

Bahlil mengakui bahwa di lapangan terdapat berbagai kendala yang sulit diprediksi, sehingga proses pemulihan tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ia juga menyampaikan keprihatinan mendalam atas bencana banjir bandang yang melanda Aceh serta dampaknya bagi masyarakat. “Jika dalam pelayanan kami masih terdapat kekurangan, kami mohon maaf. Semoga upaya yang dilakukan tim di lapangan dapat mempercepat pemulihan bagi saudara-saudara kita di Aceh,” tutupnya.


Faridah Hasna

Reporter berita yang mengulas peristiwa cepat dan trending topic. Ia gemar memantau media sosial, mencoba aplikasi baru, dan membuat konten singkat. Waktu senggangnya dihabiskan dengan mendengarkan podcast opini. Motto: “Kecepatan harus sejalan dengan ketepatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *