Varian Influenza A (H3N2) Subklade K Terdeteksi di Indonesia
Varian virus Influenza A (H3N2) subklade K, yang belakangan dikenal sebagai “super flu”, telah terdeteksi di Indonesia. Berdasarkan hasil surveilans Kementerian Kesehatan hingga akhir Desember 2025, tercatat sebanyak 62 kasus yang tersebar di delapan provinsi. Sebaran kasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Timur.
Di tingkat global, virus ini juga memicu lonjakan kasus di sejumlah negara. Di Amerika Serikat (AS), setidaknya 7,5 juta orang dilaporkan jatuh sakit sejak musim flu dimulai pada Oktober 2025. Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan jumlah pasien rawat inap akibat flu hampir berlipat ganda dalam satu pekan, meningkat menjadi 19.053 pasien dari sebelumnya 9.944 pasien pada minggu sebelumnya. Selain itu, sekitar 3.100 orang dilaporkan meninggal dunia akibat flu musim ini. Jumlah kematian anak juga mengalami peningkatan, dari dua kasus menjadi lima kasus dalam periode yang sama.
Apa Itu “Super Flu”?
Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa istilah “super flu” bukanlah nama ilmiah atau medis resmi. Sebutan tersebut lebih merupakan istilah populer yang digunakan media dan masyarakat untuk menyebut subklade K, turunan dari virus Influenza A H3N2. Menurutnya, virus influenza terdiri dari empat tipe, yakni influenza A, B, C, dan D. Dari keempatnya, influenza A dan B merupakan jenis yang paling sering menyebabkan wabah musiman pada manusia.
Untuk influenza A, yang paling dikenal ada H1N1 dan H3N2. H1N1 pernah menyebabkan pandemi besar pada 1918, dan sekarang sudah menjadi endemik. Sementara H3N2 juga banyak menginfeksi manusia dan cenderung menimbulkan gejala yang lebih berat. Adapun, subklade K sendiri merupakan turunan lanjutan dari H3N2 yang pertama kali terdeteksi pada Juni 2025, termasuk di Eropa dan Jepang.
Berpotensi Memicu Situasi Serupa Seperti Pandemi Covid-19?
Menurut Dicky, ada beberapa alasan mengapa subklade K dijuluki “super flu”. Pertama, virus ini menyebabkan lonjakan kasus lebih cepat dari pola influenza musiman pada umumnya. Biasanya influenza meningkat di musim dingin, tapi subklade K ini muncul satu bulan atau dua sampai tiga minggu lebih awal dari siklus biasanya. Selain itu, gejala yang ditimbulkan juga dinilai lebih berat, terutama pada kelompok rentan.
Gejalanya lebih kentara, batuk lebih lama, dahak lebih banyak, nyeri menelan lebih parah. Pada lansia dan anak di bawah lima tahun, infeksinya bisa jauh lebih berat. Meski demikian, Dicky menegaskan bahwa tingkat kematian akibat subklade K masih jauh lebih rendah dibandingkan Covid-19 pada awal pandemi. Secara global, memang sudah jutaan orang terinfeksi dan ratusan ribu mengalami kondisi berat. Tapi angka kematiannya masih jauh di bawah Covid-19.
Kelompok Rentan Lebih Berisiko Tertular
Dicky mengingatkan bahwa risiko tertinggi terdapat pada kelompok rentan. Mereka yang berisiko termasuk lansia di atas 65 tahun, orang dengan penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, gangguan imunitas, serta bayi dan anak di bawah dua tahun. Pada kelompok ini, risikonya lebih besar. Banyak yang harus dirawat di rumah sakit dengan durasi rawat inap yang lebih lama, rata-rata tujuh hingga 14 hari.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi alasan lain mengapa subklade K tidak bisa dianggap sebagai flu biasa, meski istilah “super flu” sendiri tidak sepenuhnya tepat secara medis. Dicky juga mengatakan, salah satu persoalan utama dalam menghadapi penyebaran influenza, termasuk subklade K, adalah rendahnya cakupan vaksin influenza, terutama di Indonesia. Literasi vaksin influenza di Indonesia masih sangat rendah. Ini menyebabkan kekebalan komunal tidak terbentuk dengan baik, sehingga virus lebih mudah bersirkulasi dan menginfeksi.
Pentingnya Vaksinasi dan Perilaku Hidup Bersih
Vaksin influenza berperan penting dalam menurunkan risiko keparahan dan kematian, terutama pada kelompok berisiko tinggi. Vaksin bukan hanya melindungi individu, tapi juga menjadi penghalang penularan ke kelompok rentan. Menghadapi potensi peningkatan kasus di awal tahun, Dicky mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk segera melakukan vaksinasi influenza.
Untuk lansia di atas 65 tahun, vaksinasi masih sangat dianjurkan dan belum terlambat. Selain vaksinasi, ia juga mengingatkan pentingnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama di tengah musim hujan dan tingginya mobilitas masyarakat selama liburan. Jika sedang sakit, sebaiknya tetap di rumah. Hindari kontak dengan bayi, lansia, dan orang dengan komorbid. Lindungi keluarga yang rentan.











