"Informasi Segar, Maros Lebih Dekat!"

Ilmuwan Tiongkok Ciptakan Penyimpanan Digital Berbasis DNA, Mampu Menyimpan 362.000 TB Data

Teknologi Penyimpanan Data Baru: DNA Cassette Tape

Sebuah inovasi teknologi penyimpanan data baru yang dikembangkan oleh ilmuwan Tiongkok menawarkan solusi untuk menghadapi ledakan data digital di era kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini dikenal sebagai “DNA Cassette Tape”, sebuah media penyimpanan berbasis DNA sintetis yang mampu menyimpan ratusan ribu terabyte (TB) data dan menjaga keutuhan data selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Cara Kerja DNA Cassette Tape

DNA dikenal sebagai molekul heliks ganda yang tersusun dari empat basa kimia, yaitu adenina (A), sitosina (C), guanina (G), dan timina (T). Di dalam teknologi ini, data digital yang biasanya berupa angka biner (0 dan 1) diubah menjadi urutan basa DNA buatan. Urutan ini kemudian dicetak dan ditempelkan pada pita plastik sepanjang sekitar 100 meter.

Pita DNA ini bisa dibaca dan dikelola seperti sistem file modern menggunakan perangkat mirip pemutar kaset. Pemutar kaset ini memiliki mekanisme yang memungkinkan pencarian lokasi berkas atau file tertentu berdasarkan barcode. Setelah menemukan lokasi tersebut, DNA file dilepaskan dan diurut melalui proses sequencing, lalu diterjemahkan kembali menjadi data digital asli, seperti gambar, dokumen, atau berkas audio.

Selain membaca, sistem ini juga memungkinkan pengeditan data, pemindahan berkas ke lokasi barcode yang benar, hingga penulisan ulang DNA baru secara otomatis.

Keunggulan Daya Tahan DNA Cassette Tape

Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah daya tahannya. DNA pada pita disimpan dalam struktur pelindung bernama metal-organic frameworks (MOFs), yaitu “kandang” molekuler berbahan ion seng yang melindungi DNA dari kerusakan lingkungan. Berdasarkan pengujian, data pada pita DNA ini dapat bertahan sekitar 345 tahun pada suhu ruangan. Jika disimpan pada suhu 0 derajat Celsius, usia data diperkirakan bisa mencapai 20.000 tahun.

Jika pita mengalami kerusakan fisik, peneliti menyebut bahwa media penyimpanan ini masih bisa diperbaiki menggunakan selotip transparan tanpa menghilangkan data di dalamnya.

Potensi Solusi untuk Ledakan Data Digital

Teknologi ini dinilai berpotensi menjadi solusi atas ledakan data digital global, terutama dengan berkembangnya kecerdasan buatan generatif. Model AI membutuhkan penyimpanan data dalam jumlah sangat besar, baik untuk pelatihan maupun arsip jangka panjang. Dengan menggunakan DNA sebagai media penyimpanan, kepadatan informasi yang tinggi dan tidak memerlukan listrik untuk mempertahankan data bisa mengurangi ketergantungan pada data center berskala raksasa.

Masih Mahal dan Lambat

Meski terdengar revolusioner, teknologi pita DNA ini belum siap digunakan secara luas. Sebab, proses pembuatan DNA sintetis masih mahal dan memerlukan peralatan besar. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk mengambil satu berkas atau file dari pita DNA mencapai sekitar 25 menit, jauh lebih lambat dibandingkan penyimpanan digital konvensional.

Kendati begitu, riset ini dinilai sebagai salah satu terobosan pertama yang menunjukkan sistem penyimpanan DNA dengan perilaku layaknya sistem penyimpanan file modern, di mana data bisa dicari, dipindahkan, diubah, dan dihapus secara otomatis.

Masa Depan Teknologi Ini

Para ilmuwan berharap teknologi ini dapat dikembangkan lebih lanjut agar mampu menyimpan data “dingin” (jarang diakses) maupun data “hangat” (sering diakses) dalam format yang jauh lebih ringkas dan berkelanjutan. Dengan perkembangan teknologi ini, masa depan penyimpanan data digital bisa menjadi lebih efisien dan tahan lama.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *