Kasus Pembunuhan Faizah Soraya: Tanda Tanya di Balik Kematian Ibu yang Dibunuh Anaknya
Kasus pembunuhan Faizah Soraya (42) di kediamannya di Jalan Dwikora, Kecamatan Medan Sunggal, terus menyisakan tanda tanya besar. Hingga kini, Polrestabes Medan belum menetapkan tersangka, meski peristiwa tersebut telah mengguncang emosi publik dan memicu perdebatan luas.
Sorotan tajam masyarakat muncul karena dugaan pelaku justru disebut-sebut adalah anak korban sendiri, seorang bocah perempuan berusia 12 tahun berinisial AI, yang masih berstatus sebagai siswi sekolah dasar. Pengakuan yang mengguncang menyebutkan bahwa AI diduga membunuh ibunya ketika korban tengah terlelap tidur. Aksi itu dilakukan dengan kekerasan ekstrem: 20 tikaman yang berujung pada kematian sang ibu di atas tempat tidur.
Motif awal yang mencuat ke publik menyebutkan bahwa tindakan tersebut dipicu oleh rasa sakit hati. AI disebut tidak tahan melihat kakaknya kerap dimarahi oleh sang ibu. Amarah yang terpendam disebut berubah menjadi dendam, hingga berujung pada peristiwa tragis tersebut.
Namun, justru di titik inilah kecurigaan publik semakin menguat. Alih-alih memperjelas, kasus ini justru semakin memancing tanda tanya. Banyak pihak mempertanyakan apakah seorang anak berusia 12 tahun benar-benar mampu melakukan pembunuhan sedemikian brutal seorang diri.
KPAI Ungkap Fenomena Parisida
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa kasus ini masuk dalam kategori parisida, yakni peristiwa ketika seorang anak melakukan pembunuhan terhadap orang tuanya sendiri. Menurut Diyah, parisida bukanlah fenomena tunggal dan memiliki berbagai faktor pemicu yang saling berkaitan.
Faktor-faktor Pemicu Parisida
Diyah Puspitarini memaparkan sejumlah faktor yang kerap melatarbelakangi kasus parisida, di antaranya:
- Faktor emosional, di mana anak belum mampu mengelola dan mengendalikan emosinya dengan baik.
- Faktor ekonomi keluarga yang dapat memicu tekanan psikologis berkepanjangan.
- Kurangnya dukungan sosial bagi anak.
- Pola pengasuhan yang bermasalah dalam lingkungan keluarga.
Motif yang Diungkap: Sakit Hati dan Dendam Terpendam
Dalam kasus AI, motif utama yang terungkap adalah rasa sakit hati dan dendam terhadap sang ibu. AI disebut merasa tidak nyaman dengan perilaku temperamental ibunya yang sering marah-marah, terutama kepada kakaknya dan ayahnya. Perasaan tidak aman dan tekanan emosional tersebut mendorong AI untuk bertindak dengan niat membela kakak dan ayahnya, yang menurutnya kerap menjadi sasaran amarah sang ibu.
Masih Dalam Penyelidikan Intensif Polisi
Kapolrestabes Medan, Kombes Jean Calvijn Simanjuntak, menegaskan bahwa penyelidikan kasus ini masih terus berjalan. Hingga saat ini, polisi telah memeriksa 16 orang saksi, yang terdiri dari saksi keluarga maupun saksi ahli. Dalam penanganannya, kepolisian juga melibatkan berbagai pihak, mulai dari KPAI, Balai Pemasyarakatan (Bapas), hingga psikolog, demi memastikan hak-hak AI sebagai anak tetap terlindungi.
Kemungkinan Pelaku Lain Masih Dikaji
Tak hanya berhenti pada dugaan awal, penyelidikan juga masih mengkaji kemungkinan adanya pelaku lain dalam kasus pembunuhan ini. Seluruh keterangan yang dihimpun akan dirangkai dan dipadukan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) guna memastikan fakta yang sebenar-benarnya. Langkah ini diambil untuk menghindari kesimpulan terburu-buru dalam kasus yang sangat sensitif dan kompleks.
Kasus yang Mengguncang Nurani Publik
Peristiwa ini tak hanya mengejutkan warga sekitar, tetapi juga masyarakat luas. Fakta bahwa terduga pelaku masih sangat muda dan berstatus sebagai siswi SD membuat tragedi ini terasa semakin memilukan. Meski mengejutkan, Diyah Puspitarini menegaskan bahwa kasus parisida bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Peristiwa serupa pernah terjadi di Jakarta Selatan dan sejumlah daerah lainnya di Indonesia.
Fenomena Lama yang Kembali Menghantui
Rentetan kasus tersebut menjadi pengingat bahwa parisida adalah fenomena nyata, yang menuntut perhatian serius dari berbagai pihak mulai dari keluarga, masyarakat, hingga negara agar tragedi serupa tidak terus berulang. Sementara itu, publik masih menanti satu hal yang paling krusial: kejelasan hukum dan fakta sebenarnya di balik kematian Faizah Soraya, yang hingga kini masih diselimuti misteri.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”











