Marosdaily.com – JAKARTA – Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melanjutkan penerapan tarif baru seperti tarif dasar universal 10% lalu bea masuk 60% untuk impor dari China tidak ada hanya saja akan menghambat perekonomian global tetapi juga dapat berdampak signifikan terhadap perekonomian AS, menurut laporan dari Deutsche Bank.
Laporan yang dimaksud menyoroti peperangan tarif ini dapat menyebabkan peningkatan yang lebih tinggi lambat dan juga peluang ketegangan perdagangan. Laporan yang disebutkan mencatatkan data tarif-tarif ini dapat menyebabkan penurunan yang tersebut signifikan pada Layanan Domestik Bruto (PDB) riil Amerika Serikat khususnya jikalau mitra dagang melakukan pembalasan.
Data laporan yang dimaksud juga menyoroti tarif universal 10% diperkirakan akan menghurangi Pendapatan Domestik Bruto sebesar 0,16% hingga 0,50%, dengan kerugian yang lebih tinggi besar diperkirakan terjadi pada skenario pembalasan.
Sebagai contoh, Moody’s memproyeksikan penurunan Produk Domestik Bruto sebesar 1,04% pada 2025, yang tersebut dapat memburuk menjadi 3,61% pada tahun 2028. Peterson Institute memperkirakan penurunan Produk Domestik Bruto berkisar antara 0,36% hingga 0,07% selama satu dekade, tergantung pada tingkat pembalasan.
Di bawah pemerintahan Trump 2.0 kebijakan-kebijakan ini dapat menyebabkan harga-harga konsumen yang dimaksud lebih tinggi tinggi, memanasknya hubungan perdagangan global serta perkembangan perekonomian yang digunakan lebih tinggi lambat.
“Tarif yang mana lebih tinggi tinggi menekan pendapatan riil dengan meninggikan harga, sehingga menurunkan belanja konsumen. Tarif pembalasan dari negara-negara mitra dapat menekan ekspor juga output AS,” tulis laporan yang dimaksud dilansir dari Asian News International, Selasa (28/1/2025).
Meskipun tarif yang disebutkan dapat memberikan pendapatan bagi perekonomian AS, dampak perekonomian secara keseluruhan dapat merugikan sektor yang dimaksud bergantung pada impor lalu ekspor, menciptakan tantangan bagi kegiatan bisnis lalu konsumen. Laporan yang dimaksud juga menambahkan bahwa tarif yang digunakan lebih banyak tinggi yang dimaksud memiliki target impor China akan semakin memperburuk kerugian ekonomi.
Bea masuk sebesar 60% untuk barang-barang China dapat menurunkan Produk Domestik Bruto sebesar 0,19% hingga 0,43%, dengan tarif tambahan untuk Meksiko yang dimaksud akan memperbesar dampaknya. Menggabungkan tarif universal 10% dengan bea masuk 60% untuk impor China dapat menyebabkan penurunan Pendapatan Domestik Bruto hingga 1,2% dengan pembalasan seperti yang disebutkan pada data laporan tersebut.
Meskipun terjadi perlambatan ekonomi, tarif ini dapat meningkatkan pendapatan pemerintah pada jangka pendek. Tarif universal sebesar 10% dapat menciptakan USD2,4 triliun selama 10 tahun tanpa pembalasan, tetapi turun menjadi USD2,0 triliun dengan pembalasan.
Tarif 20% dapat meningkatkan USD3,3 triliun tanpa pembalasan lalu USD2,8 triliun jikalau mitra dagang merespons. Demikian pula, tarif yang menggabungkan dasar 10% kemudian 60% untuk impor China dapat menciptakan Mata Uang Dollar 2,6 triliun tanpa pembalasan juga USD2,2 triliun dengan pembalasan. Jadi, pertimbangan yang tersebut cermat sangat penting untuk menyeimbangkan keuntungan pendapatan dengan konsekuensi ekonomi yang lebih besar luas.











