marosdaily.com – JAKARTA – Target pertumbuhan ekonomi 8% yang diusung oleh pemerintahan Prabowo Subianto dinilai tidak realistis oleh pengamat ekonomi Nailul Huda. Menurut Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), target tersebut terlalu tinggi dan hanya seperti sebuah halusinasi yang sulit untuk dicapai secara alami.
Huda menegaskan bahwa sejak reformasi, Indonesia belum pernah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%. Angka tersebut hanya berhasil dicapai sebelum reformasi, saat terjadi kenaikan harga minyak dunia atau oil bonanza. Namun, setelah itu, pertumbuhan ekonomi tertinggi yang berhasil diraih hanya sebesar 7%. Hal ini juga terjadi karena adanya low based effect akibat pandemi. Namun, Huda yakin bahwa ke depan tidak akan ada lagi low based effect karena kondisi yang sudah kembali normal.
“Jokowi juga menargetkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7%. Namun, kenyataannya kita hanya mampu mencapai pertumbuhan ekonomi rata-rata 5%. Itu saja sudah merupakan pencapaian yang patut disyukuri. Jadi, saya ragu Prabowo berhalusinasi dengan menargetkan pertumbuhan ekonomi 8%. Sebagus apapun timnya, jika secara alami tidak mungkin dicapai, saya rasa sangat berat,” tegas Huda.
Sebelumnya, Prabowo Subianto dalam sebuah forum investasi mengungkapkan bahwa dirinya sering diejek karena menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% dalam lima tahun ke depan. Namun, presiden terpilih itu tetap optimistis bahwa target tersebut dapat dicapai. Prabowo juga menyebut bahwa Indonesia memiliki modal besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
“Jadi, siapa tahu nanti tidak hanya 8%. Bagaimana kalau 9%? Mungkin banyak yang tidak percaya, tapi tunggu saja tanggal mainnya. Saya optimistis. Semakin saya belajar dan dikaji, semakin yakin bahwa target tersebut dapat tercapai,” ujar Prabowo.











